sukabumi

Cerita Pendek Bersambung Bagaian 2

Sukabumi Suara.Com
Sabtu, 05 Agustus 2023 | 19:28 WIB
Cerita Pendek Bersambung Bagaian 2
foto ((dok.panduwindu))

Sepulang sekolah Divya langsung pulang dan masuk ke kamarnya. Dia melepaskan tas dan melemparkannya ke dekat meja rias. Setelah itu dia mendudukkan tubuhnya di kasur.

Notifikasi dari HP Renaldi tadi membuat dia berpikir terlalu jauh. Siapa Elea? Apakah rumor bahwa laki-laki itu sudah memiliki pacar adalah benar? Bukan Divya jika langsung percaya tanpa bukti yang nyata.

Notifikasi dari ponselnya membuat Divya merogoh saku rok. Gadis itu melotot kaget saat tahu bahwa Renaldi mengirimkannya pesan.

Renaldi Bismillah Pacar: Hai

Renaldi Bismillah Pacar: Ini Renaldi yang mau masuk padusa tadi

Renaldi Bismillah Pacar: Boleh masukin grup???

Sepersekian detik, Divya mematung. Dia mengulum senyumnya dan langsung loncat ke kasur untuk menyembunyikan wajahnya di bantal. Perutnya serasa ditekan dan kupu-kupu berterbangan.

Tok! Tok! Tok!

“Teh, makan dulu!”

Baca Juga: Sejarah Kereta Pangrango Bogor-Sukabumi

Mamanya mengetuk pintu kamar sebanyak tiga kali. Karena tidak ada sahutan, mamanya membuka pintu kamar Divya dan melihat anak sulungnya sedang dalam posisi yang tidak enak dipandang.

“Heh!” Wanita itu memukul bokong putrinya. “Ngapain sih, kamu ini? Ayo makan

dulu.”

Divya langsung menggulingkan tubuhnya ke samping. Gadis itu tersenyum aneh dan

berkata, “Iya nanti. Belum laper sekarang mah.”

“Nanti-nanti asam lambung lagi. Ngerengek lagi. Kalau sakitnya nggak ngerepotin sih, bodo amat,” omel Mamanya.

Divya bungkam. Dia merasa tidak nyaman di dalam hatinya. Padahal Divya tidak pernah mengeluh sakit jika rasa sakitnya seperti asam lambung atau bahkan demam pun dia jarang bilang. Pun, jika dia sakit dia tidak pernah minta disuapi atau hal yang lain.

“Udah sana makan,” suruh Mamanya. “Habis itu belajar.”

****

Eksktrakulikuler Paduan Suara adalah eksktrakulikuler yang paling sibuk setelah Seni Tari. Ulang tahun sekolah sebentar lagi. Beberapa anggota mengambil dispensasi agar latihan

lebih lama dan efektif. Dispensasi dimulai sejak pukul 9 pagi tadi. Sekarang sudah jam 11.00 WIB dan pelatih meyuruh mereka semua beristirahat.

“Panas banget gila,” keluh Erina. Gadis itu duduk di tepi lapangan bersama Divya.

Dia mengipasi mukanya dengan topi yang dia pakai tadi.

“Lagian kenapa gak pulang sekolah aja sih, lo? Kita kan cuma nyanyi aja,” cetus

Divya.

“Cuma tapi tadi masih banyak yang salah nada,” balas Erina. “Sebel sama kelas 11

kenapa dah, latihannya nggak serius? Malah pada bisik-bisik karena berdiri samping Renaldi sama Fahri.”

Divya mendengkus. Dia juga mendengarnya karena gadis itu berdiri tepat di depan anak-anak kelas 11 yang berdiri di samping Renaldi. Mereka semua terlihat genit dan cari perhatian. Padahal Renaldi terlihat cuek dan bodo amat.

Sudah terhitung satu bulan sudah laki-laki itu bergabung. Dia terlihat rajin dan ternyata sangat aktif di grup chat. Bila Divya memberikan pengumuman, dia akan merespons. Entah hanya sekedar menjawab salam Divya atau membalas ‘oke’ ketika gadis itu memberikan pengumuman.

“Tuker aja dah.” Divya membenarkan posisi duduknya menjadi tegak lalu melanjutkan ucapannya, “Biar gue aja samping Renaldi. Terlepas dari gue suka sama dia atau nggak, tapi kalau gitu terus latihan bakalan nggak bener.”

“Yang nentuin bukan gue, tapi Bu Anida,” ungkap Erina. “Walaupun gue ketua, bukan berarti gue punya sepenuhnya kuasa.”

Pada akhirnya Divya hanya menghela napas. Gadis itu menatap langit yang sangat cerah dan matahari yang terik. Pada awalnya Divya tidak ingin mengikuti event ulang tahun sekolah ini. Selain ingin fokus belajar, dirinya pasti tidak diizinkan oleh orang tuanya jika terus pulang terlalu sore.

Divya memiliki bakat. Hanya saja terhalang oleh orang tuanya yang terlalu overprotektif. Divya terlalu sulit mengeksplor bakatnya. Seperti ada ruang yang selalu mengungkungnya dan selalu ada pintu yang menahannya. Dia sudah terbiasa, tetapi kadang dia ingin keluar dari zona nyaman.

“Eh gue disuruh ke kantor sama Bu Anida,” ujar Erina. “Lo tunggu sini dulu, ya.

Kalau si Fahri sama Renaldi balik bawa air, suruh bagiin aja.”

Divya hanya mengangguk. Gadis itu mengeluarkan ponselnya dan melihat pesan yang mamanya kirimkan. Beliau bertanya, jam berapa Divya pulang. Padahal ini baru jam 11, dia hanya tidak ada di rumah sekitar 5 jam dan itu pun perginya ke sekolah.

Teman-temannya tadi mengajak Divya untuk memakan makanan laut dan gadis itu menolak dengan alasan dia harus latihan. Beberapa hari lalu juga Divya menolak ajakan teman-temannya menonton Barbie dengan alasan tidak diperbolehkan oleh orang tuanya.

Alasan itu tidak sepenuhnya salah. Namun, tidak sepenuhnya benar juga. Bukan orang tua, terlebih lagi ayahnya yang melarang, hanya saja dia tidak mau meminta izin karena pasti akan diberikan pertanyaan yang panjang lebar dan Divya tidak mau hal itu terjadi. Dia malas berdebat, terlebih lagi dengan ayahnya.

“Mau minum, nggak?” tawar Renaldi.

Gadis yang tengah melamun itu mendongak. Sinar matahari sudah terhalang oleh tubuh tinggi laki-laki yang tengah memegang sekardus air mineral gelas. Ada beberapa tersisa, sepertinya Renaldi sudah membagikan minuman itu kepada yang lainnya.

“Mau,” ucap Divya.

Saat melihat Divya yang hendak berdiri, Renaldi buru-buru bersimpuh dengan lutut kanannya setelah dia meletakkan kardus minuman itu. Poni yang menutupi sedikit matanya dia singkirkan dengan jari kelingkingnya.

“Thanks,” cicit Divya. Dia mengambil satu gelas air mineral tersebut. Mata Divya melirik kardus, bermaksud mencari sedotan untuk dirinya minum. Dia sempat menyingkirkan beberapa gelas untuk mencari sedotan, tetapi nihil.

“Nih.” Renaldi memberikan sedotannya. “Lo sendiri?” tanya Divya.

Renaldi mengangkat dagunya, menyuruh Divya mengambil sedotan yang berada di tangannya. Setelah Divya mengambil sedotan dari tangan Renaldi, laki-laki itu menyobek plastik gelas tersebut tepat di titik dia menusuknya dengan sedotan.

“Gini bisa,” kata Renaldi.

Gerak-gerik Renaldi tidak lepas dari tatapan Divya. Perasaan ini benar-benar tidak bisa gadis itu gambarkan. Ini kali pertamanya Divya dan Renaldi duduk bersama. Pikirannya tentang chat beberapa hari lalu dari seseorang bernama Elea itu seolah tidak pernah terjadi.

“Menurut lo gimana lagu tadi? Susah, nggak?” tanya Divya.

“Lumayan,” balas Renaldi. Dia membuka kedua kakinya lebar dan lututnya dia jadikan penopang kedua tangannya yang memegang gelas air.

“Sempet panik lagu itu nggak ketemu versi ceweknya,” ungkap Divya. “Kalau sampai beneran nggak ada, mampus gue.”

Renaldi terkekeh, dia menarik kardus yang ada diantara tengah-tengah mereka agar mendekat. Laki-laki itu membuang gelas plastik kosong yang ada di tangannya.

“Lo bisa main gitar?” tanya Divya tiba-tiba. Dalam hatinya dia berharap agar Renaldi tidak sadar bahwa sebenarnya Divya berusaha mencari topik pembicaraan agar tidak canggung. Pun, Divya ingin memanfaatkan momen yang langka ini.

Renaldi mengangguk. “Untuk beberapa lagu. Masih belajar juga,” paparnya. “Lo sendiri?”

