Sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak memberi manfaat kepada sesamanya.
Bahkan lebih utama lagi, dia mampu menciptakan kebahagiaan bagi orang lain, sebagaimana sabda Nabi Saw.
: . ( )
Dari Ibnu Abbas RA, bahwa Baginda Nabi Muhammad SAW bersabda “sesungguhnya amal yang paling disukai Allah SWT setelah melaksanakan berbagai hal yang wajib adalah menggembirakan muslim yang lain. (HR. Thabrani)
Kaum Muslimin Rahimakumullah
Membuat gembira orang lain bisa dengan cara mau mendengarkan dengan seksama pembicaraan orang lain, berbicara dengan perkataan yang menyenangkan, senantiasa bersikap rendah hati, tidak merasa yang paling mulia sendiri, menghormati hak-hak orang lain dan sebagainya.
Ada beberapa keuntungan bagi orang yang bisa membuat gembira orang lain :
Pertama, haram disentuh api neraka, sebagaimana hadits Nabi Riwayat Imam Tirmidzi dari Ibnu Mas’ud RA :
: , : , : ” “
Telah bersabda rasulullah shallallahu alaihi wa sallam: “Maukah kamu aku tunjukkan orang yang diharamkan neraka baginya?” Para sahabat menjawab: “tentu saja wahai Rasulallah!” Beliau shallallahu alaihi wasallam menjawab: “(Haram tersentuh api neraka orang yang) Hayyin, Layyin, Qarib, Sahl.” (HR. At-Tirmidzi)
Golongan pertama yang haram disentuh api neraka adalah Hayyin. Yaitu orang yang tidak suka memaki, tidak mudah melaknat, tidak mudah marah, tidak grasa-grusu, dan berwibawa.
Kemudian Layyin adalah orang yang selalu menginginkan kebaikan antar sesama umat manusia. Dia selalu lembut dan santun baik dalam berbuat maupun dalam bertutur kata, tidak suka memaksakan pendapatnya
Seanjutnya Qarib yaitu orang yang akrab, ramah dan mudah diajak bicara, senantiasa menebar senyum jika bertemu dengan orang lain. Sisi baiknya juga, tidak lupa selalu memberi salam, sangat mudah diajak berteman, dan suka menyambung tali silaturahmi.
Terakhir Sahl yaitu orang yang tidak suka mempersulit sesuatu, suka menolong, dan selalu punya solusi di setiap permasalahan yang dihadapi, selalu memudahkan urusan setiap muslim dengan cara yang benar.
Kaum Muslimin Rahimakumullah