PURWOKERTO.SUARA.COM, PURBALINGGA - Gudeg boleh saja menjadi milik Yogyakarta. Namun soal rasa, tidak ada otoritas yang berhak mengklaim. Begitupun dengan gudeg Pawon Bu Puji di Purbalingga yang rasanya nylekamin luar biasa.
Apa yang membuat gudeg Pawon spesial dan berbeda dengan gudeg lainnya? Gudeg Bu Puji memiliki ciri khas dimasak dengan menggunakan kayu bakar, sehingga dari segi rasanya jauh berbeda dengan gudeg yang dimasak menggunakan kompor gas atau yang lainnya.
Kelezatan rasanya tergambar dari pengakuan Dian Sulistiyono, salah satu pelanggan Gudeg Pawon yang melegenda ini. Ia mengatakan bumbunya terasa gurih. Manis asinnya pas, cocok untuk lidah wong Mbanyumasan.
Teknik memasaknya yang menggunakan pawon memengaruhi aroma gudeg. Eksotika arang kayu-kayu yang menjadi abu menambah kekayaan citarasa gudeg ini.
“Rasa manisnya masih terasa khas jogjanya, nyamplenge pol. Tidak usah jauh-jauh ke Jogja untuk beli gudeg, di Purbalingga juga ada,” katanya.
Gudeg Pawon hadir di Bilangan Letkol Isdiman Purbalingga. Bu Puji, si empunya, berjualan dengan menggunakan gerobag dorong. Untuk menjamu para pelanggan disediakan bangku panjang dan kursi lengkap dengan mejanya.
Gudeg pawon makin spesial karena disajikan dengan beralaskan daun pisang dan piring anyaman rotan. Tampilan gaya tradisional dalam penyajiannya menjadi semakin kuat.
Maesroh, salah satu pegawai Bu Puji selalu cekatan menyajikan nasi gudeg ke piring rotan kepada para pelanggannya. Sebab, antrean semakin panjang jika penyajian tak cukup cekatan.
Munaroh mengatakan, pangkalan di Jalan Isdiman ini merupakan cabang Gudeg Bu Puji di Pasar Mandiri Purbalingga. Ia mangakal di tempat itu sudah sekitar dua tahun. Hal tersebut karena Jalan Isdiman merupakan salah satu jalan yang ramai dilalui kendaraan.
Baca Juga: Pemprov Jateng Gratiskan Bea Balik Nama Kendaraan, Begini Tata Caranya
Gudeg ini mulai buka jam 6 pagi sampai jam 12 siang. Sedangkan di pasar Mandiri mulai buka pukul 5 pagi. Setiap harinya Rp 500-600 ribu dikantonginya dari hasil penjualan gudeg Pawon. Sedangkan di hari Sabtu dan Minggu bisa mencapai Rp 1,7 juta, hal tersebut dikarenakan banyaknya masyarakat Purbalingga yang melaungkan waktu libur untuk kulineran.
“Jika Sabtu-Minggu harus nambah porsi dari biasanya,” kata Maesaroh sambil menuangkan sayur kulit rambak. Gudeg Bu Puji, satu porsinya dijual antara Rp 17 ribu-22 ribu, itu tergantung dari lauknya, apakah menggunakan tahu bacem, ayam suir, ayam paha, sayur krecek atau daun singkong.