“Nggak.” Divya berdeham pelan. “Trauma kuku tangan patah.” “Pake kuku kaki aja kalau gitu,” celetuk Renaldi.

Tanpa disangka, Divya terbahak. Laki-laki di sampingnya itu langsung menoleh dengan mata mengerjapkan matanya terkejut.

“Ya Allah, sorry-sorry.” Divya berdeham, dia berusaha menyembunyikan rasa malunya karena kelepasan tertawa. “Sorry kalau ilfeel. Gue nggak bermaksud gimana-gimana.”

Renaldi mengangguk. “Santai,” ujarnya. Cowok itu berdiri dan meraih kardus tadi. “Minumnya udah? Atau mau lagi?”

Divya merasa tidak enak. Dia menggeleng kepalanya. Renaldi kemudian pergi menghampiri teman-temannya yang berada di dekat gawang futsal.

“Tai,” umpat Divya. Dia memukul kepalanya pelan. “Goblok banget sih, lo, Div?

Ngapain ketawa kencang gitu? Bikin malu aja!”

****

Tangga antara kelas MIPA dan IPS kotor. Divya yang biasanya duduk untuk mendengarkan musik dan membaca-baca buku merenggut kesal. Gadis itu melihat beberapa orang yang melintas dengan sepatu kotor. Padahal lantai baru saja di pel.

“Anjir!” pekik Divya saat seseorang menarik ujung rambutnya. Gadis itu menoleh ke belakang, di melihat Ezra yang baru saja datang membawa kotak bekal miliknya. “Ngapain sih, lo?” protesnya.

“Lo ngalain jalan,” ungkap Ezra. “Ngapain di sini?”

“Mau baca buku, tapi kotor.” Gadis itu menunjuk tangga dengan dagunya. Dia paling tidak suka kotor.

“Ya sapuin ege.” Ezra menoyor kepala Divya dan berkata, “Gak usah manja.”

Kelas mulai ramai dengan anak-anak MIPA 1 yang berdatangan. Divya melihat salah satu temannya yang baru datang dengan wajah yang sedikit masam.

“Eh, La, baru dateng?” Divya melambaikan tangannya. “Hari ini lo pik ….”

pergi.


“Bisa nanti aja nggak, sih? Orang baru dateng juga,” ketus Lala sambil melengos

Bruk!

Divya menatap Lala yang melempar tasnya dan melepas jaket yang gadis itu pakai.

Wajahnya datar, gerak tubuhnya menunjukkan kesal dan tidak suka. Lala menatap Divya sinis, dia pergi keluar untuk menyapu.

“Pagi Cinta ku!” Salsa baru saja datang memeluk Divya dari belakang. Gadis itu memiringkan kepalanya dan melihat raut wajah temannya. “Lo kenapa?” tanya Salsa.

Tatapan Divya pada Lala membuat Salsa mengikuti arah pandang gadis itu. “Dia kayaknya nggak suka banget, ya, sama gue?” gumam Divya.

Salsa tahu perasaan Divya. Gadis itu memutar tubuh Divya menghadapnya. “Stop mikir yang nggak-nggak,” ujar Salsa. “Dia cum iri sama lo.”

“Tapi ….”

“Udah ah, yuk masuk. Bentar lagi bel.”

****

Sudah tiga hari ini Divya kehilangan nafsu makan. Untung saja asam lambungnya tidak kambuh. Saat teman-temannya pergi ke kantin, Divya memilih untuk membaca novel di tangga sambil mendengarkan musik.

Novel romansa adalah salah satu genre dia sukai. Beberapa penulis favoritnya sudah merilis karyanya dan kebetulan Divya ada tabungan untuk membeli novel-novel tersebut.

Divya bukan orang yang lupa waktu ketika melakukan sesuatu yang dia sukai. Tepat bel masuk berbunyi, Divya menutup novelnya dan berdiri. Ketika gadis itu hendak berdiri dan melangkah pergi, seseorang memanggil satu nama yang dia kenal.

“Renaldi, dicariin pacar lo!”

Kaki Divya yang hendak menurunkan satu kakinya berhenti. Gadis itu menoleh ke belakang, tepat di mana Renaldi keluar dari kelasnya. Tanpa Divya sangka, mereka saling bertukar pandang. Divya tertegun saat laki-laki itu memutuskannya terlebih dahulu dan pergi menghampiri seorang gadis yang bersembunyi di belakang tembok.

Jantung Divya seperti dihantam sesuatu. Gadis itu pergi ke kamar mandi, mengabaikan Via yang memanggilnya. Dia berjalan menunduk, matanya mulai mengeluarkan air mata.

