TANTRUM - Depresi merupakan salah satu gangguan jiwa yang tidak boleh diabaikan. Gangguan kejiwaan akumulasi dari stress berat itu dapat menyebabkan seseorang berusaha untuk mengakhiri hidupnya di dunia alias bunuh diri.
Bunuh diri sendiri dipicu karena rasa putus asa, merasa tidak berguna, merasa bersalah yang lebih besar, serta tidak ada lagi harapan.
Menurut anggota Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Kejiwaan Indonesia Daerah Jawa Barat Teddy Hidayat, keluarga atau lingkungan sekitar harus mendeteksi adanya seseorang yang akan bunuh diri akibat depresi.
Sama halnya perlakuan terhadap seseorang yang mengalami gangguan jiwa berat (psikotic).
"Kalau ada yang depresi atau ada yang psikotic harus diobati dengan baik, tentu dengan diobati maka resikonya akan semakin menurun," ujar Teddy ditulis Bandung, Minggu, 22 Mei 2022.
Teddy menjelaskan pemberian obat terhadap seseorang psikotic harus diberikan sesuai dengan arahan dari dokter kejiwaan.
Teddy menyebutkan seseorang yang mengalami psikotic, peluang melakukan usaha bunuh diri sangat besar dibandingkan yang terkena depresi.
"Mereka suka berhalusinansi, itu yang menyebabkan dia bisa melakukan bunuh diri atau karena hawa ketakutan," kata Teddy.
Sementara penanganan depresi ucap Teddy, dapat dilakukan oleh peran keluarga dan lingkungan sekitar dengan cara mencari solusi masalah yang tengah dijalani.
Karena pemicu depresi, cemas berlebih atau stress adalah faktor psikososial, masalah ekonomi, pekerjaan, perkawinan dan masalah lainnya yang menjadi suksesor.
"Semakin krisis multidimensi, sosial ekonomi segala macem, itu jelas akan berpengaruh bunuh diri," jelas Teddy.
Dia mencontohkan angka bunuh diri akan meningkat di sebuah negara, saat terjadi kisruh ekonomi. Namun, angka bunuh diri itu bukan indikator pusat permasalahan.
Jika sering terjadi kasus bunuh diri di suatu daerah semisal Kota Bandung, maka dapat diartikan tingkat kesadaran di masyarakat setempat semakin kurang baik.
Teddy mengungkapkan layanan penanganan usaha bunuh diri sebenarnya harus dimiliki oleh Kota Bandung, Jawa Barat. Penyebabnya adalah kerap kali terdapat usaha percobaan serupa setiap tahunnya.
Berdasarkan data organisasinya, bahkan terdapat kejadian bunh diri secara beruntun pada tahun 2017.