Di acara ini, sebuah pertunjukan seni meliputi budaya, musik, dan drama disulap dalam satu misi berbasis gerakan bersama di sekolah untuk meminimalisir sampah dan barang bekas yang tak terpakai. Karena itulah sejak tiga bulan lalu siswa Puhua bersama seluruh rekan-rekannya menggerakkan satu sekolah mengumpulkan puluhan botol bekas hingga mencapai ribuan.
Di setiap kelas, kantin, ruang guru, ruang karyawan, dan setiap pusat keramaian yang ada di sekolah dikumpulkan dalam sebuah dus besar lengkap dengan tulisan seruan pengumpulan botol plastik.
Selin bersama seluruh rekannya menaruh kardus bekas berukuran besar lengkap dengan panduan agar semua warga sekolah membuang botol plastik bekas pakai yang sudah dibersihkan dan dikeringkan ke dalam dus tersebut.
Tujuan gerakan pengumpulan botol bekas ini juga ditulis jelas sebagai bentuk partisipasi seluruh siswa untuk membangun galeri dan dekorasi di acara tahunan Puhua Fest 2023.
Setiap hari selama tiga bulan seluruh tim OSIS Secondary (SMA) memilah dan membagi dua bagian antara tutup dan botolnya. Hingga menjelang dua minggu sebelum acara festival berlangsung, seluruh botol terus terkumpul hingga mencapai 2 ribu lebih untuk siap diolah jadi beragam dekorasi galeri dan panggung.
Bergerak Ajak Siswa Atasi Masalah Lingkungan
Berani membangun mimpi menjadi kunci siswa-siswi Sekolah Tiga Bahasa Putera Harapan atau Puhua School mampu menembus batas minat dan bakatnya di berbagai bidang. Salah satunya melalui Puhua Fest 2023. Kegiatan yang diselenggarakan satu tahun sekali di Puhua Secondary School ini tak sekedar luapan ajang ingar-bingar belaka.
Setiap siswa terlibat secara aktif di dalam pola roda organisasi yang lekat dengan pembelajaran sebagai kunci kemajuan tiap individu. Mulai dari mencari ide bersama, belajar berdialektika dalam kelompok, hingga mencari kata sepakat atas sebuah konsep yang logis. Tahap demi tahap dilalui sebagai proses pendewasaan dalam kemajemukan pikiran, ide, rasa, hingga selera.
Melalui festival yang sarat ide ini, siswa siswi Puhua juga ditantang mampu mencari dana kegiatan melalui berbagai pola kreativitas di antaranya membuat makanan layak jual (enterpreunership), menjadi kurir pesan dan hadiah (hospitality), hingga mengikuti berbagai bazar (festival hoppers) dan gigih mencari dukungan (sponsorship) bagi suksesnya kegiatan ini.
Melawan keterbatasan, keluar dari zona nyaman, hingga siswa menemukan bakat dan kemampuan tersembunyi adalah cara sekolah memantik setiap kehebatan siswa dari nol hingga menjadi sebuah karya yang terimplementasi nyata.
Baca Juga: Viral Video Syur Disebut-sebut Karyawati Korban Staycation, Netizen Cari Linknya
Pendek kata, setiap siswa jadi berani membangun mimpi, lalu mencari ide dan caranya, gigih memperjuangkan tantangan demi tantangan, dan mengeksekusinya hingga terwujud.
Di sini serangkaian ide pementasan drama yang skenarionya dilombakan, ditulis siswa sendiri lalu dipilih yang terbaik dalam puncak acara akan menjadi suguhan pamungkas sebuah drama kolosal. Tata gerak, dekorasi, dialog, kostum hingga alur dan efek panggung akan menjadi bukti betapa hebatnya sebuah kerjasama tim mewujudkan karya besar.
Dan yang tak kalah hebat, siswa Secondary di bawah bimbingan Pak Sugiryo dan Ibu Lidya Yulinda Mekar Sartika ini akan meluncurkan buku antologi yang berisi cerita fiksi, artikel lepas, hingga pentigraf atau beken disebut cerpen tiga paragraf yang secara perdana diterbitkan oleh Puhua Secondary School dari Literacy Club di Puhua Activity Village. Kedua judul buku tersebut adalah All About Dreams yang ditulis 43 siswa dan buku berjudul Look- Dengar yang ditulis sembilan siswa.
Ketiga acara pamungkas dalam festival ini turut diramaikan dengan kehadiran bintang tamu Essa X The Juno, bazaar makanan, dan terbuka bagi sekolah lain untuk hadir menyaksikan seluruh kehebatan karya yang secara sungguh-sungguh digarap agar membawa inspirasi dan dampak positif bagi generasi muda.***