Dalam berbagai sumber sejarah, kata "Siak" sudah ada sejak zaman Hindu-Buddha, dan saat ini telah menjadi nama sungai yang mengandung jejak sejarah dari Kerajaan Siak.
Ada berbagai pandangan mengenai arti kata "Siak," termasuk interpretasi bahwa kata tersebut berarti "pedas" dalam bahasa Tapanuli Selatan, tetapi tidak ada bukti sejarah yang mendukung hal ini.
Selain itu, ada juga yang mengaitkan kata "Siak" dengan kata "Suak," meskipun keduanya memiliki penggunaan dan makna yang berbeda.
"Suak" merujuk pada tempat atau kampung yang dilalui oleh anak sungai kecil di sekitar Sungai Siak.
Sementara itu, "Siak" digunakan untuk merujuk pada nama sungai dan kota itu sendiri, sehingga tidak ada kaitan langsung antara keduanya.
Dalam pandangan masyarakat Melayu, kata "Siak" memiliki keterkaitan erat dengan agama Islam karena daerah Siak dahulu merupakan kerajaan Islam yang dipengaruhi oleh Melaka dan Johor.
Terakhir, ada teori yang mengatakan bahwa "Siak" berasal dari nama tumbuhan perdu yang tumbuh di sepanjang Sungai Siak, yang disebut "siak-siak" dan digunakan oleh masyarakat sebagai bahan obat dan wangi-wangian.
Dalam konteks pemberian nama kerajaan atau raja berdasarkan flora dan fauna, pandangan ini bisa saja benar, seperti halnya banyak kerajaan di Nusantara yang diambil dari nama tumbuh-tumbuhan atau hewan.
Sungai Siak dengan sejarah dan asal-usulnya yang unik, memiliki pesona eksotis dan mitosnya sendiri yang masih diperbincangkan oleh masyarakat. (*)
Baca Juga: Sederet Anak Buah Jokowi Kumpul di Batam, Atas Nama Investasi Rempang Dibuat Memanas hingga Bentrok