Benang Merah Dua Ledakan di Sekolah: Ketika Perundungan, Internet, dan Keheningan Bertemu

Bella, Muhammad Yasir

Minggu, 08 Februari 2026 | 19:45 WIB
Benang Merah Dua Ledakan di Sekolah: Ketika Perundungan, Internet, dan Keheningan Bertemu
Ilustrasi benang merah ledakan di dua sekolah yang dilakukan oleh siswa. (Suara.com/Aldie)
baca 10 detik
  • Dua insiden kekerasan sekolah terjadi di Jakarta (2025) dan Kubu Raya (2026), melibatkan siswa korban perundungan meniru kekerasan internet.
  • Pelaku kedua kasus terhubung dalam komunitas daring bernama True Crime Community (TCC) yang memuja narasi kekerasan ekstrem.
  • Diperlukan reformasi peran BK sekolah dan sistem deteksi dini untuk mencegah krisis kekerasan berbasis luka emosional yang tak tertangani.

Suara.com - Ledakan bom rakitan yang mengguncang SMAN 72 Jakarta pada November 2025 seharusnya menjadi peringatan keras. Namun, gema itu ternyata belum berhenti.

SELASA, 3 Februari 2026, ratusan kilometer dari Jakarta, kepanikan kembali menyergap sebuah sekolah di Kubu Raya, Kalimantan Barat. Seorang siswa kelas IX melemparkan empat bom molotov ke halaman SMPN 3 Sungai Raya, tempat ia belajar. Seorang siswa terluka.

Dua peristiwa itu terjadi di lokasi berbeda dan waktu yang terpisah. Namun, benang merahnya nyaris identik. Keduanya dilakukan oleh siswa yang pendiam, menjadi korban perundungan, dan sama-sama menyerap inspirasi kekerasan dari sudut gelap internet.

Kasus di SMAN 72 Jakarta dan SMPN 3 Sungai Raya tak lagi bisa dipandang sebagai kenakalan remaja. Ia mencerminkan krisis yang lebih dalam: akumulasi luka, kegagalan sistem perlindungan anak, dan ruang digital yang mempercepat transformasi korban menjadi pelaku.

Pola Kekerasan yang Terulang

Di SMAN 72 Jakarta, pelaku berinisial F dikenal sebagai siswa yang tertutup dan jarang bergaul. Rasa terasing mendorongnya merakit tujuh bom rakitan dengan panduan dari internet.

Beberapa bom diledakkan di area masjid sekolah, melukai 96 siswa dan guru. Pada senjata mainan yang ia bawa, tertulis nama pelaku penembakan massal dunia—dari Columbine hingga Christchurch. Densus 88 menyebut fenomena ini sebagai Memetic Violence, kekerasan yang lahir dari proses meniru.

Kurang dari tiga bulan kemudian, pola serupa muncul di SMPN 3 Sungai Raya. Seorang siswa kelas IX, yang juga korban perundungan dan memiliki persoalan keluarga, datang ke sekolah membawa enam bom molotov dan sebilah pisau. Empat bom dilemparkan, satu siswa terluka.

Penelusuran Densus 88 menemukan fakta yang paling mengkhawatirkan: kedua pelaku ternyata tergabung dalam komunitas daring yang sama.

Ketika Luka Menjadi Api

Bagaimana seorang anak yang lama menjadi korban akhirnya memilih jalan kekerasan?

baca juga

Sosiolog Universitas Gadjah Mada (UGM) AB. Widyanta menjelaskan, kekerasan adalah bahasa terakhir dari keputusasaan. Tekanan emosional yang terus menumpuk—di sekolah maupun di rumah—tanpa ruang dialog akan membawa anak pada fatalisme. Dari titik itu, agresi hanya memiliki dua arah.

“Kalau yang tidak membahayakan orang lain tapi membahayakan dirinya sendiri, itu yang bunuh diri itu,” jelas Widyanta kepada Suara.com, merujuk pada kasus bunuh diri siswa SD di NTT.

“Tapi kalau kemudian dia masih menyalurkan agresi emosionalnya itu keluar, maka yang terjadi adalah bahasa destruktif seperti itu,” imbuhnya.

Sementara itu, Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Diyah Puspitarini menyebut akar persoalan tersebut sebagai luka yang tak tertangani.

“Berangkat dari luka,” ujarnya.

“Mungkin juga berangkat dari keluarga yang bermasalah sehingga menemukan ruang kebersamaan di TCC (True Crime Community),” katanya lagi.

Infografis dua ledakan di sekolah yang dilakukan oleh siswa. (Suara.com/Aldie)
Infografis dua ledakan di sekolah yang dilakukan oleh siswa. (Suara.com/Aldie)

Sekolah yang Tak Menjadi Tempat Aman

Pertanyaan mendasarnya kemudian muncul: mengapa anak-anak ini tidak mencari pertolongan?

Koordinator Nasional Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) Ubaid Matraji menilai jawabannya terletak pada kegagalan sistemik sekolah.

“Seringkali sekolah itu cuci tangan,” ujarnya kepada Suara.com.

Menurut Ubaid, sekolah kerap menyalahkan faktor luar—keluarga, lingkungan, atau gim daring—tanpa berani mengoreksi iklim internalnya sendiri. Peran guru Bimbingan Konseling (BK) yang seharusnya menjadi ruang aman sering kali tidak berjalan, sementara budaya yang menormalisasi perundungan sebagai “candaan” membuat korban memilih diam.

“Begitu meledak baru rame,” kritik Ubaid.

Internet, Ruang Validasi Kekerasan

Jika perundungan adalah sumbu, maka internet adalah akseleratornya.

Densus 88 mengungkap kedua pelaku terhubung melalui True Crime Community (TCC)—komunitas daring yang membahas, memuja, dan mereproduksi narasi kekerasan ekstrem.

Sedikitnya 27 grup telah dipetakan, dengan nama-nama seperti TCCland Under Akmal, Indonesia Headhunter, hingga Have Sex With Your Gun.

Di ruang ini, kemarahan bukan hanya diterima, tetapi diarahkan. Tutorial pembuatan bahan peledak beredar, sementara kekerasan menjadi sesuatu yang “dipuji”.

AB. Widyanta menyebut proses ini sebagai mimesis.

“Kalau sosial media itu ditonton oleh anak-anak kita, pasti mereka akan melakukan mimesis, meniru apa yang dilakukan itu,” tuturnya.

Mencegah Ledakan Berikutnya

Rangkaian peristiwa di SMAN 72 Jakarta dan SMPN 3 Sungai Raya seharusnya menjadi peringatan keras bahwa pendekatan reaktif tak lagi cukup.

Ubaid menekankan perlunya reformasi menyeluruh fungsi BK, mengubahnya dari “polisi sekolah” menjadi ruang curhat yang benar-benar aman.

Sementara itu, KPAI mendorong sekolah memiliki sistem deteksi dini melalui “peta kelompok rentan” untuk mengenali tanda-tanda depresi, isolasi, dan perubahan perilaku.

Kapolda Kalbar Irjen Pipit Rismanto juga menegaskan penegakan hukum terhadap anak harus menjadi pilihan terakhir atau ultimum remedium, dengan fokus pada rehabilitasi psikologis dan penyelesaian akar masalah.

Selama sekolah dan negara gagal menjadi ruang aman untuk mendengar, ledakan serupa bukan tidak mungkin akan terus mengintai. Pada akhirnya, seperti disimpulkan Widyanta, “yang monster itu bukan anak SMP ini. Monster-monsternya itu adalah pejabat publik negeri ini, yang juga dengan telanjang mempraktikkan praktik kekerasan struktural dengan korupsi, kolusi, nepotisme.”

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Pendidikan Tanpa Ketegasan: Dilema Jadi Guru di Zaman Mudah Tersinggung

Pendidikan Tanpa Ketegasan: Dilema Jadi Guru di Zaman Mudah Tersinggung

Your Say | Jum'at, 06 Februari 2026 | 20:10 WIB

Wamensos Sebut Tragedi Siswa SD di NTT Alarm Keras, Program Sekolah Rakyat Jadi Kunci?

Wamensos Sebut Tragedi Siswa SD di NTT Alarm Keras, Program Sekolah Rakyat Jadi Kunci?

News | Jum'at, 06 Februari 2026 | 14:49 WIB

Belajar Menang dari Proses: Perjalanan Panjang Siswa Indonesia di Dunia Robotika Global

Belajar Menang dari Proses: Perjalanan Panjang Siswa Indonesia di Dunia Robotika Global

Lifestyle | Jum'at, 06 Februari 2026 | 11:15 WIB

70 Anak Indonesia Terpapar Komunitas Kekerasan TCC, Komisi X DPR: Tentu Ini Jadi Persoalan Serius

70 Anak Indonesia Terpapar Komunitas Kekerasan TCC, Komisi X DPR: Tentu Ini Jadi Persoalan Serius

News | Kamis, 05 Februari 2026 | 14:53 WIB

Menteri PPPA Pastikan Tak Ada Kekerasan Fisik pada YBR di Ngada, Dugaan Kekerasan Psikis Didalami

Menteri PPPA Pastikan Tak Ada Kekerasan Fisik pada YBR di Ngada, Dugaan Kekerasan Psikis Didalami

News | Kamis, 05 Februari 2026 | 13:56 WIB

Siswa SD yang Bunuh Diri di NTT Diduga Sempat Dimintai Uang Sekolah, Komisi X DPR: Pelanggaran Hukum

Siswa SD yang Bunuh Diri di NTT Diduga Sempat Dimintai Uang Sekolah, Komisi X DPR: Pelanggaran Hukum

News | Kamis, 05 Februari 2026 | 13:11 WIB

Fakta Baru! Siswa SMP Pelaku Molotov di Kalbar Satu Komunitas dengan Pelaku Ledakan SMAN 72 Jakarta

Fakta Baru! Siswa SMP Pelaku Molotov di Kalbar Satu Komunitas dengan Pelaku Ledakan SMAN 72 Jakarta

News | Kamis, 05 Februari 2026 | 11:57 WIB

Berkaca dari Ledakan SMAN 72 dan Molotov Kalbar, Pengamat: Monster Sesungguhnya Bukan Siswa

Berkaca dari Ledakan SMAN 72 dan Molotov Kalbar, Pengamat: Monster Sesungguhnya Bukan Siswa

News | Kamis, 05 Februari 2026 | 11:41 WIB

Alarm Nasional! Siswa SMP Bom Molotov Sekolah, Komisi X Panggil Mendikdasmen Bahas Radikalisme

Alarm Nasional! Siswa SMP Bom Molotov Sekolah, Komisi X Panggil Mendikdasmen Bahas Radikalisme

News | Kamis, 05 Februari 2026 | 10:34 WIB

Bocah 10 Tahun di Ngada Bunuh Diri, Menteri PPPA Sentil Kerapuhan Sistem Perlindungan Anak Daerah

Bocah 10 Tahun di Ngada Bunuh Diri, Menteri PPPA Sentil Kerapuhan Sistem Perlindungan Anak Daerah

News | Rabu, 04 Februari 2026 | 22:00 WIB

Terkini

Bea Cukai Kalbagbar Gagalkan Penyelundupan 2,7 Juta Rokok Ilegal

Bea Cukai Kalbagbar Gagalkan Penyelundupan 2,7 Juta Rokok Ilegal

Kalbar | Selasa, 11 Agustus 2026 | 08:35 WIB

Rembulan Tenggelam di Wajahmu: Perjalanan Menemukan Makna TakdirdanKehidupan

Rembulan Tenggelam di Wajahmu: Perjalanan Menemukan Makna TakdirdanKehidupan

Your Say | Selasa, 11 Agustus 2026 | 08:35 WIB

5 Zodiak yang Paling Setia dan Cocok Dijadikan Pasangan Seumur Hidup, Kamu Termasuk?

5 Zodiak yang Paling Setia dan Cocok Dijadikan Pasangan Seumur Hidup, Kamu Termasuk?

Lifestyle | Selasa, 11 Agustus 2026 | 08:35 WIB

Harga Emas Meroket! Perak Ikut Melesat Tajam di Tengah Badai Pasar Global

Harga Emas Meroket! Perak Ikut Melesat Tajam di Tengah Badai Pasar Global

Bisnis | Selasa, 11 Agustus 2026 | 08:30 WIB

Pemerintah Siapkan Tiga Skema Pembayaran PPPK di Daerah, Pastikan Tak Ada yang Dirumahkan

Pemerintah Siapkan Tiga Skema Pembayaran PPPK di Daerah, Pastikan Tak Ada yang Dirumahkan

News | Selasa, 11 Agustus 2026 | 08:25 WIB

7 Cara Membersihkan Rice Cooker yang Benar agar Tidak Bau dan Tetap Awet

7 Cara Membersihkan Rice Cooker yang Benar agar Tidak Bau dan Tetap Awet

Lifestyle | Selasa, 11 Agustus 2026 | 08:23 WIB

Saat AI Jadi Senjata Baru Gaming, Palit RTX 5060 Ti Bawa GDDR7 hingga 16GB

Saat AI Jadi Senjata Baru Gaming, Palit RTX 5060 Ti Bawa GDDR7 hingga 16GB

Tekno | Selasa, 11 Agustus 2026 | 08:22 WIB

Drama Utang Rp300 Juta di Sampang: Hayat yang Disekap dan Dianiaya Tetangga Sendiri

Drama Utang Rp300 Juta di Sampang: Hayat yang Disekap dan Dianiaya Tetangga Sendiri

Jatim | Selasa, 11 Agustus 2026 | 08:22 WIB

Mulai Ada di Toko Optik, Mengenal Cara Kerja Skrining Retina untuk Deteksi 8 Penyakit Kronis

Mulai Ada di Toko Optik, Mengenal Cara Kerja Skrining Retina untuk Deteksi 8 Penyakit Kronis

Health | Selasa, 11 Agustus 2026 | 08:22 WIB

Dasco dan Muhadjir Effendy Bertemu, Upayakan Perpendek Masa Tunggu Jemaah Haji

Dasco dan Muhadjir Effendy Bertemu, Upayakan Perpendek Masa Tunggu Jemaah Haji

News | Selasa, 11 Agustus 2026 | 08:16 WIB

×