Setelah semua sepakat, perjanjian atau kontrak kerja pun segera ditulis. Termasuk nama Allah SWT sebagai mitra ke-10.
Tak disangka, usaha yang mereka jalankan untung besar hanya dalam waktu 1 tahun, jauh dari bayangan ke-9 pemuda itu.
Semua mitra mendapatkan keuntungan 10% dari hasil bisnis tersebut, termasuk Allah SWT. Di mana keuntungan yang didapatkan Allah dialokasikan untuk memperbaiki desa mereka.
Pada tahun selanjutnya, mereka sepakat menambahkan keuntungan untuk Allah SWT sebesar 20%. Lagi-lagi bisnis mereka berjalan dengan lancar.
Sampai keuntungan milik Allah itu dialokasikan untuk membangun Baitulmal di Tahfana. Tujuannya supaya adanya pengawasan tentang dana yang digunakan oleh masyarakat sekitar.
Semenjak itu, dari tahun ke tahun usaha ke-9 pemuda itu meraup untung lebih besar. Bahkan keuntungannya mencapai 100% dari modal awal.
Hingga mereka mampu mendirikan 10 peternakan ayam lainnya, pabrik pakan ternak dan memulai perdagangan tanaman pertanian.
Mereka lantas merekrut para pemuda pengangguran di Tahfana untuk dilatih dan bekerja di perusahaan tersebut hingga mandiri.
Lambat laun, panen para petani terus melimpah dan mampu mengekspor hasil pertanian ke negara tetangga. Saat panen raya, mereka juga tak lupa membagikan paket sayur ke seluruh penduduk di Tahfana, secara gratis.
Baca Juga: Nasib Nahas Dua Pelaku Begal Bekasi, Tewas Dikeroyok Massa, Motor Dibakar
Saat bulan ramadhan, penduduk Tahfana juga mendapatkan buka puasa gratis di lapangan yang mereka persiapkan.
Tercatat pada akhir tahun 1988, dana yang dikeluarkan untuk proyek amal di Tahfana mencapai USD 50 ribu atau sekitar Rp 800 juta. Sedangkan untuk 10 tahun dana investasinya mencapai lebih dari USD 5 juta atau sekitar Rp 71 miliar.
Salah satu proyek yang dibangun oleh investasi ini sendiri adalah pendirian rumah pemotongan ayam pertama yang menggunakan mesin di Tahfana pada tahun 2003.
Sehingga proyek ini mampu menyediakan lowongan pekerja yang besar dan membantu perekonomian warga Tahfana secara keseluruhan dan mampu menurunkan angkat kemiskinan di wilayah itu.
Tak sampai sana, mereka mulai membagi fokusnya untuk meningkatkan tingkat pendidikan dengan membangun sekolah TK hingga perguruan tinggi, lengkap dengan infrasuktur penunjang. Seperti pembangunan asrama dan moda transportasi.
Kisah nyata kesuksesan Pak Sholah dan rekannya terus saja berkembang dari tahun ke tahun, hingga mereka sepakat memberikan keuntungan untuk Allah SWT dari 50% sampai 100% untuk dialokasikan kepada kesejahteraan masyarakat.