Review Game Lokapala, MOBA Pertama Buatan Anak Bangsa

Dinar Surya Oktarini, Rezza Dwi Rachmanta

Jum'at, 29 Mei 2020 | 15:11 WIB
Review Game Lokapala, MOBA Pertama Buatan Anak Bangsa
Ilustrasi game Lokapala. (Anantarupa Studios)

Kita juga akan menemukan semacam Gold, Battle Point dan Diamond untuk membeli hero atau atribut lain. Bedanya, Lokapala menyebut Diamond sebagai Citrine.

Pada tampilan awal, kita akan menjumpai 4 menu utama yaitu Preparation (penyesuaian item, mantra atau spell), Mission (penyelesaian Quest), Yantra (semacam Emblem), dan Ksatriya (daftar para hero).

Tampilan awal pada halaman muka Lokalapa membuat kami terpesona. Terdapat efek 3D dari sebuah hero yang sedang memandang dan berayun.

Bahkan ketika kami melihat daftar hero atau Ksatriya, masih ada efek 3D pada setiap hero yang kita mainkan.

Kita bisa memutar bagian tubuh hero sehingga tampilan depan dan belakang Ksatriya dapat terlihat jelas. Efek 3D seperti ini bahkan tidak ada di MOBA sebelah.

Tampilan awal pada game Lokapala. (HiTekno.com)
Tampilan awal pada game Lokapala. (HiTekno.com)

Lokapala mempertahankan jenis hero seperti MOBA pada umumnya. Deretan hero terbagi menjadi beberapa jenis yaitu Tank, Fighter, Marksman, Mage, Assassin dan Support.

Ekspektasi kami cukup tinggi ketika berada tampilan interface di bagian awal. Namun ketika kami terjun ke Swaka, ekspektasi kami menurun cukup tajam.

Proses Match Making berjalan cukup baik, meski durasinya agak lama jika dibandingkan MOBA lainnya. Hal tersebut cukup dimaklumi mengingat Lokapala baru memiliki 100 ribu pemain dan MOBA sebelah sudah mempunyai lebih dari 100 juta pemain.

Meski begitu, terjadi peningkatan pada proses Match Making jika dibandingkan pada masa Open Beta. Ketika kami memainkannya pada Februari, proses Match Making bahkan berjalan lebih dari 4 menit, sebuah waktu yang bisa kami gunakan untuk membuat mi instan.

baca juga
Tampilan arena pertarungan di Lokapala. (HiTekno.com)
Tampilan arena pertarungan di Lokapala. (HiTekno.com)

Arena pertarungan pada Swaka cenderung menghasilkan nuansa yang lebih gelap. Rerumputan berwarna ungu pada masa Open Beta kini diganti dengan tanaman seperti jamur.

Namun itu tidak membuat efek gelap menjadi hilang dan menurut kami tanaman-tanaman ini cukup aneh.

Di luar efek tanaman, Lokapala cukup jenius dalam menghadirkan sensasi "Dota 2" dalam bentuk mobile. Kami melihat semacam Rune yang ada di sungai, meski kami tak bisa mengambilnya.

Terdapat juga fitur Buyback (maksimal 3 kali) yang cukup mirip dengan Dota 2 dan AoV, hanya saja Buyback tidak menggunakan koin.

Kami juga dibuat cukup terkesima dengan atribut Vahana yang memunculkan semacam "awan Kinton" milik Goku untuk "terbang" dan menambah Movement Speed.

Hanya saja dan patut disayangkan, efek skill yang ada ketika bertarung terlihat "kurang greget". Skill yang ada lebih terlihat semacam cahaya yang berseliweran saja.

Dalam hal ini, kami berpendapat bahwa Lokapala harus meningkatkan efek-efek skill-nya pada update mendatang. Konsep Lokapala sebenarnya sudah bagus dan bahkan bisa mengungguli MOBA sebelah.

Namun masih terdapat sedikit lag saat melakukan spam skill pada beberapa hero Melee (tipe hero Fighter dan Tank). Kami menggunakan 2 gadget untuk memainkannya yaitu Redmi 8A Pro (RAM 2 GB, chipset Snapdragon 439) dan Asus Zenfone Max Pro M1 (RAM 4 GB, chipset Snapdragon 636).

Pada HP dengan RAM lebih kecil, kami menemukan cukup banyak lag, terutama ketika sedang War.

Berikut kelebihan dan kekurangan pada game Lokapala:

Kelebihan:

1. Efek 3D pada tampilan pembuka hero.

2. Konsep permainan dan jalan cerita cukup bagus karena mengangkat kebudayaan Indonesia.

3. Terdapat fitur-fitur tambahan seperti Vahana dan Buyback.

Kekurangan:

1. Proses Match Making cenderung agak lama.

2. Masih banyak lag, terutama pada HP dengan RAM lebih kecil dari 4 GB.

3. Efek skill dengan animasi yang kurang tajam.

4. Ketika pertama kali log-in, kami sempat kesulitan dan beberapa kali mengalami crash dan stuck.


Kesimpulan

Lokapala Saga Of Six Realms, game buatan Indonesia. (Anantarupa Studios)
Lokapala Saga Of Six Realms, game buatan Indonesia. (Anantarupa Studios)

Mengingat industri game Indonesia yang masih belum sebagus beberapa negara seperti China, Amerika Serikat atau Eropa, kehadiran game Lokapala mampu menembus batas-batas yang ada dengan animasi tampilan awal cukup baik. Kami memberikan skor 150 poin (dari skor 100 poin) untuk game lokal dengan konsep sangat bagus ini.

