Sejarah Panjang nan Merusak Gempa di Laut Maluku

Liberty Jemadu
Sejarah Panjang nan Merusak Gempa di Laut Maluku
Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas BNPB Agus Wibowo mengamati lokasi pusat Gempa Maluku Utara di layar pantauan di kantor BNPB, Jakarta pada Jumat (14/11) (Antara/Prisca Triferna)

Catatan sejarah menunjukkan bahwa kawasan Laut Maluku beberapa kali terjadi gempa kuat dan merusak.

Suara.com - Gempa bumi kuat di Laut Maluku bukan hanya sekali terjadi seperti pada Kamis (14/11/2019) malam namun punya sejarah beberapa kali terjadi menimbulkan kerusakan termasuk tsunami yang mematikan.

"Catatan sejarah menunjukkan bahwa kawasan Laut Maluku beberapa kali terjadi gempa kuat dan merusak," kata Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Daryono di Jakarta, Jumat (15/11/2019).

Daryono mencatat gempa terdahsyat di Laut Maluku terjadi pada 1 April 1936. Episenter Gempa Sangir itu berlokasi di titik yang sama dengan yang terjadi pada pekan ini dengan guncangan mencapai skala intensitas VIII - IX MMI yang merusak ratusan rumah.

Selain itu, Gempa Pulau Siau pada 27 Pebruari 1974 juga memicu longsoran dan kerusakan banyak rumah di berbagai tempat. Terakhir adalah Gempa Sangihe-Talaud pada 22 Oktober 1983, di mana gempa merusak banyak bangunan rumah.

Zona sumber gempa Laut Maluku juga memiliki catatan sejarah tsunami destruktif, seperti tsunami Banggai-Sangihe 1858 yang menyebabkan seluruh kawasan pantai timur Sulawesi, Banggai, dan Sangihe dilanda tsunami.

Lalu tsunami Banggai-Ternate 1859 mengakibatkan banyak rumah di pesisir disapu tsunami, Gempa Kema-Minahasa 1859 juga memicu tsunami setinggi atap rumah-rumah penduduk.

Selain itu juga tercatat tsunami Gorontalo 1871 menerjang di sepanjang pesisir Gorontalo, tsunami Tahuna 1889 menerjang kawasan pesisir Tahuna setinggi 1,5 meter.

Serta tsunami Kepulauan Talaud 1907 menerjang pantai setinggi empat meter dan tsunami Salebabu 1936 menyapu pantai setinggi tiga meter.

Selain sejarah gempa dan tsunami masa lalu, catatan terbaru gempa kuat di Laut Maluku cukup banyak. Sebagian besar di antaranya berpotensi tsunami, seperti yang pernah terjadi pada 1979 dengan magnitudo 7,0.

Pada 1986 gempa bermagnitudo 7,5, 1989 dengan magnitudo 7,1, 2001 magnitudo 7,0, 2007 magnitudo 7,5, pada 2009 magnitudo 7,1, di 2014 magnitudo 7,3 serta dua kali pada 2019 masing-masing magnitudo 7,0 dan magnitudo 7,1 pada Kamis malam kemarin.

"Gambaran kerangka tektonik, aktivitas kegempaan, dan sejarah tsunami di atas kiranya cukup untuk menyimpulkan bahwa kawasan Laut Maluku memang merupakan zona yang sangat rawan gempa dan tsunami," tutup Daryono.

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS