Suara Sumatera - Masyarakat kota Palembang, Sumatera Selatan (Sumsel) memiliki tradisi tersendiri dalam merayakan bulan kemerdekaan, seperti bulan Agustus ini. Salah satunya, ialah lomba perahu bidar yang kemudian menjadi ikon wisata Sungai Musi.
Pada perhelatan lomba perahu bidar, masing-masing peserta akan beradu kecepatan menjalankan perahu bidar dari titik hulu dan hilir Sungai Musi. Adu kecepatan membawa perahu bidar ini pun tidak lepas dari peristiwa sejarah sekaligus mitos yang melekar pada masyarakat kota Palembang.
Sejarawan Kemas AR Panji menjelaskan perlombaan perahu bidar, lekat dengan cerita rakyat Dayang Merindu atau Daya Rindu.
Pada legendannya menyebutkan jika pada masa dahulunya, terdapat putri nan cantik yang bernama Dayang Merindu atau Dayang Rindu. Saking cantiknya, ia pun diperebutkan oleh dua kesatria atau laki-laki yang berniat menikahinya.
Karena kedua pria ini sama-sama memiliki kemampuan dan kekuatan yang seimbang, sang putri pun kebingungan memilih antara keduannya.
Karena itu, ia pun memutuskan untuk memilih pangeran yang berhasil dalam perlombaan adu perahu di sebuah sungai besar pada masanya di Palembang, Sungai Musi.
"Dayang Rindu pun memutuskan menyuruh kedua pria tersebut untuk lomba dayung perahu," ujar Kemas AR Panji.
Sayangnya meski memiliki kekuatan yang sama, namun ternyata kedua pangeran ini kelelahan. Kedua pangeran ini tidak ada yang memenangi pertarungan tersebut.
"Keduanya tidak ada yang menang,” tutur Kemas AR Panji.
Penamaan bidar sendiri ditujukan untuk perahu yang panjang dengan rata-rata panjang perahu berkisar 25 hingga 30 meter yang di dayung oleh lebih dari 20 orang secara bersamaan.
Kemas juga mengungkapkan jika perahu bidar merupakan budaya kota Palembang nan sudah ada sejak jaman kerajaan Sriwijaya juga Kesultanan Palembang.
Pada saat dahulu, bukan dikenal sebagai perahu bidar melainkan perahu pencalang. Perahu yang dimanfaatkan guna transportasi pada jaman kerajaan.
Adapun ciri lainnya perahu ini, adanya bagian tengah yang menonjol serta beratap yang diperuntukkan bagi raja.
Penyebutan untuk lomba perahu bidar juga telah mengalami perubahan. Ada juga yang sempat menyebut perahu bidar, ialah lomba kenceran hingga sata ini menjadi bidar.
Di masa penjajahan Belanda, juga digelar lomba bidar ini setiap tahun.