- Klub basket Pelita Jaya berpeluang tampil di East Asia Super League untuk meningkatkan jam terbang para pemainnya.
- General Manager EASL, Adam Zecha, mengunjungi markas Pelita Jaya di Jakarta pada hari Kamis untuk melakukan verifikasi teknis.
- Partisipasi dalam kompetisi tingkat Asia ini bertujuan untuk mengukur kualitas sekaligus meningkatkan daya saing klub basket Indonesia.
Suara.com - Klub basket Indonesia, Pelita Jaya, membuka peluang tampil di ajang bergengsi East Asia Super League (EASL) pada musim mendatang.
Kehadiran perwakilan resmi kompetisi basket antarklub Asia Timur ke Jakarta menjadi sinyal kuat bahwa kualitas klub Indonesia mulai diperhitungkan untuk bersaing melawan tim-tim elite dari Jepang hingga Korea Selatan.
Wacana ekspansi ini tidak hanya meningkatkan gengsi klub, tetapi juga menjadi jawaban atas kebutuhan jam terbang internasional bagi para pebasket nasional.
Sinyal Kuat dari Kunjungan Petinggi EASL

Manajer Pelita Jaya, Adhi Pratama, membenarkan adanya ketertarikan dari kedua belah pihak untuk menjalin kerja sama strategis tersebut.
Adhi baru saja menyambut kedatangan General Manager EASL, Adam Zecha, yang berkunjung langsung ke markas tim di PJ Arena, Jakarta, pada Kamis.
Pihak manajemen mengaku antusias dengan peluang bergabung ke kompetisi tersebut karena menyadari tingginya level persaingan yang ditawarkan.
Namun, proses bergabungnya Pelita Jaya masih harus melewati sejumlah tahapan verifikasi teknis dari pihak penyelenggara.
“Sampai saat ini belum ada kepastian,” ujar Adhi kepada awak media di Pelita Jaya Arena, Jakarta, Kamis (20/5/2026).
“Mereka masih melihat venue dan lain-lain,” lanjutnya.
“Tapi kalau kami main di EASL, itu bisa meningkatkan jam terbang pemain-pemain kami,” tegasnya.
Tambahan Pengalaman untuk Pemain Lokal
Manajemen menyadari bahwa kompetisi domestik saja belum cukup untuk meningkatkan mentalitas dan kualitas permainan pemain secara signifikan.
Bertanding melawan klub-klub elite Asia Timur dianggap sebagai ujian penting untuk mengukur kualitas skuad Pelita Jaya saat ini.
“Kami lihat tim-tim EASL bagus-bagus,” kata Adhi.
“Pemain kami butuh pertandingan yang lebih banyak, jadi akan bagus bila bisa ikut untuk menambah jam terbang,” tambahnya.
Antusiasme serupa juga disampaikan pebasket Pelita Jaya, Agassi Goantara.
Menurut Agassi, peluang tampil di kompetisi internasional seperti EASL menjadi kesempatan emas bagi pemain Indonesia.
“Buat kami bagus banget secara pengalaman dan level, yang notabene mereka semua bisa dibilang levelnya di atas kami,” ujar Agassi.
“Jadi untuk bisa ikut EASL, itu buat kami suatu pencapaian lebih,” lanjutnya.
EASL Disebut Liga Champions Basket Asia
Sebagai informasi, EASL kerap dijuluki sebagai Liga Champions-nya basket Asia.
Kompetisi ini telah berjalan selama tiga musim sejak 2023/2024 dan mempertemukan klub-klub papan atas dari Jepang, Korea Selatan, China, Mongolia, Hong Kong, Makau, Taiwan, hingga Filipina.
Untuk memperluas pasar dan meningkatkan daya saing kompetisi, pihak EASL kini mulai melirik klub-klub potensial dari Asia Tenggara.
Indonesia dan Filipina menjadi target utama karena memiliki basis penggemar basket yang besar.
Fakta bahwa Pelita Jaya menjadi salah satu klub Indonesia yang dijajaki menunjukkan reputasi mereka mulai diakui di level regional Asia, demikian Antara.