Poptren.suara.com - Tahun depan diperkirakan akan terjadi resesi ekonomi dan masyarakat diberi imbauan untuk bersiap menghadapi resesi. Karena hal tersebut akan berdampak pada banyak kalangan termasuk pengusaha dan UMKM. Namun ternyata, para pengamat mengemukakan ada beberapa bisnis yang dapat bertahan di masa resesi ekonomi.
Bhima Yudhistira, selaku direktur Center of Economic and Law Studies, mengungkapkan bahwa masih ada sektor usaha yang mampu bertahan dan berpotensi menghasilkan keuntungan besar selama resesi adalah bisnis kosmetik. Bahkan saat terjadi krisis dimasa pandemi, bisnis skincare booming dan justru semakin meningkat ketika ada pelonggaran mobilitas.
Bhima : “Sejak depresi ekonomi tahun 1930, krisis 1998 dan 2008, industri kosmetik dan salon kecantikan relatif bisa bertahan. Resesi justru membuat masyarakat lebih memperhatikan penampilan tubuh,”.
Dikatakan oleh Bhima, industri kosmetik tidak hanya terjadi di Indonesia, namun di negara lainnya. Sedangkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) per kuartal I 2020, industri kimia, farmasi, dan obat tradisional termasuk kosmetik tumbuh 5,59 persen.
Bhima juga mengatakan pada tahun 2021, riset e-commerce market insight Compas.co.id menunjukkan transaksi penjualan di e-commerce perawatan kecantikan meningkat sebesar 46,8 persen. Dan transaksi perawatan kecantikkan tersebut di pasar online tembus 40 milyar rupiah.
Pendukung infokom seperti data center, AI, dan cloud computing, Bhima melanjutkan, sektor yang juga tetap 'hidup' saat masa resesi. Kemudian juga Bhima berpendapat meskipun ada winter startup, tapi arah digitalisasi mampu mempercepat adaptasi perusahaan tradisional, yang didukung sistem digital.
Bhima : “Ketiga, konsultasi atau perencana keuangan untuk mengatur keuangan rumah tangga selama resesi. Keempat, konsultasi psikologis atau mental health karena banyaknya pekerja yang stress akibat tekanan pekerjaan dan korban PHK,”.
Selanjutnya, terkait kebutuhan dasar sehingga relatif bertahan terhadap resesi, adalah sektor makanan dan minuman. Bhima menuturkan, sektor makanan dan minuman yang dimaksud adalah yang berbasis pangan lokal. Karena dianggap bisa lebih bertahan dibanding makanan yang bahan baku impornya besar.
David Sumual, selaku Kepala Ekonom Bank BCA, mengungkapkan hal yang sama, yakni sektor konsumsi seharusnya tetap resisten. Menutnya, prospek bisnis makanan menjadi menarik bukan karena ancaman krisis pangan, tapi mayoritas ekspor Indonesia bukan berasal dari bahan makanan.
Baca Juga: Ancaman Resesi Ekonomi, Kurangi Investasi Saham untuk Investor
David : “Seiring dengan pemulihan, apalagi sektor restoran, hotel dan rekreasi menjadi peluang bisnis. Lalu, sektor komoditas dan batu bara juga salah satu yang cukup baik,”.
David menilai tidak ada spesifik sektor bisnis yang rentan terhadap ancaman resesi, karena perekonomian Indonesia didominasi oleh sektor domestik.
Lanjut David : “Permintaan global dari negara-negara maju mungkin akan melemah dari tahun ini, bukan minus. Permintaan ekspor akan melambat pada beberapa sektor tertentu,”.
Menurut David, sektor bisnis yang rentan adalah elektronik dan manufaktur karena menjadi barang ekspor. Sedangkan Indonesia bukan penghasil barang elektronik dan kebutuhan rumah tangga.