Konten ini yang kemudian mendapat kecaman dari MUI Payakumbuh. MUI Payakumbuh menilai konten tersebut tidak sesuai dengan norma agama dan adat istiadat yang berlaku.
"Jangan latah mengikuti apa yang sedang tren/viral, karena ibu adalah pejabat publik yang akan menjadi contoh/tauladan bagi masyarakat," tutur MUI Payakumbuh mengusulkan.
MUI Payakumbuh juga menyoroti gaya berpakaian Dewi meski yang bersangkutan telah mengenakan jilbab.
"Apalagi model fashion yang Ibu ikuti tersebut adalah tabarruj orang-orang jahiliyah yang dikecam dalam Syari'at (QS al-Ahzab: 33)," sambungnya.
"Jika ibu bermaksud untuk mempromosikan Tenun Balai Panjang, maka tidaklah dengan cara 'murahan' ala anak-anak Citayam itu pakaian Bundo Kanduang di Ranah Minang ini dipromosikan," kata MUI Payakumbuh melanjutkan.
Komentar pedas inilah yang menjadi awal mula sebelum Dewi dilaporkan ke Wali Kota Payakumbuh dan berujung dicopot dari jabatannya.
Karena itulah, lewat akun TikTok-nya, Dewi balik menyindir MUI Payakumbuh yang dinilai telah menghancurkan kariernya.
Unggahan Dewi ini tentu menjadi sorotan banyak pihak. Pro dan kontra tidak bisa dihindari, meski beberapa warganet menyayangkan Dewi yang membuat konten catwalk dengan mengenakan seragam kerja.
"Tidak ada fashion week saja sudah lambat urusannya apalagi kalau ada fashion week ala CFW," kritik warganet.
"Mungkin karena pake seragam kerja," komentar warganet.
"Alhamdulillah kerja ya jangan bnyak neko neko," kata warganet.
"Kesalahannya bikin konten kaya gitu pake seragam. Pengen eksis malah jadi kehilangan jabatan," jelas warganet lain.
"Yaa bukan hanya seragamnya sih menurutku,, tapi disana kental banget islamnyaa... Dan dia sebagai orang ternama disana, malah pake pakaian yang ketat n belahan rok nya sampai memperlihatkan betis.. kan beliau pake hijab... Entar orang-orang pada ngikut dia... Mencontohi hal yang tidak baik...." timpal yang lainnya.