ponorogo.suara.com – Ribuan santri Pondok Modern Darussalam, Gontor, Ponorogo mengikuti Yudisium atau penentuan nilai yang dipimpin langsung oleh K.H. Hasan Abdullah Sahal selaku Pimpinan Pondok Modern Darussalam.
Dari pengamatan ponorogo.suara.com jejaring media Suara.com, 2040 santri tampak sumringah saat menggunakan seragam dengan setelan jas hitam dipadu baju warna putih dan peci mendengarkan pesan-pesan dari Pimpinan Pondok
K.H. Hasan Abdullah Sahal menuturkan, saat ini, status santri sudah berbeda, mereka menyandang status guru yang tentunya memiliki tugas lebih dibandingkan saat mereka menjadi santri.
“Kamu bukan anak-anak lagi! Bukan kelas 6 lagi! Sudah ada garis disitu yang membedakan antara santri dengan guru. Guru Itu belajar, mengajar, dan membimbing” ungkapnya.
Dia menambahkan, agar identitas kesantrian tidak berubah dari ajaran-ajaran yang telah digariskan oleh Pondok.
“Ini adalah sejarahmu maka pandai-pandailah membina sejarahmu! Jangan lupa kita punya shibghoh (jati diri) harga mati!” tambahnya.
![Kedua Pimpinan Pondok Pesantren Modern darussalam, Gontor [ponorogo.suara.com/dedy.s]](https://media.suara.com/suara-partners/ponorogo/thumbs/1200x675/2023/04/04/1-screen-shot-2023-04-04-at-33240-pm.png)
Sementara itu, Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor K.H. Amal Fathullah Zarkasyi, menambahkan agar para guru tidak lupa untuk menambah wawasan,
“Setelah ini kalian akan masuk ke peruguruan-perguruan tinggi! Jangan minder jika kamu duduk di kelas bawah saat KMI! Karena kunci dari kesuksesanmu di jenjang ini adalah tekad yang kuat dan rajin” tuturnya.
Label guru yang diberikan kepada alumni baru adalah bentuk perhatian Pondok kepada segenap alumninya. Diharapakan dengan ini mereka tertuntut untuk selalu belajar, dan mengajarkan ilmu yang sudah mereka dapatkan selama ini.
“Dengan segala kelebihan dan kekuranganya dari seluruh kampus, Bapak Pimpinan memberikan kesempatan kepada anak-anakku untuk menambal dan memperbaikinya” tutur Mantan Rektor Universitas darussalam (UNIDA)
Selain menjadi guru di PMDG, beberapa alumni ada yang ditempatkan di beberapa kota di Nusantara seperti di Papua, Aceh, Riau dsb. Mereka dituntut untuk siap berjuang dan ditempatkan dimana saja.