TANTRUM - Pembelian saham GoTo oleh perusahaan BUMN,kini menjadi isu politik di DPR. Politikus DPR meminta adanya panitia kerja untuk mencermati pembelian tersebut.
Di tengah hanganya isu politik tersebut, harga saham GoTo sempat naik 100 persen lebih, dalam periode satu bulan sampai tanggal 14 Juni.
Di saat yang sama nilai perdagangan harian saham GoTo tercatat sangat tinggi, sampai pernah mencapai 1/6 (seperenam) dari total nilai transaksi keseluruhan 750 saham yang diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Pengamat pasar modal mencermati adanya kemungkinan pihak-pihak yang melakukan perdagangan semu pada saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk, atau dikenal dengan istilah “goreng saham”.
Head of research Yuanta Sekuritas Chandra Pasaribu menilai, tidak ada perbaikan fundamental signifikan yang mendasari kenaikan saham GoTo yang begitu besarnya.
"Saat harga GoTo tertekan sampai di bawah Rp 200, lalu naik sampai sempat lewat Rp 400, secara fundamental berubah tidak? Looks like it, kalo kita mau jujur," ujar Chandra dalam keterangan yang tersebar, Selasa (21/6).
Harga saham GoTo menyentuh titik terendahnya di Rp 194 per lembar pada tanggal 13 Mei 2022, atau merosot 43 persen dari harga IPO di Rp 338 per lembar.
Di bulan yang sama BUMN PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk melaporkan adanyakerugian belum terealisasi (unrealized loss) yang besarnya mencapai Rp 881 miliar, dalam laporan keuangan kuartal I 2022, yang disebabkan oleh investasi pada saham GoTo melalui anak perusahaannya PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel).
Pada November 2020, Telkomsel menyuntikkan dana ke Gojek sebesar USD 150 juta atau sekitar Rp 2,1 triliun pada kurs saat itu. Kemudian, pada Mei 2021, operator telekomunikasi ini kembali menanamkan dana investasi sebesar USD 300 juta atau sekitar Rp 4,2 triliun, dan di bulan yang sama Gojek mengumumkan merger dengan Tokopedia. Mereka menamakan diri GoTo, yang kemudian melantai di Bursa Efek Indonesia pada 11 April 2022.
"Harga saham GoTo mulai rebound dari keterpurukan saat isu kerugian BUMN Telkom merebak menjadi isu politik yang panas. Untuk mengurangi tekanan ini, harga saham GoTo harus naik. Ini hanya hasil obesrvasi pribadi saya. Tidak ada bukti untuk mendasari opini saya ini,"ujar Mantan Head of Research Sekuritas John Rahmat,
Chandra menilai, secara jangka Panjang GoTo memiliki prospek bisnis yang bagus.
"Dan seberapa bagusnya tergantung bagaimana manajemen dapat meningkatkan monetasi yang dapat dilakukan dari pendapatan perusahaan yang besar, walaupun sekarang ini perusahaan masih merugi," katanya.