Mengapa Kita Perlu Berlama-lama saat Berhubungan Seks?

Liberty Jemadu
Mengapa Kita Perlu Berlama-lama saat Berhubungan Seks?
Ilustrasi hubungan seksual (Shutterstock).

Penis, menurut Brendan Zietsch, peneliti dari University of Queensland, berbentuk sedemikian rupa sehingga ketika berhubungan seks ia akan mula-mula berusaha menyingkirkan sperma lelaki lain dari dalam vagina.

Suara.com - Jika Anda bukan seorang ilmuwan, setelah hubungan seks yang singkat Anda mungkin bertanya-tanya di ujung tempat tidur, berapa lama biasanya hubungan seks berlangsung?

Seorang ilmuwan mungkin akan merumuskan pertanyaan sama dengan istilah yang lebih abstrak, yaitu: Berapa waktu rata-rata yang diperlukan untuk mendapatkan ejakulasi intravaginal?

Saya memahami bahwa hubungan seks itu lebih dari sekadar upaya memasukkan penis ke dalam vagina sehingga terjadi ejakulasi, tapi hal yang lainnya yang berhubungan dengan seks tidak selalu mudah untuk didefinisikan (berciuman? bergesekan?). Untuk menjaga pembahasan ini tetap sederhana dan spesifik, kita akan berfokus pada waktu ejakulasi.

Mengukur waktu rata-rata untuk berejakulasi bukan hal yang bisa dilakukan secara langsung. Mungkin Anda berpikir Bagaimana jika menanyakan orang-orang berapa lama waktu yang mereka butuhkan untuk ejakulasi?. Setidaknya ada dua masalah utama dalam pendekatan seperti itu. Pertama, orang cenderung bias pada waktu panjang dalam memperkirakan waktu ejakulasi, karena secara sosial kamu diharapkan bisa bertahan sepanjang malam.

Masalah lainnya adalah orang biasanya tidak mengetahui berapa waktu mereka ketika berhubungan seks. Tidak biasanya orang berhubungan badan sambil mengamati jam di sebelah tempat tidur, dan mungkin sulit memperkirakan waktu ketika bercinta tanpa dibantu orang lain.

Apa yang penelitian tunjukkan?

Penelitian terbaik sejauh ini menghitung waktu rata-rata ejakulasi pada 500 pasangan dari seluruh negara yang menghitung waktu bercinta mereka selama empat minggu dengan menggunakan stopwatch.

Memang terdengar aneh, partisipan memencet tombol “mulai” saat terjadi penetrasi dan memencet tombol “berhenti” ketika ejakulasi. Anda mungkin berpikir hal ini akan merusak mood, dan tidak sepenuhnya mencerminkan hal yang natural. Tapi sains jarang sekali sempurna, dan penelitian di atas adalah yang terbaik yang kita temukan sejauh ini.

Jadi apa yang para ilmuwan temukan? Hasil yang paling mengejutkan menunjukkan ada banyak variasi waktu. Waktu rata-rata yang dibutuhkan setiap pasangan (diambil rata-rata selama mereka berhubungan seks) berkisar antara 33 detik sampai 44 menit. Itu berarti selisih 80 kali lipat

Jadi cukup jelas bahwa tidak ada jumlah waktu yang normal untuk mengukur hubungan badan. Meskipun demikian, waktu rata-rata semua pasangan itu adalah 5,4 menit. Ini berarti jika anda berbaris dengan 500 pasangan dari yang memiliki waktu pendek ke panjang, pasangan yang terletak di barisan tengah memiliki waktu rata-rata 5.4 menit ketika mereka melakukannya.

Ada hal lain yang menarik dari penelitian di atas. Sebagai contoh, penggunaan kondom tidak mempengaruhi waktu, begitu juga faktor apakah prianya pernah disunat atau tidak, yang mempertanyakan pemahaman lama bahwa penyunatan berpengaruh pada sensitivitas penis dan hubungan dengan daya tahan seksual.

Negara asal pasangan juga tidak berpengaruh, kecuali jika mereka berasal dari Turki yang waktu hubungan badannya sangat pendek (3,7 menit) dibanding pasangan dari negera lain (Belanda, Spanyol, Inggris dan Amerika). Hal lain yang mengejutkan adalah fakta bahwa semakin tua pasangannya, maka semakin pendek waktu bercintanya, berbeda dengan pemahaman umum (yang mungkin saja dibuat oleh pria yang lebih tua).

Mengapa kita harus lama berhubungan seks?

Sebagai seorang peneliti evolusi, semua pembicaraan mengenai berapa lama hubungan seks bertahan membuat saya bertanya-tanya: Mengapa juga hubungan seksual itu memerlukan waktu? Semua hubungan badan bertujuan untuk memasukkan sperma ke dalam vagina. Lalu buat apa gerakan heboh di tempat tidur? Alih-alih memasukkan dan mengeluarkan penis ratusan kali ketika berhubungan badan, kenapa tidak memasukkannya sekali saja dan setelahnya kita bisa menghabiskan waktu kita minum lemon?

Sebelum Anda menjawab, bahwa hal itu menyenangkan, perlu diingat bahwa proses evolusi tidak peduli tentang hal-hal yang menyenangkan semata-mata; proses evolusi merancang segala sesuatu menjadi menyenangkan hanya karena dia membantu leluhur kita mewariskan gen mereka ke generasi mendatang.

Sebagai contoh, meskipun kita menikmati melahap makanan, kita tidak akan mengunyah makanan selama lima menit hanya karena kita menyukainya. Hal itu akan membuat kegiatan makan menjadi tidak efisien, dan kita berevolusi untuk memahami bahwa mengunyah makanan terlalu lama adalah hal yang menjijikkan.

Mengapa kita bercinta lama adalah sebuah pertanyaan rumit dan tidak ada jawaban jelasnya, tapi petunjuknya mungkin terletak pada bentuk penis itu sendiri. Pada tahun 2003, peneliti menemukan—dengan menggunakan vagina, penis, dan sperma buatan — bahwa ujung kepala penis sebenarnya mengambil sperma yang sebelumnya ada di dalam vagina.

Hal ini menunjukkan bahwa gerakan keluar masuk penis yang berulang-ulang sebenarnya bertujuan untuk menghilangkan sperma pria lain sebelum akhirnya berejakulasi, untuk memastikan bahwa sperma mereka lebih dulu tiba pada telur. Hal ini kemudian menjelaskan mengapa pria merasa sakit ketika mereka mendorong masuk penisnya kembali sehabis berejakulasi, karena artinya gerakan itu berisiko untuk menghilangkan sperma mereka sendiri.

Jadi apa yang perlu dilakukan dengan informasi ini? Saran saya tidak usah terlalu dipikirkan ketika sedang bercinta.

Artikel ini sebelumnya sudah ditayangkan di The Conversation.

The Conversation

Suara.Com

Suara.com adalah portal berita yang
menyajikan informasi terhangat, baik peristiwa politik, bisnis, hukum, entertainment...

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS