Kepolisian Belanda memutuskan untuk mengandalkan burung untuk menghalau pesawat-pesawat nirawak alias drone yang mengancam keselamatan serta fasilitas publik dan menerobos ke ruang-ruang privasi masyarakat.
Burung elang botak, salah satu predator paling ganas di udara, dimanfaatkan oleh Kepolisian Belanda untuk mengatasi drone-drone yang terbang di wilayah-wilayan sensitif dan mengganggu privasi warga.
Untuk mewujudkan rencana ini, polisi Belanda bekerja sama dengan Guard From Above, sebuah perusahaan yang bergerak dalam pelatihan burung elang asal Denmark.
Guard From Above, seperti dikabarkan The Guardian Senin (1/2/2016), menggambarkan kerja sama mereka dengan Kepolisian Belanda sebagai "solusi berteknologi rendah untuk mengatasi masalah teknologi mutakhir".
Perusahaan itu sendiri melatih burung-burung elang untuk tidak saja menjatuhkan drone ilegal, tetapi juga menangkapnya ketika sedang bermanuver di udara. Dalam sebuah video yang diunggah di YouTube, Guard From Above menunjukkan kemampuan elang-elangnya untuk melaksanakan tugas itu dengan sempurna.
Drone sendiri, yang popularitasnya semakin tinggi, kini semakin dilihat sebagai masalah keamanan baru di perkotaan. Di beberapa negara di Eropa drone yang dimainkan oleh para amatir dilaporkan sering mengancam pesawat sipil karena secara tak bertanggung jawab diterbangkan di dekat bandara atau wilayah udara yang digunakan oleh pesawat sipil.
Tak hanya itu, dalam beberapa kasus drone digunakan oleh para pengedar narkotika untuk menyelundupkan obat-obatan ke dalam penjara. Drone berkamera juga diketahui telah digunakan untuk mengintip dan menerobos ke dalam lingkungan perumahan yang bukan termasuk ruang publik.
Beberapa negara, tidak saja Belanda, juga telah berinovasi untuk mengatasi ancaman drone. Di Jepang, polisi menggunakan drone yang dipersenjatai jala untuk menangkap drone-drone ilegal. Sementara di Inggris, sebuah perusahaan berhasil menciptakan sebuah "senjata anti-drone", yang bisa melumpuhkan pesawat nirwak itu memanfaatkan gelombang radio.
Burung elang botak, salah satu predator paling ganas di udara, dimanfaatkan oleh Kepolisian Belanda untuk mengatasi drone-drone yang terbang di wilayah-wilayan sensitif dan mengganggu privasi warga.
Untuk mewujudkan rencana ini, polisi Belanda bekerja sama dengan Guard From Above, sebuah perusahaan yang bergerak dalam pelatihan burung elang asal Denmark.
Guard From Above, seperti dikabarkan The Guardian Senin (1/2/2016), menggambarkan kerja sama mereka dengan Kepolisian Belanda sebagai "solusi berteknologi rendah untuk mengatasi masalah teknologi mutakhir".
Perusahaan itu sendiri melatih burung-burung elang untuk tidak saja menjatuhkan drone ilegal, tetapi juga menangkapnya ketika sedang bermanuver di udara. Dalam sebuah video yang diunggah di YouTube, Guard From Above menunjukkan kemampuan elang-elangnya untuk melaksanakan tugas itu dengan sempurna.
Drone sendiri, yang popularitasnya semakin tinggi, kini semakin dilihat sebagai masalah keamanan baru di perkotaan. Di beberapa negara di Eropa drone yang dimainkan oleh para amatir dilaporkan sering mengancam pesawat sipil karena secara tak bertanggung jawab diterbangkan di dekat bandara atau wilayah udara yang digunakan oleh pesawat sipil.
Tak hanya itu, dalam beberapa kasus drone digunakan oleh para pengedar narkotika untuk menyelundupkan obat-obatan ke dalam penjara. Drone berkamera juga diketahui telah digunakan untuk mengintip dan menerobos ke dalam lingkungan perumahan yang bukan termasuk ruang publik.
Beberapa negara, tidak saja Belanda, juga telah berinovasi untuk mengatasi ancaman drone. Di Jepang, polisi menggunakan drone yang dipersenjatai jala untuk menangkap drone-drone ilegal. Sementara di Inggris, sebuah perusahaan berhasil menciptakan sebuah "senjata anti-drone", yang bisa melumpuhkan pesawat nirwak itu memanfaatkan gelombang radio.