KARAWANG – Dalam sepekan terakhir harga telur di sejumlah daerah di Jawa Barat mengalami kenaikan yang cukup signifikan. Termasuk di wilayah Karawang, harga telur ayam melejit tembus Rp 32 per kilogram.
Namun demikian, melonjaknya harga telur tak membuat para peternak di wilayah Karawang untung berlipat-lipat. Bahkan beberapa diantaranya nyaris bangkrut, karena tingginya biaya pakan.
Seperti yang dituturkan Dede Ismail. Peternak ayam petelur asal Desa Cintalanggeng, Kecamatan Tegalwaru, Kabupaten Karawang ini mengungkapkan penyebab harga telur di wilayahnya melonjak tajam.
Menurut Dede, kenaikan harga telur hingga Rp32 ribu per kilogram merupakan harga tertinggi dalam beberapa pekan terakhir. Namun demikian, dirinya mengaku belum merasakan untung yang tinggi pula. Malah sebaliknya, ia justru harus putar otak agar beban biaya produksi tak menghancurkan usahanya.
Menutnya, kenaikan harga telur lebih disebabkan naiknya harga konsentrat (pakan jadi) yang cukup tinggi, bahkan membebani biaya produksi.
"Sebenarnya naik ini karena konsentrat, mulai naiknya itu semenjak dua minggu lalu. Dan memang ini yang tertinggi mencapai Rp 375 ribu per karung," kata Dedei dikutip dari Detik.com.
Untuk harga konsetrat per karung seberat 50 kilogram, kata Dede, dulu hanya sekitar Rp 300 ribu dan itu sudah diantarkan. Namun, kini harga per karung mencapai Rp 375 ribu dan belum termasuk ongkos kirim.
Untuk menyiasati harga pakan yang melonjak, Dede menanam jagung di lahan samping kandangnya. Ia pun memanfaatkan pupuk hasil olahan kotoran ayam di kandangnya.
"Saya tanam jagung, karena jatuhnya lebih murah. Saya mengakali pakan ini dengan cara mencampurkan bubuk jagung," ungkapnya.
Baca Juga: Pasca Kecelakaan Muat Truk Trailer, Begini Arahan Ridwan Kamil untuk Wali Kota Bekasi
Untuk harga pakan jagung, saat ini mencapai Rp 300 ribu per kuintal. Angka itu 50 persen lebih murah dari harga pakan konsentrat.
Dengan cara itu ia mampu memangkas biaya produksi hingga 30 persen imbas dari kenaikkan harga pakan tersebut.
"Supaya usaha tetap jalan aja, kita hemat biaya produksi meskipun sebenarnya jumlah keuntungan tetap lebih kecil dari harga normal," tuturnya.
Soal harga telur yang dijualnya, Dede mengakui menjualnya dengan harga lebih mahal dibanding biasanya. Hal itu mau tidak mau dilakukan karena biaya produksi yang naik. (*)