Sepulang sekolah Divya langsung pulang dan masuk ke kamarnya. Dia melepaskan tas dan melemparkannya ke dekat meja rias. Setelah itu dia mendudukkan tubuhnya di kasur.
Notifikasi dari HP Renaldi tadi membuat dia berpikir terlalu jauh. Siapa Elea? Apakah rumor bahwa laki-laki itu sudah memiliki pacar adalah benar? Bukan Divya jika langsung percaya tanpa bukti yang nyata.
Notifikasi dari ponselnya membuat Divya merogoh saku rok. Gadis itu melotot kaget saat tahu bahwa Renaldi mengirimkannya pesan.
Renaldi Bismillah Pacar: Hai
Renaldi Bismillah Pacar: Ini Renaldi yang mau masuk padusa tadi
Renaldi Bismillah Pacar: Boleh masukin grup???
Sepersekian detik, Divya mematung. Dia mengulum senyumnya dan langsung loncat ke kasur untuk menyembunyikan wajahnya di bantal. Perutnya serasa ditekan dan kupu-kupu berterbangan.
Tok! Tok! Tok!
“Teh, makan dulu!”
Baca Juga: Sejarah Kereta Pangrango Bogor-Sukabumi
Mamanya mengetuk pintu kamar sebanyak tiga kali. Karena tidak ada sahutan, mamanya membuka pintu kamar Divya dan melihat anak sulungnya sedang dalam posisi yang tidak enak dipandang.
“Heh!” Wanita itu memukul bokong putrinya. “Ngapain sih, kamu ini? Ayo makan
dulu.”
Divya langsung menggulingkan tubuhnya ke samping. Gadis itu tersenyum aneh dan
berkata, “Iya nanti. Belum laper sekarang mah.”
“Nanti-nanti asam lambung lagi. Ngerengek lagi. Kalau sakitnya nggak ngerepotin sih, bodo amat,” omel Mamanya.