Suara Sumatera - Sosok ini mengaku tidak setuju Ferdy Sambo dihukum mati atas kasus kematian Brigadir J atau Nofriansyah Yosua Hutabarat.
Sosok itu adalah Tengku Zanzabella. Dirinya juga memberikan semangat kepada Sambo. Hal ini dikatakannya dalam video yang diunggah di akun TikTok @zanzabellaa dilihat pada Senin (26/12/2022).
"Setuju gua Sambo jangan dihukum mati. Ayo semangat bapak Sambo, jangan dihukum mati. Pokoknya gua tidak dukung kalau Sambo dihukum mati," katanya.
Tengku Zanzabella juga meminta agar pengacara Kamaruddin Simanjuntak untuk fokus dalam kasus pembunuhan Brigadir J.
"Udahlah fokus ke pembunuhannya aja, jangan ke mana-mana melebarnya," ujarnya.
"Tadinya gua respect, terus gua jadi un respect. Sama seperti Bharada E. Tadinya gu lucu lihat lu, maksudnya kayak kasihan gitu, tapi lama-lama dipersidangan aja lu bisa gini-gini....Yaudah banyak yang ngebelain lu nggak usah patantang patenteng juga," sambungnya.
![Tengku Zanzabella. [Suara.com/Rena Pangesti]](https://media.suara.com/suara-partners/sumatera/thumbs/1200x675/2022/12/26/1-tengku-zanzabella-suaracomrena-pangesti.jpg)
Diketahui, saat dihadirkan sebagai saksi untuk terdakwa obstruction of justice Chuck Putranto pada Kamis (22/12/2022), Ferdy sambo diperlihatkan momen kedatangannya di kompleks Duren Tiga lewat CCTV.
Sambo mengakui sebelumnya akan mengeksekusi Brigadir J pada malam hari. Namun, dirinya sempat ragu apakah akan mengonfrontasi Yosua langsung sore atau tetap sesuai rencana.
"Saya teringat lagi, 'Ngapain saya konfirmasi malam? Sekarang aja saya turun'. Akhirnya saya turun," kata Sambo melansir Suara.com.
Dalam rekaman CCTV terdapat satu adegan yang sangat disorot hakim, yakni ketika mobil Sambo tiba di depan rumah dinasnya. Alih-alih berhenti tepat di depan pagar, mobil Sambo diketahui justru lebih maju hingga mendekati kamera CCTV.
Hakim juga mengaku heran karena korban Brigadir J memilih melipir ke taman alih-alih menyambut kedatangan Sambo. Apalagi karena Yosua disebut mengetahui kedatangan mobil Sambo sore itu.
"Jika dari CCTV ini dia ke taman, karena mungkin tahu saya berhenti, jadi dia lari ke sana," jelasnya.
"Apakah perilaku atau sikap yang ditayangkan Yosua seperti itu, salah satu ajudan saksi, lazim nggak? Seperti dia menghindar," tanya hakim.
"Harusnya tidak lazim. Karena mungkin dia sudah tahu kalau ada masalah di Magelang, harusnya dia jemput," kata Sambo.
"Kalau seorang ajudan nggak semestinya menghindar. Saya juga melihat Saudara, kenapa Saudara tidak turun di depan pintu pagar tersebut?"
Ferdy Sambo lantas mengurungkan niatnya mengeksekusi Brigadir J malam hari, oleh karena itulah dia merasa wajar ketika mobilnya berhenti beberapa meter di depan pagar rumah Duren Tiga dan turun di sana.
Sambo kemudian masuk ke dalam rumah setelah disambut ajudannya Adzan Romer. Namun saat itu Romer hanya sampai di pintu luar. Sedangkan Sambo terus masuk ke dalam rumah Duren Tiga dan bertemu Kuat Ma'ruf.
Ketika betemu di dapur, saya menanyakan, 'Panggil Yosua!' Kemudian Kuat menyuruh Ricky Rizal kalau tidak salah, memanggil Yosua ke dalam," jelas Sambo.
Kuat dan Ricky sudah membawa Yosua masuk. Di hadapan hakim, Sambo mengaku langsung emosi dan mengonfrontasi Yosua dengan nada tinggi.
"Saya tanyakan ke Yosua, 'Kenapa kamu tega kurang ajar ke Ibu?!' (Dijawab) 'Kurang ajar apa, Komandan?'" ujar Sambo.
"Saya sudah lupa, saya ini bintang dua, saya pejabat utama, saya perintahkan Richard untuk 'Hajar, Chad!' Ternyata kemudian (Richard Eliezer) kokang kemudian tembakkan senjatanya," imbuhnya.