Suara.com - Nama besar Manny Pacquiao di arena tinju dunia tak perlu disangsikan lagi. Ia masih satu-satunya petinju yang meraih 12 gelar juara dunia di delapan kelas berbeda.
Namun, seperti sebuah ungkapan tidak ada kesuksesan tanpa perjuangan dan tidak ada perjuangan tanpa pengorbanan, begitulah karier yang dijalani Manny Pacquiao.
Puncak popularitas yang didapatnya kini tak seperti semudah membalikkan telapak tangan. Butuh proses yang panjang dan jatuh bangun.
Sejak debut profesional pada 22 Januari 1995, total 71 pertarungan sudah dijalani pria kelahiran Kibawe, Filipina, 17 Desember 1978 tersebut.
Salah satunya pertarungan melawan petinju Indonesia, Ippo Gala, pada 27 Juli 1996 di Mandaluyong, Filipina.
![Ippo Gala saat menunjukkan koleksi dua sabuk gelar juara nasional di kediamannya di kawasan Cakung, Jakarta Timur, Senin (11/11/2019). Ia menjadi satu-satunya petinju Indonesia yang pernah melawan ikon tinju dunia Manny Pacquiao. [Suara.com/Arief Apriadi]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2019/11/11/12865-mantan-petinju-indonesia-ippo-gala.jpg)
Di usia yang masih 17 tahun 223 hari, Manny Pacquiao menang TKO ronde kedua dari 10 ronde yang dijadwalkan melawan Ippo Gala yang saat itu berusia 28 tahun.
Pria kelahiran Cilacap, Jawa Tengah, 1959 silam ini mengaku tak pernah menyangka Manny Pacquiao bisa menjadi petinju hebat seperti sekarang.
![Koleksi sabuk gelar juara milik Ippo Gala saat ditemui di kediamannya di kawasan Cakung, Jakarta Timur, Senin (11/11/2019). Ia menjadi satu-satunya petinju Indonesia yang pernah melawan ikon tinju dunia Manny Pacquiao. [Suara.com/Arief Apriadi]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2019/11/11/47651-mantan-petinju-indonesia-ippo-gala.jpg)
"Dahulu ya biasa-biasa saja. Itu pertandingan non gelar yang berlangsung di Filipina. Saat itu Pacquiao umur 17 dan saya 28 tahun," tuturnya.
"Ya saya tak menyangka Manny Pacquiao jadi petinju besar," pungkas Ippo Gala, petinju Indonesia era pertengahan 1980-an hingga pertengahan 1998 ini.