1. Nonparalitik
Tanda-tanda dan gejala dari jenis nonparalitik dapat berlangsung dari 1 hingga 10 hari. Gejala yang muncul mungkin menyerupai flu biasa, dan disertai pula dengan:
- Demam
- Sakit tenggorokan
- Sakit kepala
- Mual dan muntah
- Tubuh kelelahan
- Meningitis
Jenis nonparalitik juga biasa disebut dengan polio abortif.
2. Paralitik
Sekitar 1 persen kasus poliomielitis dapat berkembang menjadi jenis paralitik. Sesuai dengan namanya, jenis paralitik dapat menyebabkan kelumpuhan (paralysis) pada beberapa bagian, yaitu:
- Saraf tulang belakang (spinal)
- Batang otak (bulbar)
- Saraf tulang belakang dan batang otak (bulbospinal)
Gejala awal yang muncul mungkin tidak berbeda jauh dengan gejala nonparalitik. Namun, setelah 1 minggu, gejala yang lebih parah akan timbul. Tanda-tandanya meliputi:
- Kehilangan refleks.
- Nyeri dan kejang otot yang parah.
- Salah satu bagian tubuh terasa lemas dan tidak bertenaga.
- Kelumpuhan tiba-tiba, dapat bersifat sementara atau permanen.
- Bentuk bagian tubuh yang tidak sempurna, terutama di pinggang, pergelangan kaki, dan kaki.
Perhatikan bila anak Anda merasakan gejala di atas.
3. Sindrom pascapolio
Ada kemungkinan virus kembali lagi meski anak sudah disembuhkan. Kondisi ini dapat terjadi sekitar 15 hingga 40 tahun setelah pertama kali terinfeksi virus.
Tanda-tanda dan gejala yang umumnya muncul adalah:
- Lemah otot dan sendi
- Nyeri otot yang semakin memburuk
- Lebih mudah lelah
- Penyusutan otot
- Kesulitan bernapas dan menelan (disfagia)
- Depresi
- Kesulitan mengingat dan berkonsentrasi
Diperkirakan sekitar 25-50% orang yang sembuh dari polio kembali menunjukkan tanda-tanda dan gejala di atas. Jika anak memiliki satu atau lebih gejala dan pertanyaan lain terkait polio, konsultasikan dengan dokter.
Masalah kesehatan ini disebabkan oleh virus polio yang masuk melalui rongga mulut, hidung, dan menyebar ke dalam aliran darah.
Poliomielitis sangat mudah menular, umumnya virus ditemukan di feses yang terinfeksi. Penularan bisa terjadi pada beberapa kondisi, seperti:
- Terpapar batuk dan bersin dari penderita.
- Kurang memiliki akses air bersih.
- Sanitasi yang buruk.
- Minum air yang terkontaminasi virus.
Virus bisa ditularkan melalui batuk atau bersin karena virus tersebut dapat bertahan hidup di dalam tenggorokan dan usus. Namun, kasus kejadiannya lebih jarang ditemukan.
Masalah kesehatan ini dapat terjadi pada hampir semua orang. Penyakit ini tidak mengenal kelompok usia serta golongan ras penderitanya.
Namun, terdapat beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang untuk terkena polio. Berikut adalah faktor-faktor risiko yang dapat memicu seseorang untuk terkena polio:
- Usia anak-anak (0-59 bulan).
- Tidak pernah mendapatkan suntik vaksinasi polio.
- Wanita hamil.
- Penderita HIV.
- Bepergian atau tinggal di daerah dengan virus.
- Berdekatan langsung dengan orang yang terinfeksi virus.
- Memiliki sistem kekebalan tubuh yang buruk.
- Bekerja di laboratorium dan menangani virus tersebut.
- Baru saja melakukan operasi pengangkatan amandel.
- Menderita stres berat.
Perlu diketahui bahwa memiliki salah satu atau beberapa faktor risiko bukan berarti pasti akan terserang penyakit atau kondisi kesehatan tertentu.
Dalam beberapa kasus yang jarang terjadi, seseorang dapat menderita suatu penyakit atau kondisi kesehatan tanpa adanya satu pun faktor risiko.