PURWOKERTO.SUARA.COM, BANYUMAS – Jagad Lengger Festival (JLF) 2022 telah usai. Selama tiga hari sejak 25-27 Juni 2022 di Pendhapa Si Panji, Banyumas, sejumlah rangkaian acara telah dilalui. Bagi yang melewatkan even ini, berikut rangkuman acaranya selama tiga hari berturut-turut.
Hari Pertama
Semua acara di hari pertama adalah representasi dari tradisi lengger klasik di masa lalu. Yang dipilih adalah topik, film, dan pertunjukan dari lengger di dekade 1980-an di Banyumas. Pengunjung dibawa kembali ke masa lalu untuk tahu seperti apa lengger dulu hadir di masyarakat.
1. Seminar "Refleksi dan Catatan Kaki Lengger" dengan pemateri Otniel Tasman, Direktur JLF dan penari lengger dan Yustina Devi, Dosen dan peneliti lengger.
Seminar hari pertama membicarakan soal pemaknaan lengger. Bagaimana publik melihat dan memaknai lengger, serta yang lebih penting bagaimana Otniel Tasman sebagai penari lengger memaknai tubuh dan wacana soal lengger sendiri. Otniel menyatakan bahwa diskusi soal identitas gender pada lengger sesungguhnya adalah isu yang sangat permukaan, sebab lengger menyimpan banyak kedalaman isu lain untuk dikaji.
2. Pemutaran Film "Leng Apa Jengger" dengan pemateri Bowo Leksono, Direktur CLC Purbalingga. Film ini merupakan film dokumenter yang menyorot kehidupan maestro lengger Dariah, sejak kecil hingga masa tuanya. Dariah adalah sosok representatif dari konsep nyawiji (peleburan) pada lengger.
3. Pertunjukan Paguyuban Langensari & Narsihati ft. Sukendar
Paguyuban Langensari melangsungkan pertunjukan di amphiteatre terbuka Pendhapa Si Panji. Meski format klasik mereka tampil rancak dan semarak. Sementara malamnya tampil Narsihati dan Sukendar. Keduanya merupakan legenda hidup tradisi lengger Banyumasan. Penampilan prima dan skillful Sukendar berpadu asik dengan Narsihati yang sering melempar guyonan interaktif. Membawa nuansa pesta lenggeran Banyumas tempo dulu.
Hari Kedua
Di hari kedua, konten festival berfokus pada lengger masa kini. Dalam konteks, bagaimana tradisi lengger tampil di berbagai produk kebudayaan populer masa kini, dan bagaimana akhirnya hal-hal itu membentuk citra lengger masa kini di publik.
1. Seminar "Lengger dalam Budaya Tutur, Teks, ke Layar"
Seminar ini menghadirkan Garin Nugroho, sutradara dan Ahmad Tohari, penulis. Pada sesi pagi di ruang seminar ini, Garin Nugroho hadir secara daring sementara Ahmad Tohari hadir di venue.
Dibahas bagaimana proses kreatif Ahmad Tohari selama menulis “Ronggeng Dukuh Paruka”, serta pengalaman apa saja yang ia lalui untuk menciptakan karakter Srinthil dan Rasus yang legendaris itu.
Garin juga menyatakan kekagumannya pada Ahmad Tohari, menurutnya hanya Ronggeng Dukuh Paruk novel yang bercerita secara detil tak hanya soal nilai di tradisi lengger tapi juga aspek ekologisnya.
2. Pemutaran Film "Kucumbu Tubuh Indahku" arahan Garin Nugroho
Sesi diskusi menarik sebab selain Garin Nugroho, Rianto (penari lengger yang cerita hidupnya jadi pondasi cerita film ini) hadir secara daring.
Banyak dibahas tentang proses kreatif Garin Nugroho, tentang trauma tubuh yang dialami seorang penari lengger, serta bagaimana Rianto memaknai hidupnya sebagai penari lengger. Ia mengatakan, tak penting membedakan apakah seorang lengger itu laki-laki atau perempuan.
2. Pertunjukan Calengsai (Calung, Lengger, Barongsai) dan Rumah Lengger
Penampilan memukau juga dihadirkan Calengsai yang seolah menabrakkan kegarangan barongsai dengan gemulainya lengger.