Kepolisian Kota Tokyo, memperkenalkan sebuah satuan elit yang berupa armada pesawat nirawak alias drone, yang dirancang untuk mengejar dan menangkap drone-drone mencurigakan di atas lokasi-lokasi sensitif di ibu kota Jepang itu.
Satuan polisi antihuru-hara akan mengendalikan drone pencegat yang dibekali dengan kamera dan bertugas untuk mengejar drone-drone yang diduga memata-matai gedung-gedung pemerintah serta kediaman pejabat penting di Tokyo. Selain kamera, drone-drone polisi Jepang itu dipersenjatai dengan jala, yang berfungsi untuk menangkap drone-drone liar di kota tersebut.
Pembentukan armada drone ini dirasa perlu setelah sebuah drone yang memiliki kandungan radioaktif mendarat di atap kediaman resmi Perdana Menteri Shinzo Abe pada April lalu. Belakangan polisi mengatakan bahwa kadar radioaktif pada drone itu hanya 1 microsievert sinar gamma per jam, kadar yang belum membahayakan manusia.
"Situasi ini mengkhawatirkan pemerintah Jepang, kantor perdana menteri, dan kami akan mengambil semua langkah yang diperlukan, termasuk penyelidikan yang rinci oleh kepolisian," kata Yoshide Suga, sekretaris kabinet Jepang, ketika itu.
Armada kepolisian diperkuat oleh drone berdiameter satu meter, sementara jala yang digunakan berukuran 2x3 meter. Armada drone itu akan mulai dioperasikan akhir Desember dan akan ditambah lagi pada Februari tahun depan.
Di Jepang drone dilarang untuk terbang di atas lokasi-lokasi sensitif seperti bandar udara, jalanan, dan dilarang terbang di atas ketinggian 150 meter. (The Telegraph)
Satuan polisi antihuru-hara akan mengendalikan drone pencegat yang dibekali dengan kamera dan bertugas untuk mengejar drone-drone yang diduga memata-matai gedung-gedung pemerintah serta kediaman pejabat penting di Tokyo. Selain kamera, drone-drone polisi Jepang itu dipersenjatai dengan jala, yang berfungsi untuk menangkap drone-drone liar di kota tersebut.
Pembentukan armada drone ini dirasa perlu setelah sebuah drone yang memiliki kandungan radioaktif mendarat di atap kediaman resmi Perdana Menteri Shinzo Abe pada April lalu. Belakangan polisi mengatakan bahwa kadar radioaktif pada drone itu hanya 1 microsievert sinar gamma per jam, kadar yang belum membahayakan manusia.
"Situasi ini mengkhawatirkan pemerintah Jepang, kantor perdana menteri, dan kami akan mengambil semua langkah yang diperlukan, termasuk penyelidikan yang rinci oleh kepolisian," kata Yoshide Suga, sekretaris kabinet Jepang, ketika itu.
Armada kepolisian diperkuat oleh drone berdiameter satu meter, sementara jala yang digunakan berukuran 2x3 meter. Armada drone itu akan mulai dioperasikan akhir Desember dan akan ditambah lagi pada Februari tahun depan.
Di Jepang drone dilarang untuk terbang di atas lokasi-lokasi sensitif seperti bandar udara, jalanan, dan dilarang terbang di atas ketinggian 150 meter. (The Telegraph)