Regenerasi Atlet, Pemerintah Dirikan SKO Disabilitas

Rizki Nurmansyah | Arief Apriadi
Regenerasi Atlet, Pemerintah Dirikan SKO Disabilitas
Defile Kontingen Indonesia saat upacara pembukaan Asian Para Games 2018 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Sabtu (6/10). [Suara.com/Muhaimin A Untung]

"Sekarang kita baru merintis (SKO disabilitas) untuk 30 atlet dulu dan lihat keadaan dana juga," ujar Isnanta.

Suara.com - Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) tak ingin Indonesia hanya menjadi 'one season wonder' atau pemberi kejutaan sesaat di ajang multievent atlet difabel internasional.

Karena itu, Kemenpora mendirikan Sekolah Khusus Olahraga (SKO) disabilitas. SKO ini sudah beroprasi sejak Juli 2018 di Solo, Jawa Tengah.

Keberadaan SKO disabilitas diharapkan bisa menjaring bibit atlet berbakat untuk regenerasi tim nasional.

"Sekarang kita baru merintis (SKO disabilitas) untuk 30 atlet dulu dan lihat keadaan dana juga. Kami sudah mulai dengan berbagai jenis kecacatan atau jenis klasifikasi disabilitas," ujar Deputi III Bidang Pembudayaan Olahraga Kemenpora, Raden Isnanta, di Gedung DPR, Jakarta, Kamis (26/10/2018) malam.

Seperti diketahui, kontingen Indonesia berhasil meraih prestasi tinggi di ajang Asian Para Games 2018.

Tercatat, Indonesia menempati peringkat kelima klasemen akhir perolehan medali Asian Para Games 2018 dengan total 135 medali. Rinciannya adalah 37 emas, 47 perak dan 51 perunggu.

Capaian ini jadi terbaik bagi Indonesia setelah di dua perhelatan sebelumnya, yakni Guangzhou 2010 dan Incheon 2014, hanya berhasil meraih masing-masing 1 dan 10 medali emas.

Isnanta menyebut, momentum Asian Para Games 2018 harus terus dijaga. Salah satunya terkait pembinaan atlet disabilitas untuk masa depan.

"Istilahnya kita harus menyiapkan kader. Kita jangan hanya terjebak oleh atlet yang ada saat ini, karena mereka akan termakan usia," ujar Isnanta.

"Jadi harus disiapkan kader jangan sampai kita mengalami nasib seperti dahulu. Kita sedang jago-jagonya di SEA Games, tapi lupa memikirkan kader sehingga kita tak jadi yang terbaik (lagi) di Asia Tenggara," tambahnya.

Isnanta menerangkan, sistem yang diterapkan SKO disabilitas ini akan sedikit berbeda dengan SKO yang sudah ada.

Karena baru merintis, para siswanya masih harus menuntun ilmu formal di sekolah umum disamping belajar keolahragaan bersama pihak Komite Paralimpiade Nasional (NPC) Indonesia.

"Jadi sistemnya di drop ke sekolah, nanti di jemput untuk latihan. Target kedepannya adalah membangun sekolah baru. Saat ini masih pendekatan dengan Kemendikbud untuk membangun sekolah khusus disabilitas," pungkas Isnanta.

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS