China kembangkan "layar de-orbit" untuk kelola sampah antariksa

Surabaya | Suara.com

Selasa, 22 November 2022 | 05:39 WIB
China kembangkan "layar de-orbit" untuk kelola sampah antariksa
China kembangkan "layar de-orbit" untuk kelola sampah antariksa (riau.antaranews.com)

Seiring jumlah peluncuran roket, misi eksplorasi planet, dan aktivitas satelit terus meningkat, sampah yang berada di antariksa pun semakin bertambah.
Banyak pihak berusaha mencari cara untuk mengurangi jumlah puing yang mengorbit Bumi. Kini, China tampaknya sudah menemukan solusinya dengan teknologi "layar" yang baru mulai digunakan.

Xinhua mewartakan pada Senin, ratusan juta benda dalam puing-puing yang dihasilkan oleh manusia terus mengitari Bumi, termasuk bagian tubuh roket yang rusak, satelit yang sudah tidak berfungsi, dan pecahan dari peristiwa tabrakan di orbit.

Bertekad untuk mengatasi masalah sampah antariksa ini, para ilmuwan kedirgantaraan China berhasil menggunakan "layar" besar untuk membuat wahana antariksa keluar dari orbit (de-orbit) pada akhir masa penggunaannya.

Perangkat de-orbit tersebut adalah perangkat yang menyerupai layar dan terbuat dari film tipis, yang ketebalannya kurang dari sepersepuluh diameter sehelai rambut.

Saat dilipat, ukurannya hampir setara dengan ukuran telapak tangan orang dewasa, tetapi layar itu dapat dibentangkan hingga mencakup area seluas 25 meter persegi ketika dibuka. Saat sebuah wahana antariksa dinonaktifkan, layar yang dipasangkan pada wahana itu dapat dibuka secara otomatis.

Setelah dibuka, layar itu akan meningkatkan efek gesekan udara, memperlambat laju wahana antariksa itu di orbit dan mempercepat proses turunnya wahana antariksa ke atmosfer Bumi, dimana wahana itu akan terbakar.

Para ilmuwan telah menguji teknologi ini dalam sejumlah misi antariksa. Contoh terbarunya adalah peluncuran roket pengangkut Long March-2D di China barat daya pada 23 Juni lalu, yang mengirim tiga satelit ke orbit. Sebuah layar de-orbit yang dipasang pada roket itu terbuka tiga hari setelahnya.

Ini pertama kalinya sebuah perangkat de-orbit berukuran besar digunakan dengan cara yang telah dipaparkan di atas, menurut Akademi Teknologi Penerbangan Antariksa Shanghai (Shanghai Academy of Spaceflight Technology), yang membuat perangkat tersebut.

"Penggunaan perangkat layar ini akan membantu melepaskan sumber daya orbit yang berharga," kata Li Yide, pimpinan akademi tersebut.

Li mengambil contoh sebuah satelit berbobot 15 kilogram di ketinggian 700 kilometer. Dia mengatakan bahwa tanpa tindakan de-orbit, satelit itu akan terus berada di orbit selama 120 tahun setelah akhir masa pakainya. Namun, dengan memasang layar sebesar 2 meter persegi pada satelit itu, waktu yang dihabiskan oleh satelit tersebut di orbit dapat dipangkas menjadi kurang dari 10 tahun, kata Li.

Tidak seperti metode pembuangan sampah antariksa tradisional, misalnya lengan robot, tambatan, dan jaring, perangkat de-orbit dapat mengurangi sampah antariksa tanpa mengonsumsi bahan bakar tambahan. Perangkat itu hanya membutuhkan listrik dalam jumlah kecil untuk menjalankan fungsinya, kata ilmuwan itu.

Akademi yang dipimpin Li telah mempelajari teknologi layar ini selama lebih dari 10 tahun, dan produk-produknya kini dapat memenuhi persyaratan de-orbit untuk berbagai wahana antariksa, mulai dari satelit mikronano hingga wahana peluncuran berukuran besar, yang bobotnya dapat mencapai beberapa ton.

Perangkat layar tersebut dipamerkan ke publik di ajang Airshow China tahun ini.

Dalam beberapa tahun terakhir, China telah mengintensifkan upaya penelitian untuk mengurangi risiko tabrakan di orbit dan memastikan aktivitas manusia di luar angkasa berkonsep berkelanjutan (sustainable).

Selain menguji teknologi baru di bidang pembersihan sampah antariksa, negara itu juga berjanji akan meningkatkan aktivitas pemantauan sampah antariksa dan memperluas sistem tata kelola lingkungan antariksa dengan sistem pertahanan objek dekat Bumi yang telah direncanakan. Selesai

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA SD: 15 Soal Matematika Materi Pecahan Senilai Beserta Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Beserta Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Beijing China Lockdown Parsial Setelah Muncul Kasus Kematian Akibat Covid-19

Beijing China Lockdown Parsial Setelah Muncul Kasus Kematian Akibat Covid-19

Jatim | Senin, 21 November 2022 | 13:36 WIB

Beijing Lockdown Setelah Seorang Lansia Meninggal Karena Covid-19

Beijing Lockdown Setelah Seorang Lansia Meninggal Karena Covid-19

Bali | Senin, 21 November 2022 | 13:25 WIB

Harga Minyak Dunia Anjlok 10 Persen Sepanjang Pekan Lalu

Harga Minyak Dunia Anjlok 10 Persen Sepanjang Pekan Lalu

Bisnis | Senin, 21 November 2022 | 11:00 WIB

Terkini

Asal-usul Kenapa Semua Pejabat hingga Diplomat Iran Tak Pakai Dasi

Asal-usul Kenapa Semua Pejabat hingga Diplomat Iran Tak Pakai Dasi

Lifestyle | Selasa, 31 Maret 2026 | 16:16 WIB

Gema Takbir Terakhir di Balik Dinding Kontrakan di Baros: Nestapa Akhir Hayat Rully Ahmadsyah

Gema Takbir Terakhir di Balik Dinding Kontrakan di Baros: Nestapa Akhir Hayat Rully Ahmadsyah

Jabar | Selasa, 31 Maret 2026 | 16:14 WIB

Pramono Akui Laporan JAKI Banyak Mandek, Kasus Zebra Cross Tebet Disorot

Pramono Akui Laporan JAKI Banyak Mandek, Kasus Zebra Cross Tebet Disorot

News | Selasa, 31 Maret 2026 | 16:13 WIB

Biaya Editing hingga Mic Rp0, Fakta di Balik Kasus Videografer Amsal Sitepu

Biaya Editing hingga Mic Rp0, Fakta di Balik Kasus Videografer Amsal Sitepu

Your Say | Selasa, 31 Maret 2026 | 16:12 WIB

Mantan Kades Rindu Hati Dituntut 4,5 Tahun Penjara, Kasus Dana Desa Rugikan Negara Rp892 Juta

Mantan Kades Rindu Hati Dituntut 4,5 Tahun Penjara, Kasus Dana Desa Rugikan Negara Rp892 Juta

News | Selasa, 31 Maret 2026 | 16:08 WIB

5 SMA Swasta Terbaik di Bali Punya Kurikulum Internasional, Lulusan Laris ke Luar Negeri

5 SMA Swasta Terbaik di Bali Punya Kurikulum Internasional, Lulusan Laris ke Luar Negeri

Bali | Selasa, 31 Maret 2026 | 16:07 WIB

Drama Setelah Lebaran: Kenapa Transisi dari Rebahan ke Kerja Begitu Menyiksa?

Drama Setelah Lebaran: Kenapa Transisi dari Rebahan ke Kerja Begitu Menyiksa?

Your Say | Selasa, 31 Maret 2026 | 16:07 WIB

Cara Menyetel Karburator Motor agar Irit Bensin, Jadi Lebih Hemat BBM

Cara Menyetel Karburator Motor agar Irit Bensin, Jadi Lebih Hemat BBM

Otomotif | Selasa, 31 Maret 2026 | 16:05 WIB

Harga Pertalite Mau Naik? Suzuki S-Presso Malah Makin Jadi Rebutan Gara-gara Ini

Harga Pertalite Mau Naik? Suzuki S-Presso Malah Makin Jadi Rebutan Gara-gara Ini

Otomotif | Selasa, 31 Maret 2026 | 16:05 WIB

Israel Sahkan Hukuman Mati untuk Warga Palestina, PBB Beri Kecaman Keras

Israel Sahkan Hukuman Mati untuk Warga Palestina, PBB Beri Kecaman Keras

News | Selasa, 31 Maret 2026 | 16:03 WIB