Divya bungkam. Dia merasa tidak nyaman di dalam hatinya. Padahal Divya tidak pernah mengeluh sakit jika rasa sakitnya seperti asam lambung atau bahkan demam pun dia jarang bilang. Pun, jika dia sakit dia tidak pernah minta disuapi atau hal yang lain.
“Udah sana makan,” suruh Mamanya. “Habis itu belajar.”
****
Eksktrakulikuler Paduan Suara adalah eksktrakulikuler yang paling sibuk setelah Seni Tari. Ulang tahun sekolah sebentar lagi. Beberapa anggota mengambil dispensasi agar latihan
lebih lama dan efektif. Dispensasi dimulai sejak pukul 9 pagi tadi. Sekarang sudah jam 11.00 WIB dan pelatih meyuruh mereka semua beristirahat.
“Panas banget gila,” keluh Erina. Gadis itu duduk di tepi lapangan bersama Divya.
Dia mengipasi mukanya dengan topi yang dia pakai tadi.
“Lagian kenapa gak pulang sekolah aja sih, lo? Kita kan cuma nyanyi aja,” cetus
Divya.
Baca Juga: Sejarah Kereta Pangrango Bogor-Sukabumi
“Cuma tapi tadi masih banyak yang salah nada,” balas Erina. “Sebel sama kelas 11
kenapa dah, latihannya nggak serius? Malah pada bisik-bisik karena berdiri samping Renaldi sama Fahri.”
Divya mendengkus. Dia juga mendengarnya karena gadis itu berdiri tepat di depan anak-anak kelas 11 yang berdiri di samping Renaldi. Mereka semua terlihat genit dan cari perhatian. Padahal Renaldi terlihat cuek dan bodo amat.
Sudah terhitung satu bulan sudah laki-laki itu bergabung. Dia terlihat rajin dan ternyata sangat aktif di grup chat. Bila Divya memberikan pengumuman, dia akan merespons. Entah hanya sekedar menjawab salam Divya atau membalas ‘oke’ ketika gadis itu memberikan pengumuman.
“Tuker aja dah.” Divya membenarkan posisi duduknya menjadi tegak lalu melanjutkan ucapannya, “Biar gue aja samping Renaldi. Terlepas dari gue suka sama dia atau nggak, tapi kalau gitu terus latihan bakalan nggak bener.”
“Yang nentuin bukan gue, tapi Bu Anida,” ungkap Erina. “Walaupun gue ketua, bukan berarti gue punya sepenuhnya kuasa.”