Poptren.suara.com - Resesi ekonomi kini menjadi 'hidangan' yang menakutkan bagi seluruh dunia, termasuk Indonesia. Rentetan gelombang ekonomi akibat perang Rusia dengan Ukraina membawa dampak kenaikan suku bunga, inflasi, dan krisis pangan dunia, sehingga dunia kini menghadapi resesi global.
Ivan Rosanova, seorang analis Bina Artha Sekuritas, mengamati bahwa ancaman resesi akan berdampak pada pasar modal Indonesia. Contohnya peningkatan tekanan jual saham yang disebabkan keluarnya dana asing di tengah tren kenaikan suku bunga. Penjualan saham juga memanfaatkan kondisi penguatan dolar untuk berinvestasi di negara asal, seperti Amerika.
Ivan : “Selain itu juga potensi antisipasi pelaku pasar di tengah ketidakpastian untuk mengurangi posisi investasi di aset berisiko, seperti saham dan didorong tujuan pemenuhan kebutuhan yang meningkat pasca kenaikan BBM,”.
Untuk itu, Ivan menyarankan bagi para investor paling tidak mengurangi porsi investasi saham. Apabila terjadi aksi jual secara besar-besaran, maka investor harus siap menampung saham-saham bagus yang selama ini sudah teruji dinamika kondisi ekonomi di harga yang lebih murah.
Lanjut Ivan : “Mengurangi posisi di saham sehingga ada posisi cash yang dalam kondisi saat ini sangat dibutuhkan untuk berjaga-jaga,”.
Ivan menilai sektor saham di luar konsumsi primer akan lebih mengalami dampak dari resesi, karena masyarakat lebih memprioritaskan kebutuhan pokok nantinya.
Saham UNVR, INDF dan AALI yang masih terkait dengan kebutuhan pokok yakni minyak goreng, begitu yang direkomendasikannoleh Ivan.
Paulus Jimmy, Analis Sucor Sekuritas, mengungkapkan resesi bisa menyebabkan koreksi besar untuk bursa saham. Maka dari itu investor perlu terus mengetahui perkembangan ekonomi global, serta kebijakan bank moneter karena sangat mempengaruhi ekonomi ke depannya.
Jimmy juga menyebut saham sektor komoditas rawan terkoreksi jika demand turun akibat adanya resesi. Saham dari sektor teknologi juga rawan terkoreksi di saat suku bunga acuan tinggi.
Baca Juga: Tentang Resesi dan Cara yang Bisa Kita Lakukan untuk Menghadapinya
Jimmy : “Tidak harus (mengurangi porsi investasi), lebih tepatnya rebalancing portfolio. Jadi mengurangi porsi saham yang cenderung volatile,”.
Jimmy melanjutkan, saham yang cenderung defensif dan memiliki track record dividen yang baik bisa dijadikan pilihan, seperti beberapa saham consumer goods biasa termasuk defensif dan rajin bagi dividen.