SUARA PEKANBARU - Arwah anak kembar yang ditumbalkan bag-2: Rara dan Riri hanya berharap didoakan ibunya.
Singkat cerita, besoknya itu aku pulang lebih cepat. Itu sekitar jam 10.30, aku udah sampai di warung makan itu.
Aku langsung beli makanan yang ada di situ, yang dia jual di situ. Aku nggak ngeliat si sosok dua anak ini. Aku cari-cari dong ini. Sosok yang dua anak kemarin aku lihat ini kemana.
Apakah itu dari jalanan, atau memang itu penunggu kali, atau memang dari penunggu si warungnya.
Ini itu, sumbernya masih belum aku temukan secara jelas. Ketika aku mau pulang, aku masih penasaran.
Aku menoleh ke arah teras itu. Itu, ternyata ada lagi dua anak kecil itu. Mereka duduk di situ. Tapi kali ini dia duduk sambil noleh ke arah aku. Senyum tapi sambil nangis. Di situlah aku panik.
Aku takut. Ini sebenarnya siapa. Sosok ini tuh siapa. Di situ aku bener-bener kayak mau berkomunikasi. Cuma lokasi warung itu rame banget.
Makanya aku, kayak ya udahlah jalan pulang aja besok. Nanti kita balik lagi. Aku mau cari tahu. Jangan cuma sekali atau dua kali aja.
Aku ngeliat, terus aku berani untuk komunikasi. Dan di situ juga, aku nggak berani secepat itu.
Setelah keesokan harinya, berarti tiga kali aku balik ke situ. Di situ aku ngeliat secara jelas banget dua anak ini.
Yang aku bisa sebutkan, namanya Rara dan Riri. Awalnya aku nggak tahu kalau namanya dia itu Rara dan Riri.
Di situ, dia lagi duduk. Kakinya lagi dimainin ke arah air. Jadi, kakinya itu kayak kena air selokan itu.
Dia tuh lagi berusaha mengambil sesuatu yang ada di situ. Tapi, aku nggak ngelihat itu apa. Aku deketin. Aku deketin supaya dia tuh mau berkomunikasi sama aku.
Ketika aku deketin, reaksinya dia itu cuma duduk senyum sambil meneteskan air mata. Dia nggak ngomong sama sekali.
Dia cuma ngasih gestur tubuh seolah-olah gue nggak apa-apa, kayak dia tuh bener-bener udah ikhlas.
Cuma masih menurut aku, masih belum bisa dia ungkapkan. Makanya dia pendam sendiri, ya mungkin karena belum ada yang bisa melihat dia.
Di situ aku komunikasi sendiri. Aku bilang, kalau kamu mau cerita sama aku, nanti aku kasih sesuatu.
Mungkin sesuatu yang aku kasih ke kamu ini adalah yang kamu cari. Feeling dari hati aku itu adalah mainan yang dia mau ambil dari selokan.
Dia tuh senyum aja. Dia berdiri. Ketika dia berdiri, badannya itu meneteskan air. Itu basah semuanya. Aku pun di situ udah gemeteran. Aku ngerasa energinya dia ini bener-bener gede banget.
Walaupun dia makhluk kecil, tapi dia punya energi yang benar-benar masih tersimpan. Mungkin energi ini belum bisa dia ungkapkan.
Masih besar banget nih energi emosionalnya. Dia di situlah aku berkomunikasi sambil aku menahan nangis.
Aku nggak tega melihat kondisi badannya yang basah semuanya, terus membiru, dia lebam-lebam, rambut dia itu dikuncir dua.
Kondisinya tuh udah lepek, rambutnya basah, perutnya agak membesar, dan urat-urat di bagian perutnya itu udah membiru.
Karena dia pakai baju singlet dan perutnya besar, jadi bajunya agak keangkat. Di situ aku nahan nangis. Aku melihat kondisinya itu benar-benar sedih banget.
Aku bilang besok aku balik lagi ke sini ya. Aku pulang dulu, nanti aku bawain sesuatu buat kamu.
Aku pulang lah sama Aska. Di jalan itu aku nangis. Nggak tahu rasanya tuh sedih banget. Aku nangis sepanjang jalan.
Aku itu inget anak aku sendiri jika seandainya ada di seperti posisi itu. Ini tuh dia kenapa. Pasti ada sesuatu sama dia. Ketika aku sampai di rumah, aku mandi. Setelah aku selesai mandi aku niat mau makan tapi nggak jadi.
Aku bener-bener kepikiran, dan di hati aku tuh udah terasa sakit banget. Kayaknya aku udah nggak bisa untuk makan.
Aku fokus sama hal itu aja, ketika aku masuk ke dalam kamar aku mau istirahat aku ngelihat kaget banget.
Aku bener-bener syok banget, ternyata dua sosok anak ini ada di dalam kamar aku.
Dia posisinya lagi duduk di atas kasur aku, posisinya mirip seperti yang aku lihat tadi di teras warung rumahnya.
Kakinya diguncang-uncang, digoyang-goyang gitu. Tatapannya dia tuh bener-bener sedih banget.
Aku mendekat dan berjongkok di hadapannya. Aku ngomong sama dia. Di situ Aska masuk. Dia bilang kamu kenapa sih kamu ngomong sendiri. Ngomong sama siapa. Gak ada orang katanya.
Kamu nanti aja deh aku ceritainnya. Kamu diem dulu aja. Aku bilang kayak gitu kan udah selesai komunikasi.
Di situ aku nangis banget. Nangis bener-bener nangis. Kalian tau nggak dia cerita dia komunikasi sama aku.
Awalnya, dia bilang sama aku. Dia bilang makasih ibu udah tolong aku. Terus aku bilang, aku tolong apa.
Aku belum tolong kamu apa-apa. Kamu nggak usah bilang terima kasih sama aku ya. Mungkin pertemuannya inilah yang bisa kita kenal.
Akhirnya dia bisa komunikasi. Dia nangis. Di situ aku tanya kondisinya. Kamu kenapa seperti ini. Bajumu basah, badanmu biru bengkak, kamu kecebur ya.
Aku bilang kayak gitu, dia nangis. Kamu cerita ke aku. Kamu tahu aku nggak mungkin melakukan hal-hal yang sejahat ini. Ada apa sama kamu.
Dia jawab ibu aku. Salah apa sama ibu aku. Kenapa aku di seperti ini kan. Aku nggak mau. Aku nggak mau kayak gini Bu.
Aku pengen deket sama Ibu. Pengen disayang sama ibu. Aku gak nakal. Aku nggak jahat. Aku nurut sama Ibu.
Itulah yang dia bilang ke aku. Di situ aku langsung nangis. Anak sekecil ini butuh perhatian, butuh kasih sayang, sekedar itu aja.
Dia pengen, tapi dia nggak pernah dapet kasih sayang dari ibunya. Aku pikir dia meninggal dengan cara kekerasan yang diberikan sama orang tuanya.
Ternyata setelah dia komunikasi seperti itu, dia bilang, aku ini ditumbangkan sama ibuku. Di situlah aku langsung kesel banget.
Siapa ibumu. Aku tanya ibumu yang tukang dagang itu atau bukan? Dia menganggukkan kepalanya. Dia ngangguk. Ternyata benar. Ibunya dia itu si penjual itu. Di situ aku bener-bener kesel banget.
Aku langsung secara spontan teriak, aku nangis karena benar-benar sedih banget. Aku denger kata-katanya dia.
Dia masuk ke dalam badan aku. Dia komunikasi langsung. Dia mau ceritain kejadiannya secara langsung.
Dan itu disaksikan sama Aska, anak aku, dan orangtua aku. Di situ, dia cerita. Bu aku cuma mau disayang sama ibu aku, mau ketemu ibu aku, mau kayak temen-temen aku yang lain.
Mereka semua dapat cahaya, kenapa aku nggak. Kenapa Ibu nggak berikan cahaya itu ke aku. Aku tunggu-tunggu itu, aku mau dapet percaya dari ibu.
Aku awalnya nggak ngerti apa yang dia maksud cahaya. Ternyata, itu adalah doa ketika dia meninggal.
Ibunya gak pernah mendoakan anaknya. Di situ, kita dengarnya semua tuh nangis. Kasihan gitu.