TANTRUM - Penyakit vitiligo merupakan salah satu penyakit kulit tertua di muka bumi selain lepra.
Penyakit ini disebabkan kelainan pigmentasi kulit yaitu hilangnya sel penghasil pigmen (melanosit).
Akibatnya tidak terbentuknya zat warna (pigmen) sehingga kulit pasien akan tampak putih seperti kapur atau susu yang disebut dengan depigmentasi.
Kepala Divisi Dermatologi Anak Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung Reiva Farah Dwiyana bilang, pengobatan vitiligo saat ini sudah memasuki tahap yang menggembirakan.
Tandanya adalah dengan dimulainya uji klinis obat agen biologik yang diharapkan dapat mengatasi kebuntuan terapi vitiligo.
Namun lanjut Reiva, dibutuhkan waktu bertahun-tahun penelitian hingga dapat diterapkan pada manusia.
"Saat ini pengobatan vitiligo yang cukup efektif ialah dengan obat yang dioles, fototerapi serta obat yang diminum sebagai tambahan. Semuanya memberikan hasil yang bervariasi pada tiap-tiap individu, tetapi hingga saat ini pengobatannya belum ada yang sangat memuaskan karena kompleksnya patogenesis penyakit ini," kata Reiva ditulis Selasa, 21 Juni 2022.
Reiva menuturkan paparan penyakit vitiligo tidak memandang usia, jenis kelamin, dan status sosial seseorang.
Dengan semakin banyaknya pasien vitiligo kata Reiva, semakin aware dokter, pasien dan keluarga akan penyakit dan dampak vitiligo, maka mulai tahun 2011 setiap tanggal 25 Juni diperingati sebagai Hari Vitiligo Sedunia, bertepatan dengan hari wafatnya Michael Jackson sebagai ikon vitiligo dunia.
Reiva berharap dengan adanya peringatan ini membuat pasien-keluarga-dokter-paramedis semakin kompak dalam menghadapi vitiligo.
Selain itu, sekaligus sebagai penggalang dana penelitian vitiligo serta berbagai kegiatan yang terkait penyakit yag memapar ke mega bintang Michael Jackson.
"Departemen Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran aktif dalam melakukan penelitian, pengobatan, dan pengabdian kepada masyarakat terkait vitiligo. Topik terakhir yang diteliti saat ini ialah peranan vitamin D dalam pengobatan vitiligo," ujar Reiva.
Oleh karena itu, pembentukan perkumpulan pasien-keluarga vitiligo sangat berperan dalam kemajuan penelitian vitiligo.
Diharapkan dungan penuh ini dapat memberikan kemajuan bagi pengobatan vitiligo. Salah satunya dengan dibentuknya perkumpulan pasien dan keluarga vitiligo di Bandung.
Nama perkumpulan itu adalah 'Viti HOPE' yang merupakan singakatan dari Vitiligo: Happy-Optimist-Pray-Empathy.
Nama itu diambil karena pasien vitiligo harus tetap bahagia dan optimis dengan keadaannya, seraya tetap berdoa dan berempati dengan sesama pasien vitiligo.
"Selain itu, dengan adanya perkumpulan ini, para pasien dan keluarganya dapat saling berbagi, menguatkan, dan memberikan rasa aman dan nyaman, bahwa pasien vitiligo tidak sendiri, mereka tidak dikucilkan atau dianggap aneh. Sehingga dapat hidup lebih bahagia, optimis dan meningkatkan kualitas hidupnya," terang Reiva.