TANTRUM - Transformasi BUMN diklaim terus berlangsung meski adanya pergantian pemerintahan pada 2024 mendatang. Transformasi juga dilakukan untuk memperbaiki kinerja sejumlah BUMN yang diakuinya masih kurang sehat.
Salah satunya dengan mendorong blueprint atau cetak biru konsolidasi BUMN 2024-2034. Dalam cetak biru tersebut, BUMN yang tadinya berjumlah 108 menjadi hanya 30 BUMN.
Menteri BUMN Erick Thohir mengungkapkan konsolidasi BUMN menargetkan hanya 30 BUMN dalam peta jalan atau roadmap BUMN fase kedua periode 2024 - 2034.
"Kita membuat peta jalan 2024-2034 di mana kalau bisa hanya ada 30 BUMN. Klasternya 12 dan BUMN-nya hanya 30," ujar Erick Thohir.
Saat ini perusahaan BUMN yang ada berjumlah 41 perusahaan. Konsolidasi BUMN hingga menjadi 30 BUMN tersebut bertujuan agar BUMN tidak menjadi menara gading atau semuanya dimonopoli oleh BUMN.
"Kita membangun ekosistem bersama dengan UMKM, pengusaha daerah, dan swasta. Kalau ada apa-apa, BUMN sebagai benteng ekonomi nasional dan bisa melakukan intervensi," ujar Erick Thohir.
Dalam peta jalan tersebut, akan meningkatkan jumlah BUMN sebagai perusahaan global. Hal ini dilakukan dalam rangka mendukung ketahanan ekonomi nasional.
Saat ini laba konsolidasi BUMN dari Rp 124,7 triliun pada 2021 kini mampu mencapai Rp 155 triliun per September 2022.
BUMN akan didorong menjadi ketahanan ekonomi nasional, sehingga BUMN mesti besar, mesti sehat, sehingga bisa membangun ekosistem yang kuat sebagai pertahanan mengintervensi kesenjangan, mendorong ekonomi kerakyatan dan sebagai benteng ekonomi Indonesia.
Baca Juga: Banjir Melanda Kabupaten Sampang, Satu Orang Dikabarkan Tewas