- Ledakan bom di MAN 3 Padang pada 15 Juli 2026 menuntut evaluasi terhadap peran pendampingan pendidikan bagi remaja.
- Pakar pendidikan Arif Rohman mendorong sekolah dan orang tua menyediakan ruang dialog terbuka untuk memantau informasi anak.
- Sinergi antara keluarga dan sekolah krusial agar remaja tidak terpengaruh ideologi radikal dari sumber informasi yang keliru.
Suara.com - Kasus ledakan bom rakitan di MAN 3 Padang menjadi peringatan bahwa pendidikan tidak bisa hanya berfokus pada kurikulum dan capaian akademik.
Pakar Kebijakan Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Arif Rohman menilai sekolah, pemerintah, dan keluarga harus memperkuat pendampingan terhadap anak melalui ruang dialog agar anak tidak mencari jawaban sendiri dari internet maupun lingkungan yang keliru.
"Lembaga pendidikan harus lebih care, lebih waspada, ya, lebih dekat dengan anak untuk melayani anak," kata Arif kepada Suara.com, Rabu (15/7/2026).
Menurut Arif, tantangan pendidikan saat ini semakin kompleks sebab anak memperoleh informasi dengan mudah dari berbagai sumber di luar sekolah.
Media sosial, teman sebaya, hingga berbagai konten digital turut membentuk cara berpikir dan kepribadian anak. Dengan demikian, sekolah bukan lagi satu-satunya tempat mereka belajar.
Ia mengatakan rasa ingin tahu remaja terhadap berbagai isu, termasuk ideologi keagamaan, kekerasan, hingga paham radikal, harus dijawab melalui dialog yang terbuka.
"Tidak hanya guru BK, tidak hanya guru agama, semua guru, semua komponen sekolah itu harus terlibat untuk bagaimana mengajak dialog anak tentang hal-hal yang ingin diketahui anak," tegasnya.
![Suasana di MAN 3 Padang usai ledakan bom rakitan. [Suara.com / B.Rahmat]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/07/14/47028-man-3-padang.jpg)
Selain sekolah, Arif menekankan bahwa keluarga memegang peran yang tidak kalah penting. Orang tua diingatkan agar tidak terlalu sibuk mengejar pekerjaan hingga mengabaikan hubungan personal dengan anak.
Terutama bagi anak yang telah memasuki usia remaja dan membutuhkan teman berdiskusi. Ia menilai minimnya ruang dialog menjadi persoalan yang harus segera dibenahi.
Menurut Arif, dalam praktik pendidikan saat ini masih banyak pihak yang merasa tugasnya selesai setelah menyusun kurikulum, melaksanakan pembelajaran, atau memenuhi target administrasi.
Padahal, anak membutuhkan pendampingan untuk memahami berbagai informasi yang mereka terima setiap hari.
"Sekarang itu kurang komunikasi, orang tua terlalu sibuk dengan pekerjaannya, sekolah sudah merasa sudah benar dengan persiapan pembelajarannya dan nilainya, pemerintah dengan membuat kurikulum itu dianggap sudah selesai," ujarnya.
"Padahal kan dunia sehari-hari anak itu kan penting bagaimana anak itu bergaul, bagaimana anak itu memahami fenomena, menerima informasi dari luar itu kan perlu ada pendampingan, perlu ada dialog," sambungnya.
Arif mendorong sekolah maupun pemerintah menyediakan lebih banyak ruang bagi anak untuk mengekspresikan pendapat dan berpikir kritis.
Dengan adanya forum diskusi, anak dapat menguji pandangan yang dimilikinya melalui perspektif lain sehingga tidak mudah menerima informasi secara mentah.