Kawanku….aku hanya seorang Pemahat perahu, perahu-perahu itu bukan untukku bukan untukmu. Ketika masa itu telah berlalu mereka yang terpahat menjadi perahu satu-persatu meninggalkan pulau itu dan pergi berlabuh, biarkan mereka pergi, ikhlaskan mereka mengarungi sisi bumi.
Kawanku…. Aku tahu Kamu marah, Kamu resah, bahkan Kamu gelisah melihat telapak tanganku yang lecet dan hampir membusuk karena memahat mereka dari sebuah pohon kayu hati yang begitu keras sekeras gunung baja agar mereka menjadi sebuah perahu yang siap berlayar dilaut lepas. Setiap tanganku terluka Aku merobek bajuku untuk membalut lukaku dan terus memahat kayu hati itu. Aku tahu kawanku… Engkau memperhatikan itu karena Aku mendengar nafasmu saat kau menahan tangis dan bersembunyi dibalik hujan gerimis…terimakasih kawanku atas semua itu.
Kawanku… ada sesuatu kenyataan yang tidak akan mampu Engkau terka terhadap perahu-perahu itu, ya..karena engkau menganggap perahu-perahu itu meninggalkanku sendiri di pulau ini. Kamu selalu mengira bahwa Aku hanya seorang pemahat yang selalu dimanfaatkan oleh keadaan membuat perahu lalu selesai dan ditinggalkan perahu satu demi satu, terus dan selalu begitu…itu kan yang terlintas dalam pikiranmu. kamu menganggap perahu-perahu itu telah membebaniku dengan gundukan harapan palsu. engkau salah besar kawanku
Kawanku…..setiap satu perahu yang pergi Dia membawa mimpiku untuk ikut serta mengarungi samudera biru, karena Aku telah mengukir lembut mimpi-mimpiku di dinding semua perahu yang kupahat. Ingat temanku, Aku hanya seorang pemahat, Aku akan tenggelam dan mati bila harus berenang di lautan, tubuhku akan hancur diterpa gelombang dan membentur karang kehidupan. biarlah aku tetap ada di pulau pelangi ini untuk tetap memahat perahu, sedangkan mimpi-mimpiku mengarungi samudra raya dan terus bertengadah di laut lepas….aku sangat bahagia ketika menatap perahu yang membawa mimpiku membentangkan layar dan siap untuk memcah gelombang lautan…
Kawanku….terkadang Aku lelah terhadap semua itu, tapi dari kejauhan sayup-sayup kudengan mimpiku memanggil aku ”bertahanlah Paman, tersenyumlah Paman, Aku akan kembali” Aku tersentak kembali karena suatu saat nanti mimpiku akan kembali.
*Penulis adalah Guru SMAN 1 Cisarua Bogor.
Artikel ini sudah tayang di www.nyerat.sman1cisaruabogor.sch.id/wp/2022/06/24/sang-pemahat-perahu-pelangi/