PURWOKERTO.SUARA.COM – Lamanya Belanda di Indonesia membuat banyak peninggalan yang tentunya bisa kita nikmati hingga saat ini termasuk jalur kereta api. Namun tidak semua bangunannya masih layak dan berfungsi, ada juga yang kondisinya mangkrak karena tidak digunakan lagi.
Termasuk saat dating di Desa Empak dan Desa Bagolo, Kecamatan Kalipucang, Kabupaten Pangandaran Provinsi Jawa Barat berjarak 39 Km dari Bandara Nusawiru. Di sana terdapat arsitektur terowongan yang memiliki sejarah di Zaman Belanda.
Dikutip dari Kanal YouTube JEJAK SIBORIK pada Rabu 23 Agustus 2023, bangunan ini bernama Terowongan Wilhelmina. Tempat ini menjadi penghubung di jalur kereta api Banjar–Cijulang yang telah menjadi saksi bisu perjalanan waktu, dari masa kejayaannya hingga kini terbengkalai.
Sekedar informasi, nama Wilhelmina diambil dari ratu Belanda, Ratu Wilhelmina, yang berkuasa pada saat pembangunan terowongan ini. Dibangun oleh tangan-tangan ahli dari masa itu, terowongan ini menjadi sebuah prestasi rekayasa yang mengagumkan.
Terowongan Wilhelmina memiliki panjang yang mencapai 1.127,1 meter, menjadikannya terowongan kereta api terpanjang di Indonesia. Pembangunan terowongan ini tidaklah mudah. Melubangi pegunungan dengan kandungan batuan andesit yang massif adalah sebuah tantangan besar.
Apalagi bagi para insinyur dan pekerja pada masa itu yang teknologinya tidak secanggih sekarang. Namun, dengan berbagai keahlian, mereka berhasil menciptakan lorong yang menghubungkan dua wilayah dengan sangat efisien, bahkan dalam upaya mempermudah distribusi hasil perkebunan.
Namun, seiring berjalannya waktu dan perkembangan teknologi, jalur kereta api ini dinonaktifkan. Akibatnya, Terowongan Wilhelmina pun terbengkalai. Kini, lorong panjang yang pernah menjadi sarana vital bagi transportasi kini hanya berisi kenangan.
Kondisinya yang terbengkalai menyimpan sejarah tentang kejayaannya di masa lalu yang perlahan-lahan memudar. Pun Terowongan Wilhelmina memiliki potensi untuk dihidupkan kembali sebagai destinasi wisata bersejarah.
Pengunjung dapat merasakan sensasi berjalan melalui lorong yang pernah dilewati kereta api, menghargai keahlian rekayasa zaman dulu, dan memahami sejarahnya. Melalui upaya pengembangan dan pelestarian, terowongan ini bisa menjadi pengingat penting akan masa lalu dan keajaiban arsitektur zaman Belanda.
Terowongan Wilhelmina bukan hanya sebuah lorong gelap di bawah pegunungan, tetapi juga cerminan masa lalu yang masih memancarkan pesona dan potensi. Perlu perhatian dan upaya yang tepat, agar bisa menghidupkan kembali warisan bersejarah ini bagi generasi sekarang dan yang akan datang. Semoga.***