Suara Ponorogo – Keberadaan lumbung padi yang menjadi simbol kearifan lokal dan tradisi budaya masyarakat Indonesia masih terawat dengan baik di Kelurahan Purweroje, Kecamatan Balong, Ponorogo, Jawa Timur.
Warga memanfaatkan lumbung pagi yang sudah dibangun sejak tahun 1970 silam, hingga saat ini. Bahkan tidak hanya satu, keberadaan lumbung padi di Desa ini, berjumlah 6 bangunan.
Sofian, salah seorang warga menyebut kebijakan menyetor gabah kering hasil panen warga ke lumbung memang sudah ada saat dirinya kecil, bahkan aktifitas tersebut masih diteruskan hingga sekarang
Ia mengaku dalam sekali setahun, ia harus menyetorkan gabah seberat 40kg yang nantinya akan digunakan jika dirinya atau warga lainnya sangat membutuhkan karena mengalami musim paceklik atau kekurangan bahan pangan untuk keluarga.
ia memastikan, bahwa sistem ini sangat baik dirasakan oleh masyarakat, pasalnya selain untuk stok ketahanan pangan di musim paceklik, kalau ada warga yang tidak mampu juga bisa menikmati manfaat lumbung padi.
“kegiatan ini sangat baik bagi masyarakat, ini adalah program yang dilaksanakan secara aktif sejak ia masih kecil” ungkapnya
![Suasana Lumbung Padi Desa Purworejo [ponorogo.suara.com/dedy.s]](https://media.suara.com/suara-partners/ponorogo/thumbs/1200x675/2023/05/13/1-unadjustednonraw-thumb-96b.jpg)
Sementara itu, Andre, petugas pencatat lumbung padi menjelaskan bahwa timbunan gabah yang disimpan di lumbung ini akan digunakan kembali kepada masyarakat.
Ia bahkan membuat catatan simpan – pinjam gabah dari masyarakat dengan bunga gabah seberat 13kg untuk pinjaman gabah seberat 40kg yang nantinya bunga gabah-gabah ini digunaan untuk kebutuhan acara Desa.
“setiap anggota wajib andil dalam peminjaman gabah, yang nantinya bunganya yang harus berbentuk gabah bisa digunakan untuk kebutuhan konsumsi acara desa seperti 17an, dll” katanya.
Baca Juga: Dituding Main Judi Sampai Rp200 Juta Melayang, Inara Rusli Skakmat Ibu Virgoun Pakai Bukti Valid
Kepala Desa Purworejo, Didik Subagyo menjelaskan, kebijakan lumbung padi yang sudah berjalan puluhan tahun memang menjadi program yang sangat berdampak terhadap ketahanan pangan warga setempat.
Oleh sebab itu, ia mewajibkan setiap Kepala Keluarga (KK) untuk aktif terlibat dalam program lumbung padi yang nantinya, gabah-gabah dari lumbung bisa dimanfaatkan kembali untuk kebutuhan warga.
Didik menekankan, memang dari dulu lumbung padi tersebut menjaga ketahanan pangan di masa paceklik. Namun untuk masa normal, lumbung padi ini bisa dijadikan KAS desa, seperti untuk konsumsi acara-acara di lingkungan
“sebelum tahun 2000 memang untuk pangan, tapi kalau sekarang, adalah untuk kebutuhan masyarakat seperti membuat tenda warga, meja kursi untuk acara warga dan semua asset warga” ungkapnya
Ia menekankan sudah terlibat dalam menjaga lumbung padi Desa Purworejo sejak masih sangat muda, tentunya sebelum dipilih warga untuk menjadi kepala Desa Purworejo ini
“di desa kami alhamdullilah tiap dusunnya sudah ada bangunan lumbung padi dan aktif, masyarakat bisa terjaga dari musim paceklik khususnya untuk ketahanan pangan” tambahanya
Dengan sangat bermanfaatnya lumbung padi bagi masyarakat, Ia berharap Langkah bijak Desa Purworejo dengan menjaga karifan lokal dan tradisi budaya seperti lumbung padi, bisa menjadi contoh yang baik bagi seluruh Desa tidak hanya di Ponorogo, tetapi juga seluruh di Indonesia