PURWOKERTO.SUARA.COM - Fenomena flexing melejit seiring kasus sejumlah pejabat tanah air di sejumlah kementerian ramai ditangkap. Hal ini terungkap efek dari keluarga mereka melakukan pamer harta di akun media sosial.
Banyaknya pejabat ditangkap akhir-akhir ini, bukannya membuat masyarakat taubat dan sadar diri, namun kian hari jumlahnya kian parah. Selalu ada saja yang terciduk melakukan flexing ini.
Termasuk kasus yang tengah disorot publik adalah pegawai Ditjen Pajak yang anaknya menjadi tersangka penganiayaan. Anak pegawai pajak ini terlihat mentereng lantaran gayanya yang glamor. Misalnya mobil yang digunakan sang anak bernilai fantastis.
Mobil memang merupakan hal umum yang dimiliki seseorang. Rasa puas dan bahagia muncul ketika bisa membeli mobil yang diinginkan. Mobil bagus pun dapat membuat mood jadi baik.
Barang mewah sesungguhnya dilakukan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari atau sekedar untuk memuaskan diri dengan barang-barang yang diinginkan, misalnya barang branded.
Namun apa jadinya jika berbelanja atau memiliki barang branded, berkelas nan mewah itu ditujukan dengan niat pamer, agar diketahui memiliki sesuatu yang lebih di mata publik.
Menurut pendapat salah satu pakar bisnis, Profesor Rhenald Kasali, flexing dilakukan sebenarnya adalah sebagai bagian dari taktik marketing atau pemasaran.
Tujuan awal flexing adalah membangun kepercayaan kepada customer, sehingga banyak orang tertipu dan menaruh uang mereka pada para pelaku.
Namun, senyatanya flexing lebih dari itu. Ajang pamer harta untuk bersenang-senang alias ersuka riak.
Baca Juga: Jadwal One Way, Contra Flow dan Ganjil Genap Arus Mudik Lebaran 2023
Terhadap persoalan ini secara psikologis, terdapat alasan seseorang gemar pamer harta di media sosial. Berikut penyebab seseorang pamer kekayaan sebagaimana dikutip dari Antara pada Sabtu 8 April 2023.
1. Pelaku flexing menduga orang lain akan terkesan
Apa yang dilakukan oleh seseorang yang gemar flexing sesungguhnya dikategorikan sebagai orang yang gemar membual alias bragging. Australian Institute of Professional Counselors menyebut jika membual merupakan tindakan menyombongkan sesuatu secara berlebihan.
Penyebab sikap membual ini salah satunya adalah sang pembual mengira orang lain akan terkesan dengan apa yang dimilikinya. Ia juga merasa orang lain akan terkagum-kagum dengan pencapaiannya.
Dengan memamerkan barang-barang branded yang harganya kadang tidak masuk akal ini serta menyombongkan diri dengan keberadaannya, para pelaku yang gemar flexing akan merasa senang.
Kesenangan tersebut mirip dengan stimulus efek dopamin. Zat ini merupakan senyawa kimia yang terdapat di dalam tubuh untuk meningkatkan suasana hati. Efeknya, aksi pamer-pameran ini cenderung membuat ketagihan dan tidak pernah berhenti melakukannya.