Ketika bos restoran itu keluar, dia melihat Pria tua yang tampak dekil seketika ia berlutut di hadapan.
Para pengunjung sontak terkejut melihat si bos itu. "Pak ini saya. Sudah lama saya mencari bapak. Kalau tidak ada bapak, saya juga tidak akan sesukses seperti sekarang," kata bos tersebut.
Para pengunjung semakin bingung dengan sikap pemilik restoran. Bos itu menegur pegawainya dulu.
Kemudian si bos menyajikan minuman panas untuk pria tua itu, sambil menceritakan kisahnya.
Rupanya si bos utang nyawa pada kakek tua itu. Saat sedang terpuruk dan sering mabuk-mabukan, si bos pernah jatuh pingsan di jalan dan nyaris mati kedinginan.
Ketika sadar ia melihat sehelai selimut kotor menutupi tubuhnya dan di sampingnya tampak seorang lelaki tua.
Lelaki tua itu memberikan kepadanya satu-satu selimutnya untuk menghalau udara dingin. Sementara lelaki tua itu hanya menutupi tubuhnya dengan kardus untuk menghalau udara dingin yang menusuk tulang.
Romi bermaksud memberi uang pada orang tua itu, tetapi orang tua itu menolaknya dengan halus.
Orang tua itu mengatakan, bahwa selama dia bisa bergerak, dia tak akan menambah beban pada masyarakat.
Dia masih bisa makan dengan menjadi pemulung. Para tamu yang mendengarkan ceritanya merasa tersentuh.
Mereka memuji sikap dan tindakan orang tua itu, kemudian mereka patungan dan mengumpulkan dua juta rupiah ditambah 4 juta dari pemilik restoran. Total ada 6 juta, tapi pria tua itu bersikeras untuk tidak menerimanya.
Pegawai yang tadi bersikap kurang ajar pada seorang tua merasa sangat malu dan menyesal. Dia mengusulkan daripada memberi ikan lebih baik memberi kailnya atau dengan kata lain lebih baik membelikan sepeda motor roda tiga bekas yang ada atapnya.
Pertama, karena orang tua itu tidak mau menerima uang sumbangan dan merepotkan orang lain.
Kedua dapat melindungi orang tua itu dari hujan dan memudahkannya memulung.
Bos restoran itu juga mengatakan orang tua itu bisa datang ke restonya untuk mengisi listrik secara cuma-cuma pada motor listrik roda tiganya.