Suara Sumatera- Ketua Relawan Anies Baswedan di Bukittinggi, Sumatra Barat, beberapa waktu lalu begitu mengejutkan publik. Disebutkan jika menjelang tahun politik akan semakin banyak kejadian antar pendukung atau relawan.
Sehingga muncul sejumlah spekulasi atas perihal tersebut. Belakangan muncul informasi jika ketua relawan Anies Baswedan tersebut dikeroyok oleh pendukung Ganjar Pranowo.
Karena itulah, tidak heran bila video unggahan kanal YouTube MIMBAR POLITIK berikut ini seketika menjadi viral dan meraup banyak penonton.
Pasalnya video itu menarasikan terduga pelaku penganiayaan Ketua Relawan Anies di Bukittinggi adalah anggota kelompok relawan Ganjar Pranowo yang diduga akan menjadi lawan politik Anies tahun 2024 mendatang.
Mereka pun menyebutkan jika pelaku penganiayaan ialah relawan Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo yang biasa disebut Ganjaris.
"Mengejutkan !! Polisi Temukan Barang Bukti Berupa Kartu Anggota Relawan Ganjaris," begitulah judul yang dituliskan pengunggah video.
Di thumbnail video terlihat foto beberapa pria berseragam oranye yang dikawal ketat petugas kepolisian.
"Breaking News. Akhirnya Pelaku Tertangkap. Polisi Temukan Kartu Anggota Relawan Ganjaris," tulis pemilik video di thumbnail-nya.
Ketika video diputar, terdengar narator yang langsung membahas perihal penganiayaan Ketua Relawan Anies di Bukittinggi.
Baca Juga: Indonesia vs Malaysia Bisa Bentrok di Final Piala AFF 2022 Jika 2 Hal Ini Terjadi
Benarkah terduga pelaku penganiayaan Ketua Relawan Anies di Bukittinggi adalah relawan Ganjar?
PENJELASAN
Video tersebut ternyata sama sekali tidak menarasikan soal keterlibatan relawan Ganjar terhadap penganiayaan Ketua Relawan Anies di Bukittinggi.
Video justru menarasikan artikel dari salah satu media online mengenai penjelasan polisi terkait penyebab penganiayaan tersebut.
Artikel itu pun menjelaskan bahwa kasus penganiayaan Ketua DPP Relawan Rumah Gadang Anies Baswedan, Idris Sanur, masih dalam penyelidikan Polresta Bukittinggi.
Ps. Kasat Reskrim Polresta Bukittinggi, AKP Fetrizal, penganiayaan ini diduga tidak terkait dengan masalah politik namun lebih pada utang-piutang.