Serang Suara - Mengejutkan semua pihak, Budiman Sudjatmiko, politikus dari PDIP (Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan), akan berbagi panggung dengan Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto, dalam acara yang diberi nama Persatuan Nasional.
Tujian dibalik ini memunculkan banyak spekulasi dan pertanyaan mengenai tujuan dibalik kerjasama antara dua tokoh politik yang berbeda afiliasi ini.
Awalnya, Budiman Sudjatmiko mengungkapkan bahwa pertemuan ini terinspirasi dari serangkaian diskusi kebangsaan dengan Hashim Djojoharikusumo, adik Prabowo Subianto.
Diskusi-diskusi ini membahas berbagai isu kebangsaan dan mengarah pada pemberian sebuah buku berjudul "Paradoks Indonesia" yang ditulis oleh Prabowo Subianto.
Dalam buku tersebut, Prabowo memaparkan pandangannya mengenai berbagai tantangan dan potensi Indonesia.
Dalam pernyataannya, Budiman Sudjatmiko menyatakan dukungannya terhadap analisis dan agenda yang terdapat dalam buku tersebut.
Ini mengantarkan Budiman dan Prabowo pada keputusan untuk mengadakan pertemuan lebih lanjut di kediaman Prabowo di Jalan Kertanegara.
Setelah pertemuan itu, Budiman menyampaikan dalam sebuah jumpa pers bersama Prabowo.
"Prabowo adalah salah satu pemimpin yang memiliki cita-cita serupa dengannya," kata Budiman di Matraman, Jakarta Timur, Jumat (11/8/2023).
Menurut Budiman, kerjasama ini bermula dari keyakinannya bahwa semua tokoh bangsa memiliki ide-ide potensial untuk memajukan negara.
Ia merasa bahwa meskipun tokoh-tokoh tersebut memiliki pandangan dan fokus yang berbeda, mereka pada dasarnya memiliki tujuan yang sama, yaitu kemajuan Indonesia.
Budiman Sudjatmiko kemudian mengutarakan kegelisahannya mengenai mengapa para tokoh ini, meskipun memiliki pandangan serupa, tidak pernah benar-benar bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama.
Hal ini memicu perasaan geregetan pada Budiman dan merangsang inisiatifnya untuk menginisiasi Persatuan Nasional.
Dengan acara ini, ia berharap dapat mengubah hal-hal yang dianggap tidak mungkin menjadi mungkin, dengan menghadirkan platform bagi para tokoh bangsa untuk bersatu dan berkolaborasi.
Budiman mengungkapkan bahwa ia melihat dirinya sebagai individu yang tidak memiliki beban politik tertentu dan dapat menjadi penghubung antara para tokoh.
Dengan keberanian lebih dari yang diperlukan pada masa lalu, khususnya saat melawan rezim Soeharto, ia ingin menghadirkan inisiatif ini sebagai bentuk pengabdiannya kepada bangsa.
Baginya, melawan musuh dari luar seperti Soeharto lebih mudah daripada menghadapi tantangan dalam merangkul dan menyatukan tokoh-tokoh dengan latar belakang dan pandangan yang berbeda.
Persatuan Nasional ini akan memberikan jawaban atas pertanyaan mengapa tokoh-tokoh dengan pandangan serupa tidak pernah sepenuhnya bersatu untuk kemajuan bangsa.
"Saya adalah orang yang berpolitik dari zaman bahela dari zaman dulu dan saya selalu percaya pada ide. Karena saya percaya pada ide bisa menggerakkan sesuatu," terangnya, yang mengklaim pernah diskusi dengan Presiden Jokowi dan Megawati Soekarnoputri.
Ia berharap sepanggung dengan Prabowo Subianto membuka jalan bagi kolaborasi dan sinergi antara tokoh-tokoh ini, yang pada akhirnya dapat membawa perubahan positif bagi negara ini. [*]