facebook

Platform Ini Buka Peluang Kerja dan Keuangan Bagi Pekerja Kerah Biru

Vania Rossa
Platform Ini Buka Peluang Kerja dan Keuangan Bagi Pekerja Kerah Biru
Pramusaji, salah satu pekerja kerah biru. (Elements Envato)

Selama ini, pekerja kerah biru tidak memiliki banyak akses untuk mendapatkan peluang pekerjaan yang terorganisir dan berjangka panjang.

Suara.com - Di Indonesia, 60 juta pekerja kerah biru mencakup lebih dari 70% pekerja berbayar dan menyumbangkan 20% pada PDB. Namun, mereka tidak memiliki banyak akses untuk mendapatkan peluang pekerjaan yang terorganisir dan berjangka panjang. Hal ini pun membuat mereka semakin terpinggirkan secara ekonomi.

Pekerja kerah biru kerap berganti pekerjaan dua sampai tiga kali setahun, hidup dari gaji ke gaji, atau bahkan dari sumber pendapatan yang tidak rutin. Kurangnya kredensial pekerjaan yang sesuai juga membuat layanan dan produk keuangan formal tidak dapat diakses oleh mereka, dan hal ini memaksa mereka untuk beralih ke sumber pinjaman informal dengan suku bunga tinggi pada saat-saat kritis dalam hidup mereka.

Untuk mencari pekerjaan, pekerja kerah biru harus bergantung dari informasi yang tersebar dari mulut ke mulut atau dari kanal online yang tidak memverifikasi keaslian pekerjaan itu sendiri dan pemberi kerjanya. Hal inilah yang sering mengakibatkan para pencari kerja tersebut mengalami penipuan.

Di lain sisi, para pemberi kerja tidak memiliki cukup akses pada sebuah platform yang dapat diandalkan untuk membantu mereka mengidentifikasi, memverifikasi, dan mempekerjakan para pekerja. Perekonomian pekerja kerah biru memang memiliki peluang besar, namun sangat kompleks dan terfragmentasi.

Co-Founder Nelly Nurmalasari, Henry Hendrawan, dan Ghirish Pokardas memahami peluang ini untuk menciptakan nilai bagi puluhan juta pekerja Indonesia. Mereka mendirikan Pintarnya di tahun 2022, sebuah platform satu atap yang membantu kelas pekerja Indonesia yang kian meningkat untuk mendapatkan pekerjaan, menjadi lebih dapat dipekerjakan dan mengakses layanan keuangan yang lebih baik.

Sebelum mendirikan Pintarnya, Nelly dan Henry merupakan eksekutif senior di Traveloka, di mana mereka membangun produk-produk teknologi dan finansial, dan menumbuhkan jutaan konsumen di kawasan Asia Tenggara. Sedangkan Ghirish adalah seorang eksekutif senior di KKR yang bekerja dengan perusahaan di bidang layanan finansial.

“Dulu saya mempekerjakan staf salon kecantikan saya melalui platform iklan baris online atau referensi para pekerja lain. Sangat sulit untuk menyaring dan memverifikasi kandidat dan pengalaman kerjanya dengan cepat. Di sisi lain, saya juga menyadari bahwa untuk para pencari kerja, sangat menjengkelkan untuk mencari dan melamar pekerjaan, lalu mereka menjadi korban penipuan dalam prosesnya," ujar Nelly Nurmalasari, Co-Founder dan CEO Pintarnya.

Pintarnya bertujuan untuk mengatasi tantangan-tantangan tersebut untuk kedua belah pihak. Dan mengingat saat ini 80% dari populasi memiliki smartphone, Nelly pun berpikir bahwa ini saat yang tepat untuk meluncurkan sebuah platform digital. Dan didukung juga dengan perubahan perilaku yang dipicu oleh pandemi Covid-19 baru-baru ini.

Lalu, bagaimana cara Pintarnya menghubungkan pencari kerja dengan peluang kerja?

Aplikasi Pintarnya. (Dok. Pintarnya)
Aplikasi Pintarnya. (Dok. Pintarnya)

Setelah para pencari kerja mendaftar dan membuat sebuah profil, Pintarnya akan menggunakan informasi yang diberikan mereka untuk merekomendasikan peluang pekerjaan yang relevan untuk mereka, mempertimbangkan berbagai parameter termasuk namun tidak terbatas pada persyaratan pekerjaan, lokasi dan keahlian mereka.

Pendekatan ini memberikan akses tidak hanya ke prospek saat ini dan yang terverifikasi, tetapi juga prospek yang dikurasi. Lalu, Pintarnya akan bekerja bersama si pemberi kerja untuk mengkualifikasi dan rekrut pekerja kerah biru yang tepat.