4 Alasan Kalung Anti Corona Cuma Bualan

Liberty Jemadu

Senin, 06 Juli 2020 | 17:28 WIB
4 Alasan Kalung Anti Corona Cuma Bualan
Kalung antivirus corona (Dok Kementerian Pertanian)

Misalnya, riset kalung Eucalyptus atau tanaman kayu putih dari lembaga riset Kementerian Pertanian yang mengklaim bisa menjadi “antivirus” untuk melawan virus corona. Memang ada hasil penelitian yang menunjukkan potensi dari senyawa yang terkandung dalam tanaman tersebut.

Namun, perlu dicermati secara lebih teliti bahwa riset tersebut masih dalam tahap penelitian berbasis analisis komputer (in silico). Artinya masih jauh dari penggunaan produk jadi yang layak dan terbukti bermanfaat untuk digunakan untuk manusia. Hasil studi in silico tersebut menunjukkan hanya terdapat satu senyawa yang menunjukkan potensi antivirus di antara ratusan senyawa yang terdapat dalam tanaman genus Eucalyptus.

Masalahnya, lembaga ini sudah memproduksi dan melakukan publikasi melalui media massa, seolah-olah Eucalyptus ini benar-benar dapat menjadi antivirus untuk penanganan COVID-19.

Hal yang lebih berbahaya, overclaim dan terburu-buru tanpa merujuk hasil riset yang tepercaya itu akan menimbulkan penyesatan di tengah masyarakat. Apalagi tingkat literasi kesehatan masyarakat bervariasi dan kurang kritis terhadap pemberitaan.

Dampaknya sungguh berbahaya bila masyarakat malah mengalungkan Eucalyptus dan mengabaikan protokol kesehatan COVID-19, tak memakai masker dan juga tidak jaga jarak fisik karena percaya akan terlindungi dari potensi infeksi. Padahal riset yang ada tidak pernah mengatakan demikian.

Pada awal wabah di Indonesia, publik juga “tersesat” dengan berita bahwa ada bagian tanaman seperti empon-empon (rimpang) yang diklaim memiliki aktivitas antivirus. Bahkan Satuan Tugas COVID-19 DPR turut andil dalam mengimpor dan mengedarkan produk herbal Herbavid19.

Celakanya, pemberitaan semacam ini sudah tersebar luas namun bukti ilmiah yang mendukung klaim-klaim tersebut relatif tidak ada.

Rasionalisasi dalam riset obat herbal dari penelitian sebelumnya

Penemuan senyawa aktif yang bermanfaat menjadi obat sebenarnya bukan merupakan barang baru.

baca juga

Pada dekade 1960-an, kita mengenal vinkristine dan vinblastin yang berhasil diisolasi dari tanaman Catharantus roseus (tapak dara). Hingga saat ini kedua senyawa ini masih menjadi salah satu terapi standar untuk pengobatan kanker.

Di Asia pada periode 1970-an, artemisinin berhasil diisolasi dari Artemisia annua (anuma), sebuah tanaman yang menjadi bagian dari Traditional Chinese Medicine (TCM).

Artemisinin terbukti bermanfaat untuk terapi malaria sehingga saat ini dijadikan salah satu terapi standar malaria. Penemunya, Tu Youyou, mendapatkan Hadiah Nobel bidang kedokteran pada 2015.

Pemerintah Cina butuh waktu sangat lama untuk menggunakan temuan riset trial and error hingga akhirnya menjadikan artemisinin senyawa murni yang diizinkan, tanpa melihat dampak kestabilan obat dan memiliki ketersediayaan hayati.

Laporan riset artemisinin pertama dipublikasikan pada 1979. Lalu, walau masih diproduksi secara terbatas, artemisinin baru mendapatkan status resmi sebagai terapi pilihan untuk malaria sekitar tahun 2006.

Selain itu terdapat beberapa masalah dari pendekatan riset obat berbasis herbal.

Pertama, minimnya literatur ilmiah yang melatarbelakangi penelitian semacam ini. Jika kita tinjau kembali, hampir sebagian besar penelitian herbal memiliki latar belakang kearifan lokal yang sangat sulit dibuktikan relevansi ilmiahnya.

