SuaraSoreang.id - Melakukan ibadah di ranjang antara suami istri bukan hal yang baru lagi, maka kali ini Ustaz Khalid Basalamah beri pesan terkait hal ini.
Bahkan suami istri biasanya memiliki waktu yang rutin untuk melakukan ibadah tersebut.
Tapi ada hal yang cukup jadi sorotan dari kacamata Islam yang akan dijelaskan oleh Ustaz Khalid Basalamah mengenai hal ini.
Yakni melakukan melakukan hubungan suami istri dari bagian belakang istri, apakah hal ini di perbolehkan dalam Islam?
Menurut Khalid Basalamah, Rasulullah SAW pernah membahas mengenai hubungan suami istri tersebut.
"Kata Nabi Muhammad SAW 'siapa yang menggauli istri saat haid dan di dubur juga mendatangi, dan mempercayai dukun. Maka dia telah kufur kepada apa yang diturunkan kepada Muhammad SAW," terangkan Ustadz Khalid Basalamah yang dilansir dari Youtube Taman Surga dikutip pada 12 Maret 2023.
Hal ini dipertegas melalui sebuah ayat dalam Al Quran dimana Allah tidak menyukai sesuai yang kotor.
QS. Al-Baqarah Ayat 222 ¨Dan mereka menanyakan kepadamu (Muhammad) tentang haid. Katakanlah, “Itu adalah sesuatu yang kotor.” Karena itu jauhilah istri pada waktu haid; dan jangan kamu dekati mereka sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, campurilah mereka sesuai dengan (ketentuan) yang diperintahkan Allah kepadamu. Sungguh, Allah menyukai orang yang tobat dan menyukai orang yang menyucikan diri.
Khalid Basalamah pun menjelaskan bahwa hal ini lah yang menjadi sebuah penjelasan kalau melakukan ibadah suami istri di ranjang ini tidak boleh melalui lewat belakang.
Baca Juga: 3 Alasan Mengapa Seseorang Wajib Membaca Karya Sastra, Kalian Harus Tahu!
"Di antaranya kita tahu dubur adalah tempat keluarnya kotoran hanya ada 2 tinja (mohon maaf) dengan gas yang beracun yang berbahaya sekali sebenarnya. Maka harus dikeluarkan dari perut menusia, kalau tidak, maka akan merusak organ tubuhnya," ucap ulama asal Makassar tersebut.
"Bahkan, banyak orang terjadi kasus karena keracunan dari perut sehingga meninggal dunia ajalnya datang." lanjutnya. "Maka, Islam tidak melarang itu kecuali dengan hikmah yang sangat besar, apalagi yang memang sang pencipta Allah memahami masalah itu. Lebih memahami tentang hikmah penciptaan makhluknya," tutupnya.***