SuaraTasikmalaya.id – Rasa cemburu selalu hadir dalam perasaan setiap orang.
Di mana rasa cemburu muncul karena rasa yang tidak suka jika orang yang kita sayangi lebih memilih orang lain dibandingkan diri kita.
Bahkan, dalam rumah tangga, rasa cemburu terhadap pasangan merupakan fitrah manusia yang bisa datang kapan saja.
Dalam kehidupan Nabi Muhammad SAW, rasa cemburu kerap diperlihatkan oleh istri Nabi, terutama bagi Ummu Aisyah.
Ummu Aisyah memang memiliki rasa cemburu yang lebih besar dibandingkan istri-istri Nabi lainnya.
Lantas, bagaimana sebenarnya cemburu dalam rumah tangga menurut pandangan Islam?
Dikutip dari channel YouTube Khalid Basalamah Official, Ustadz Khalid Basalamah menerangkan jika cemburu merupakan poin penting yang kerap kali membumbui kehidupan suami istri.
Menurut Ustadz Khalid Basalamah, cemburu dalam Islam diperbolehkan. Di mana seorang suami maupun istri cemburu karena mencintai pasangannya ini merupakan hal yang sangat baik.
"Selalu membangun keromantisan dan keharmonisan, dapat mengundang rahmat Allah SWT, pahala yang besar, serta menghidupkan suasana di antara keduanya, apabila cemburu diletakkan pada pelanggaran agama," kata Ustadz Khalid Basalamah.
Ketika satu di antara pasangan melakukan pelanggaran agama yang Allah SWT haramkan, lantas pasangannya jadi cemburu, ini dibenarkan karena memang melanggar agama.
Misal pasangan selingkuh dengan lawan jenis yang lain, seorang istri berbicara dengan bukan muhrimnya dalam urusan tertentu misal transaksi jual beli, namun melakukan hal-hal yang haram, yakni selingkuh.
"Jadi cemburu itu wajib, ini sangat tepat sasaran karena pasangan kita melanggar agama, ini telah digambarkan oleh Nabi Muhammad SAW, beliau tidak marah kecuali ada pelanggaran agama," kata Ustadz Khalid Basalamah.
Akan tetapi rasa cemburu ternyata bisa jadi boomerang, dan bisa menghancurkan rumah tangga jika perasaan tersebut tidak pada tempatnya atau berlebihan.
"Misalnya, suami terlalu perhatian kepada ibu atau bapak mertua, dan anak-anak lalu merasa cemburu, hal ini adalah rasa cemburu yang keliru," terang Ustadz Khalid Basalamah.
Rasa cemburu yang demikian justru akan melahirkan ketidaknyamanan di antara pasangan, bahkan jika dilakukan secara terus-menerus.
"Kadang-kadang cemburu buta bisa menjadi penghancur yang paling berbisa daripada bisanya ular, cemburu yang dibiasakan bukan karena pelanggaran agama seakan bentuk cinta, di situ setan berperan," kata Ustadz Khalid Basalamah.
Sumber pertengkaran lainnya yang bisa membuat masalah semakin besar antara suami istri yaitu diam tidak pada tempatnya.
Oleh karena itu, sangat penting membangun komunikasi secara sehat, tentang hal-hal yang harus dibicarakan dan diketahui kebenarannya. Maka sebaiknya langsung dibahas bersama pasangan.
"Seringkali di dalam rumah tangga hadir permasalahan-permasalahan yang sebenarnya tidak harus ada, tetapi diada-ada, karena setiap kali tersinggung, ada hal yang mengganjal, ada hal yang membebani, kurang disukai maka akan diam, kemudian tiba-tiba cemberut," kata Ustadz Khalid Basalamah.
Tetapi ada diam yang harus dilakukan, misal ada pertengkaran maka satu di antara pasangan tidak berkomentar untuk tidak menambah keributan, maka sikap ini merupakan hal positif dan dibutuhkan.
"Membangun komunikasi sehat sangatlah penting, ada hal mengganjal langsung dibicarakan, ada hal mencurigakan dicek, tentunya dengan adab dan tata krama yang baik melihat situasi dan keadaan memungkinkan atau tidak untuk bertanya, dan jangan gunakan cara diam, seakan tidak suka, namun belum tentu benar," kata Ustadz Khalid Basalamah.(*)