Kedua, selain sangat bersifat subyektif, yang akan menjadi masalah dalam proses pengujian hipotesis ilmiah, riset yang dilakukan awalnya merupakan trial and error karena minimnya bukti yang mendukung. Jika kita meninjau lagi dalam penelitian berbasis herbal dan Traditional Chinese Medicine, berapa banyak dari ratusan atau mungkin ribuan riset semacam itu yang benar-benar berhasil menjadi produk obat dan terapi utama dalam suatu penyakit?

Setelah penemuan artemisinin hampir tidak ada senyawa baru yang berhasil diisolasi dan menjadi standar pengobatan suatu penyakit. Hal ini sedikit banyak membuktikan adanya faktor keberuntungan dalam pendekatan trial and error suatu riset. Tentu saja ada kemungkinan berhasil tapi lebih banyak yang gagal dan tidak menjadi produk obat apa pun.

Permasalahan lebih lanjut, ketiga, pada senyawa hasil sintesis herbal adalah masalah keberlanjutan. Misalnya, pada awal mulanya, dibutuhkan beberapa ton tanaman Catharantus roseus hanya untuk menghasilkan beberapa ons senyawa aktif vinkristin. Ini merupakan proses yang sangat tidak efektif dan sangat berpengaruh pada harga obat tersebut.

Keempat, senyawa-senyawa sintesis murni dari herbal ini cenderung tidak stabil di dalam tubuh karena mudah mengalami kerusakan struktur dan memiliki ketersediayaan hayati dalam tubuh yang rendah sehingga menimbulkan efek terapi pada pasien yang bervariasi.

Oleh sebab itu, saat ini produksi biosintetik (proses pembentukan senyawa kimia tertentu dari jasad organisme hidup) untuk menghasilkan senyawa-senyawa sintetik dan semi-sintetik lebih dipilih dibandingkan harus melakukan sintesis secara utuh dari tanaman.

Selain karena lebih berkelanjutan, senyawa yang dihasilkan lebih stabil dan memiliki ketersediayaan hayati yang baik yang dibutuhkan untuk mencapai efek terapi yang optimal.

Dari Indonesia belum pernah ada

Produk akhir riset herbal tidak pernah ada yang dipertahankan dalam bentuk aslinya (daun, batang, akar), namun menghasilkan senyawa yang murni. Meski demikian, saat senyawa murni yang didapat dari bagian asli tanaman memiliki banyak keterbatasan, hal ini akan mulai ditinggalkan dan beralih kepada proses biosintesis yang lebih spesifik.

Karena itu, riset herbal yang hanya berfokus pada penggunaan bagian tanaman saja menjadi pertanyaan besar. Apa saja senyawa yang memang bermanfaat? Bagaimana ketepatan dosis senyawa aktifnya? Bagaimana interaksi senyawa aktif yang diinginkan dengan senyawa lainnya yang ada dalam herbal tersebut? Bagaimana menyeleksi senyawa tidak bermanfaat dan malah membahayakan kalau satu bagian tanaman dikonsumsi sekaligus? Itu pertanyaan yang tidak mudah dijawab.

Di Indonesia, belum ada satupun produk riset seperti ini yang membuahkan produk obat yang murni. Hal ini menunjukkan bahwa riset obat-obatan tidak semudah yang dibayangkan banyak orang.

Meninjau sedikit dalam kaitannya dengan COVID19, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sempat mengeluarkan pernyataan bahwa penggunaan Traditional Chinese Medicine belum bisa direkomendasikan karena bukti ilmiah yang sedikit.

Selain itu, komunitas peneliti banyak sekali yang mengingatkan bahwa penggunaan Traditional Chinese Medicine atau herbal memiliki landasan ilmiah yang lemah.

Jika kita meninjau lebih lanjut pada situs clinicaltrial.gov, semua Traditional Chinese Medicine dan herbal yang ada masih dalam status uji klinis. Artinya belum ada sama sekali yang terbukti menjadi antivirus, yang sayangnya telah disalahpahami oleh masyarakat awam Indonesia.