Namun, jika melihat persaingan MOBA lainnya dan permasalahan animasi, isu lag, serta efek skill yang belum maksimal, kami memberikan poin 70 dari 100 poin penilaian.

Untuk bisa bersaing dengan MOBA atau mungkin mempertahankan hype MOBA, Lokapala sepertinya harus menembus setidaknya 80 hingga 90 poin dalam penilaiannya.

Namun jika permasalahan pada isu lag, efek skill dioptimalkan dan eror yang ada bisa diminimalisir, kami sangat yakin bahwa Lokapala bisa bersaing dengan game MOBA lainnya buatan dari luar negeri.

Sumber artikel cek disini
Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Pokemon Go Fest Akan Diadakan Secara Online Tahun Ini

Pokemon Go Fest Akan Diadakan Secara Online Tahun Ini

Tekno | Jum'at, 29 Mei 2020 | 11:00 WIB

Main Tanpa Internet, 5 Game Offline Petualangan Ini Bisa Dicoba

Main Tanpa Internet, 5 Game Offline Petualangan Ini Bisa Dicoba

Tekno | Kamis, 28 Mei 2020 | 19:30 WIB

Kecanduan Mobile Legend, Remaja di Kebumen Nekat Curi Gabah Petani

Kecanduan Mobile Legend, Remaja di Kebumen Nekat Curi Gabah Petani

News | Kamis, 28 Mei 2020 | 17:06 WIB

Terkini

6 Cara Membedakan Flek Hitam Biasa dengan Nevus of Hori

6 Cara Membedakan Flek Hitam Biasa dengan Nevus of Hori

Lifestyle | Kamis, 10 September 2026 | 17:15 WIB

AI Digunakan Sehari-hari, Sleman Dorong Kampus dan UMKM Bertransformasi Digital

AI Digunakan Sehari-hari, Sleman Dorong Kampus dan UMKM Bertransformasi Digital

Jogja | Kamis, 10 September 2026 | 17:13 WIB

IHSG Merosot Tajam Balik ke Level 6.500, Ini Biang Keroknya

IHSG Merosot Tajam Balik ke Level 6.500, Ini Biang Keroknya

Bisnis | Kamis, 10 September 2026 | 17:10 WIB

Keracunan MBG Tak Cuma soal Diare, Pakar Ungkap Risiko Gangguan Fungsi Otak

Keracunan MBG Tak Cuma soal Diare, Pakar Ungkap Risiko Gangguan Fungsi Otak

News | Kamis, 10 September 2026 | 17:08 WIB

Berapa Jarak Duduk Ideal yang Aman dari Mata untuk Smart TV 50 Inci 4K?

Berapa Jarak Duduk Ideal yang Aman dari Mata untuk Smart TV 50 Inci 4K?

Lifestyle | Kamis, 10 September 2026 | 17:05 WIB

Pemerintah Didesak Tunda Penggunaan DTSEN untuk Penyaluran Bansos

Pemerintah Didesak Tunda Penggunaan DTSEN untuk Penyaluran Bansos

Bisnis | Kamis, 10 September 2026 | 17:04 WIB

Kritisi Permukiman di Kawasan Rawan dan Ego Sektoral, DPR: Negara Harus Hadir Sebelum Bencana

Kritisi Permukiman di Kawasan Rawan dan Ego Sektoral, DPR: Negara Harus Hadir Sebelum Bencana

News | Kamis, 10 September 2026 | 17:02 WIB

Pendidikan Indonesia: Terlalu Banyak Program, Terlalu Sedikit Kemajuan

Pendidikan Indonesia: Terlalu Banyak Program, Terlalu Sedikit Kemajuan

Your Say | Kamis, 10 September 2026 | 17:00 WIB

Nelayan di Sampang Ditemukan Meninggal dengan Sejumlah Luka, Polisi Buru Terduga Pelaku

Nelayan di Sampang Ditemukan Meninggal dengan Sejumlah Luka, Polisi Buru Terduga Pelaku

Jatim | Kamis, 10 September 2026 | 16:58 WIB

YLBHI Catat 172 Kasus Kriminalisasi, 1.122 Warga Jadi Korban Sepanjang 2019-2025

YLBHI Catat 172 Kasus Kriminalisasi, 1.122 Warga Jadi Korban Sepanjang 2019-2025

News | Kamis, 10 September 2026 | 16:58 WIB

×