****

H-7 hari ulang tahun sekolah membuat anggota ekstrakurikuler yang terlibat semakin gencar latihan. Anak-anak Paduan Suara dilarang memakan makanan yang berminyak dan pedas. Tidak hanya itu, mereka juga dilarang meminum es.

“Kesiksa banget asli,” ujar Gwenny, dia salah satu anggota Paduan Suara dari kelas

11. “Udah sebulan nggak minum es tuh, duh gak bisa dijelasin lagi.”

“Gak lo aja, kita semua sama, ya,” dengkus Divya. “Liat kulkas sekarang kayak liat musuh.”

“Kafe sebelah ngeluarin menu minuman baru lagi,” timpal Erina. “Mampus aja sih, kata gue,” ledek Gwenny.

Hari Kamis ini semua ekstrakulikuler yang terlibat latihan sampai sore. Mereka sedang istirahat sholat ashar. Obrolan di mushola itu terhenti saat melihat sosok adik kelas dengan baju taekwondo melintas.

“Eh Elea.” Gwenny menyapa gadis berbaju taekwondo tersebut. Dia bertanya, “Anak taekwondo tampilkah?”

“Iya, buat closing tapi,” jawab Elea. Dia melirik Divya juga Erina yang duduk dengan Gwenny. “Halo, Kak," sapanya.

“Halo, El.” Erina melambaikan tangannya, sedangkan Divya hanya tersenyum kecil. “Itu Elea?” tanya Divya setelah adik kelasnya itu pergi.

“Temen sekelas gue,” ungkap Gwenny. “Pacarnya Kak Renaldi tuh.”

Divya tersenyum kecil. Dia melipat mukenanya dan pamit pergi ke toilet untuk memakai pelembab dan lipbam. Dia berpapasan dengan Elea yang sedang merapikan bajunya.

Jika dilihat-lihat, Elea sangatlah cantik. Gadis itu berkulit putih dan bertubuh mungil.

Wajahnya yang manis serta lesung pipinya yang imut membuat siapa pun bisa jatuh cinta.

“Kak Divya, kelas berapa?” tanya Elea tiba-tiba. Mereka sama-sama tengah berdiri di wastafel.

“Aku 12 MIPA 1,” jawab Divya. “Kamu?” “11-1,” balas Elea.

Divya tersenyum kecil dan mulai memakai pelembabnya.

“Renaldi gimana, Kak, di ekskul?” tanya Elea. “Dia maksa banget minta izin padus padahal dia udah ikut voli juga.”

“Hm, bagus. Dia orangnya serius kok,” timpal Divya. “Kamu … pacarnya, ya?”

Dengan senyum malu-malu Elea mengangguk.

“Beruntung banget, dia anaknya baik. Cakep lagi,” kekeh Divya. “Iya, dia baik banget. Ke semua juga kayaknya baik, ya?”

Divya hanya bergumam.

“Pantes kalau banyak yang baper sama sikap dia.”

Termasuk gue, batin Divya.

“Dia ke Kak Divya gimana?” tanya Elea. “Baik, kok,” jawab Divya.

“Semoga Kakak nggak baper, ya. Aku tuh suka was-was sama temen cewek dia.

Takut pada baper,” ungkap Elea.

Divya hanya meliriknya dari cermin. Dia mengoleskan lipbam ke bibirnya lalu pamit pergi. Pembicara tadi terlalu membuatnya sakit. Terlebih lagi lawan bicaranya adalah kekasih dari Renaldi Kamran, laki-laki yang dia sukai.

****

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Cek Chemistry, Kalian Tipe Pasangan Apa dan Cocoknya Kencan di Mana Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Cek Jodoh Motor, Kuda Besi Mana yang Paling Pas Buat Gaya Hidup Lo?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Jika Kamu adalah Mobil, Kepribadianmu seperti Merek Apa?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Love Language Apa yang Paling Menggambarkan Dirimu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Tahu Kalian Tentang Game of Thrones? Ada Karakter Kejutan dari Prekuelnya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kalau Masalah Hidupmu Diangkat Jadi Film Indonesia, Judul Apa Paling Cocok?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Satu Frekuensi Selera Musikmu dengan Pasangan?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA Kelas 12 SMA Soal Matematika dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Bahasa Inggris Kelas 9 SMP dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kamu Beneran Orang Solo Apa Bukan?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pemula atau Suhu, Seberapa Tahu Kamu soal Skincare?
Ikuti Kuisnya ➔
×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI