Suara.com - Kabar baik datang dari dunia medis Tanah Air. Tahun ini, unit stroke di Rumah Sakit Premier Jatinengara Jakarta baru saja meraih penghargaan World Stroke Organization untuk kedua kalinya untuk kategori WSO Angel Awards.
Lewat penghargaan itu, unit stroke di RS Premier Jatinegara dianggap memiliki komitmen dalam penanganan stroke yang mumpuni.
Beberapa poin yang dinilai adalah kelengkapan fasilitas diagnostik, kompetensi tim dokter serta penanganan dan kecepatan dalam penanganan stroke sejak pasien datang hingga mendapatkan perawatan.
World Stroke Organization sendiri telah menganugerahkan penghargaan platinum award kepada RS Premier Jatinegara pada 2020 ini.
Di tahun sebelumnya, rumah sakit di kawasan Timur Jakarta tersebut juga telah mendapatkan penghargaan gold award dan menjadi satu-satunya rumah sakit swasta di Indonesia yang berhasil meraih penghargaan tingkat dunia.
"Dengan diraihnya platinum award dari World Stroke Organization tentunya menegaskan bahwa kualitas penanganan stroke di RS Premier Jatinegara telah diakui secara global yang artinya tidak kalah dengan rumah sakit di luar negeri. Stroke Unit di RS Premier Jatinegara bersanding dengan beberapa rumah sakit dari beberapa negara lainnya yang juga mendapatkan penghargaan serupa seperti dari Mexico, India, dan Korea Selatan” Ujar dr Levina Avissa, Operation Manager RS Premier Jatinegara.
Di sisi lain, Dr Sukono Djojoatmodjo, seorang Spesialis Saraf melalui siaran tertulis yang diberikan kepada Suara.com menjelaskan bagaimana penanganan stroke perlu mengutamakan kecepatan dan ketepatan.
Dengan begitu, hasil yang didapat pasien pasca-dilakukan terapi pengobatan dapat diperoleh secara maksimal, yang pada akhirnya dapat meningkatkan harapan dan kualitas hidup pasien pasca-serangan stroke.
Sukono juga menambahkan bahwa tim stroke unit di RS Premier Jatinegara memiliki standar 30 menit door to needle dalam penanganan stroke.
Dalam 30 menit semenjak pasien tiba di rumah sakit, pasien harus segera mendapatkan terapi atau tindakan sehingga dapat meminimalisir kecacatan.
Itu juga dilakukan guna meningkatkan harapan hidup pasien. Karena dalam penanganan stroke, petugas medis harus berkejaran dengan waktu.
Semakin lama penanganan stroke sejak terjadinya serangan, maka dapat berakibat semakin fatal. Apalagi jika telah melewati masa golden period yatu 4,5 jam setelah terjadinya serangan.