Array

Dua Tahun Lalu, Bumi Hampir Hancur

Ruben Setiawan Suara.Com
Jum'at, 25 Juli 2014 | 21:12 WIB
Dua Tahun Lalu, Bumi Hampir Hancur
Ilustrasi matahari. (Shutterstock)

Suara.com - Dua tahun lalu, kita, manusia yang tinggal di bumi, menjalani aktivitas keseharian tanpa menyadari bahwa planet kita tercinta ini hampir saja dihantam bencana.

Ya, baru-baru ini Badan Antariksa Nasional Amerika Serikat (NASA) mengungkap bahwa pada tanggal 23 Juli 2012, Bumi hampir saja dihantam gelombang Matahari, yang dikenal dengan Coronal Mass Ejection atau Lontaran Massa Korona (CME). Lontaran tersebut merupakan bagian dari badai Matahari terkuat yang terjadi dalam kurun waktu 150 tahun terakhir.

"Jika kita terkena lontaran massa korona tersebut, kita mungkin masih memunguti sisa-sisa (dari kehancuran yang terjadi)," kata Daniel Baker, seorang pakar dari Universitas Colorado.

Kita berhasil menghindari musibah itu karena kebetulan, Matahari berotasi ke arah yang berlawanan dengan Bumi. Jika saja lontaran itu terjadi seminggu sebelumnya, ketika Matahari menghadap Bumi, tentu akan berbeda ceritanya.

"Berdasarkan studi-studi terbaru kami, saya semakin yakin bahwa Bumi dan penghuninya benar-benar beruntung terhindar dari bahaya. Jika saja lontaran itu terjadi seminggu sebelumnya, Bumi tentu sudah ada di jalur api," kata Baker.

Menurut Baker, jika lontaran itu sampai di Bumi, jaringan telekomunikasi, GPS, dan jaringan listrik akan rusak. Dengan matinya jaringan listrik, otomatis suplai air yang bergantung pada pompa-pompa listrik akan terhenti.

Demikian pula dengan rusaknya jaringan komunikasi termasuk internet. Kerusakan itu akan berlangsung lama dan membutuhkan bertahun-tahun untuk diperbaiki.

Menurut studi yang dilakukan Akademi Ilmiah Nasional, kerugian ekonomi global yang ditanggung bisa melebihi 2 triliun Dolar atau 20 kali lebih besar daripada kerugian yang ditimbulkan oleh badai Katrina.

Lalu, apakah kita sudah benar-benar lolos dari bahaya? Belum sepenuhnya. Setidaknya, demikian menurut sebuah makalah yang dibuat oleh fisikawan Pete Riley. Dalam makalah berjudul “On the probability of occurrence of extreme space weather events”, ia memperhitungkan bahwa ada kemungkinan sebesar 12 persen di mana sebuah badai Matahari yang cukup besar akan terjadi sepuluh tahun mendatang.

"Awalnya, saya cukup terkejut bahwa presentase kemungkinannya cukup tinggi, namun statistik yang dihitung tampaknya sudah benar. Ini cukup menyedihkan," kata Riley. (News.com.au)

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Satu Frekuensi Selera Musikmu dengan Pasangan?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA Kelas 12 SMA Soal Matematika dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Bahasa Inggris Kelas 9 SMP dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kamu Beneran Orang Solo Apa Bukan?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pemula atau Suhu, Seberapa Tahu Kamu soal Skincare?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA: Soal Matematika Kelas 6 SD dengan Jawaban dan Pembahasan Lengkap
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Tahu Kamu Soal Transfer Mauro Zijlstra ke Persija Jakarta? Yuk Uji Pengetahuanmu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Fun Fact Nicholas Mjosund, Satu-satunya Pemain Abroad Timnas Indonesia U-17 vs China
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 10 Soal Matematika Materi Aljabar Kelas 9 SMP dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan John Herdman? Pelatih Baru Timnas Indonesia
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Otak Kanan vs Otak Kiri, Kamu Tim Kreatif atau Logis?
Ikuti Kuisnya ➔
×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI