SuaraSumedang.id – Beredar video Ferry Irawan memohon untuk bisa berdamai dengan Venna Melinda, dan berharap kasus dugaan KDRT itu dapat diselesaikan secara kekeluargaan.
Kasus dugaan KDRT Ferry Irawan dan Venna Melinda masih terus bergulir, kini Ibunda Verrel Bramasta mantap untuk gugat cerai sang suami.
Menggandeng Hotman Paris sebagai kuasa hukumnya, Venna Melinda menceritakan semua kejadian yang ia alami dengan Ferry Irawan di hotel Kediri beberapa waktu lalu.
Menurut pengakuan Venna, Ferry Irawan yang kerap disapa dengan panggilan Abi itu sering menghalang – halangi dirinya untuk kembali bekerja.
Beredar kabar jika wanita berusia 50 tahun itu akan kembali nyaleg dna tidak mendapatkan dukungan penuh dari sang suami.
Hingga kasus dugaan KDRT itu terjadi di salah satu hotel Kediri beberapa waktu lalu.
Satu hal yang membuat Venna Melinda muak dengan suaminya adalah, saat kejadian KDRT tersebut Ferry tidak mengakui perbuatannya.
“Bukan, bukan saya yang melakukannya (Kata Venna meniru ucapan Ferry Irrwan),” dikutip dari Pagi – Pagi Ambar.
Untungnya Ibunda Athala itu sudah memiliki bukti yang kuat dengan merekam kondisinya yang bercucuran darah usai ditindik hidungnya dengan jidat Ferry Irawan.
Baca Juga: CEK FAKTA: Ibu Norma Risma Diusir Warga dari Rumah karena Selingkuh dengan Menantu, Benarkah?
Akhirnya, Venna Melinda membuat laporan sebagaimana yang telah bergulir saat ini. Ferry pun sudah ditetapkan sebagai tersangka atas kasus dugaan KDRT ini.
Kemudian beredar sebuah video di sosial media yang mana Ferry Irawan terlihat merengek tak ingi diceraikan oleh sang istri.
Menurut laki – laki 45 tahun itu, permasalahan yang dialaminya saat itu adalah masalah rumah tangga yang wajar.
Ia juga mengaku bahwa dirinya memiliki kelebihan dan kekurangan begitu juga sebaliknya.
“Sampai detik ini saya Abi suami Meli apapun itu dalam rumah tangga, Abi punya kekurangan Venna juga kekurangan, Abi punya kelebihan venna juga,” ujar Ferry Irawan dikutip dari viral_seleb.
Lalu Ferry juga mengaku bahwa saat ini dirinya telah menerima sanksi sosial, hingga dirinya merasa depresi dan mendapatkan tekanan.