JAKARTA – Motif utama pembunuhan Brigadir J hingga kini belum terungkap. Pihak kepolisian memutuskan tidak mengungkap ke publik dengan alasan sangat sensitif.
Namun demikian, seiring waktu fakta demi fakta terus terungkap kasus pembunuhan di rumah dinas mantan Kadiv Propam Polri Irjen Ferdy Sambo tersebut.
Faktar terbaru rupanya saat itu jelang eksekusi Brigadir J diadakan rapat kecil di rumah pribadi Irjen Ferdy Sambo di Jalan Saguling III, Kompleks Pertambangan, Duren Tiga, Jakarta Selatan.
Rumah tersebut hanya berjarak sekitar 500 meter dari rumah dinas lokasi pembunuhan Brigadir J.
Mereka yang terlibat dalam rapat tersebut diantaranya Irjen Ferdy Sambo, Putri Candrawathi, Bripka Ricky Rizal (RR).
Namun faktar terungkap, bahwa tangis Putri Candrawathi, istri Ferdy Sambo, pecah dalam rapat itu. Konon katanya rapat tersebut membahas skenario melenyapkan Brigadir J. Apalagi Irjen Ferdy Sambo, yang menjadi otak rencana pembunuhan Brigadir J, dalam keadaan marah.
Rapat di rumah pribadi itu digelar beberapa jam sebelum eksekusi atau hanya beberapa saat usai Putri Candrawathi (PC) dan rombongan ajudan termasuk sopir Kuat Maruf baru pulang dari Magelang.
"Jadi memang, ada proses waktu di lantai tiga, ketika klien saya dipanggil ke dalam suatu ruangan meeting, ruangan rapat, bahwa ternyata memang sudah ada Ibu PC ini membicarakan mengenai tentang almarhum Yosua," ujar Ronny saat wawancara dengan TV One, Jumat.
Dalam hal rapat persiapan eksekusi Brigadir J itu, Bharada E disebutkan hanya menerima perintah eksekusi. Ia tidak ikut dalam perbincangan perencanaannya.
Baca Juga: Kasus Cacar Monyet Pertama di Indonesia Ditemukan, Kemenkes Bilang Begini
Di dalam ruangan di lantai tiga itu ada Putri Candrawathi, Ferdy Sambo dan Bripka Ricky Rizal (RR), sesama ajudan seperti Bharada E.
Bharada E tidak mengetahui banyak perangai kedua bosnya itu. Namun dalam situasi pembahasan ekesekusi Brigadir J, ia melihat Putri Candrawathi menangis. Sedangkan Ferdy Sambo dalam keadaan marah.
Seperti diketahui, yang terjadi setelahnya adalah Brigadir J benar-benar dieksekusi di rumah dinas Kompleks Polri Duren Tiga, jakarta Selatan, yang jaraknya sekira 500 meter dari Saguling III.
Bharada E melaksanakan tugasnya sebagai eksekutor. Hampir satu tahun dinas bersama sebagai ajudan, Bharada E meletuskan beberapa tembakan ke Brigadir J.
Sementara Ferdy Sambo membuat rekayasa baku tembak dengan menembakkan peluru ke dinding memberikan efek. (*)