- Pemerintah Iran mengeksekusi pegulat juara nasional berusia 19 tahun, Saleh Mohammadi, di Qom pada Kamis dini hari.
- Mohammadi dan dua tersangka lainnya dihukum mati atas tuduhan membunuh polisi dan menghasut kekerasan negara.
- Aktivis mengecam eksekusi tersebut sebagai pembunuhan politik untuk menebar teror dan menuntut sanksi olahraga internasional.
Suara.com - Pemerintah Iran mengeksekusi pegulat muda juara nasional, Saleh Mohammadi (19), di tengah perang melawan Amerika Serikat dan Israel.
Eksekusi dilakukan Kamis dini hari di Qom bersama dua tersangka lainnya, Mehdi Ghasemi dan Saeed Davoudi. Ketiga pemuda ini ditangkap pada aksi demo anti pemerintah beberapa waktu lalu.
Menurut laporan dari media Iran, Saleh Mohammadi dihukum mati karena tuduhan membunuh dua polisi dengan menggunakan kampak.
Video saat Saleh Mohammadi membunuh dua polisi sempat viral di sosial media beberapa waktu lalu.
Laporan Mizan menyebut bahwa para terdakwa dituduh menghasut masyarakat untuk melakukan kekerasan.
“Salah satu dakwaan mereka adalah menghasut perang dan pembunuhan dengan tujuan mengganggu keamanan negara,” kata Mizan.
Sehari sebelumnya, Iran juga mengeksekusi warga negara Iran-Swedia, Kourosh Keyvani, atas tuduhan spionase. Mizan menulis, “Ia memberikan gambar dan informasi lokasi sensitif negara kepada perwira Mossad.”
Sementara itu, Aktivis HAM dan atlet bela diri Iran, Nima Far, mengecam keras hukuman tersebut.
“Eksekusi ini adalah pembunuhan politik terang-terangan, bagian dari pola Republik Islam menargetkan atlet untuk menghancurkan perlawanan dan menebar teror,” katanya.
Ia juga menyindir organisasi olahraga dunia yang dinilai tidak tegas.
“IOC dan United World Wrestling seharusnya memberi ultimatum keras, termasuk ancaman skorsing Iran, bukan hanya diplomasi diam yang tidak efektif,” ujarnya.
Far mendesak sanksi internasional terhadap Iran di dunia olahraga.
“Iran harus dilarang ikut kompetisi sampai menghentikan eksekusi demonstran, membebaskan tahanan, dan menghentikan intimidasi terhadap atlet,” tegasnya.
Analis Iran, Alireza Nader, mengatakan hukuman mati terhadap atlet muda akan berdampak besar.
“Saya sangat sedih untuk dia dan keluarganya. Harus ada boikot terhadap rezim ini, meski saya khawatir atlet lain juga menjadi korban,” katanya.