Saya mengusulkan para pengambil kebijakan dan para peneliti yang mungkin kurang familiar terkait riset obat-obatan untuk menfokuskan dana riset kepada penelitian yang lebih realistis dan masuk akal.

Penyakit COVID-19 membutuhkan strategi penelitian dan penanganan yang realistis dan cepat, bukan melalui riset trial and error yang membutuhkan waktu hingga puluhan tahun.

Artikel ini sebelumnya tayang di The Conversation.

The Conversation

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Konten Soal Penyakit TBC Dianggap Menyesatkan, Bude Wellness Tuai Kritik Dokter

Konten Soal Penyakit TBC Dianggap Menyesatkan, Bude Wellness Tuai Kritik Dokter

Entertainment | Minggu, 15 Maret 2026 | 15:00 WIB

5 Merek Obat Herbal untuk Nyeri Sendi, Cocok untuk Lansia yang Alami Pengapuran

5 Merek Obat Herbal untuk Nyeri Sendi, Cocok untuk Lansia yang Alami Pengapuran

Lifestyle | Selasa, 06 Januari 2026 | 16:00 WIB

5 Pilihan Obat Batu Ginjal Berbahan Herbal, Aman untuk Kesehatan Ginjal dan Ampuh

5 Pilihan Obat Batu Ginjal Berbahan Herbal, Aman untuk Kesehatan Ginjal dan Ampuh

Health | Rabu, 05 November 2025 | 18:01 WIB

WHO Apresiasi Kemajuan Indonesia dalam Pengembangan Obat Herbal Modern

WHO Apresiasi Kemajuan Indonesia dalam Pengembangan Obat Herbal Modern

Health | Jum'at, 17 Oktober 2025 | 14:20 WIB

5 Obat Herbal Atasi Demam, Aman Dikonsumsi Saat Cuaca Tak Menentu!

5 Obat Herbal Atasi Demam, Aman Dikonsumsi Saat Cuaca Tak Menentu!

Health | Rabu, 20 Agustus 2025 | 07:15 WIB

7 Tanaman Obat untuk Diabetes Tipe 2 yang Terbukti Ampuh Menurut Riset Kesehatan

7 Tanaman Obat untuk Diabetes Tipe 2 yang Terbukti Ampuh Menurut Riset Kesehatan

Health | Kamis, 17 April 2025 | 12:59 WIB

4 Ramuan Warisan Nenek Moyang yang Terbukti Redakan Depresi Ringan

4 Ramuan Warisan Nenek Moyang yang Terbukti Redakan Depresi Ringan

Health | Rabu, 16 April 2025 | 12:47 WIB

7 Ramuan Ajaib dari Alam untuk Atasi Anak Susah Makan

7 Ramuan Ajaib dari Alam untuk Atasi Anak Susah Makan

Health | Rabu, 16 April 2025 | 12:51 WIB

7 Obat Herbal Indonesia yang Terbukti Ampuh Atasi Stres dan Kecemasan

7 Obat Herbal Indonesia yang Terbukti Ampuh Atasi Stres dan Kecemasan

Health | Selasa, 15 April 2025 | 13:42 WIB

7 Obat Herbal untuk Pembesaran Prostat yang Terbukti Efektif

7 Obat Herbal untuk Pembesaran Prostat yang Terbukti Efektif

Health | Selasa, 15 April 2025 | 13:39 WIB

Terkini

Rp17 Triliun Aliran Modal Asing Masuk ke Pinjol RI

Rp17 Triliun Aliran Modal Asing Masuk ke Pinjol RI

Bisnis | Sabtu, 08 Agustus 2026 | 19:05 WIB

Buntut Kasus Komentar Nirempati Pasien BPJS, RS Sardjito Hentikan Praktik dr. Elda Putri Rahard

Buntut Kasus Komentar Nirempati Pasien BPJS, RS Sardjito Hentikan Praktik dr. Elda Putri Rahard

Video | Sabtu, 08 Agustus 2026 | 19:00 WIB

Curi Perhatian Owi/Butet, 16 Atlet Raih Super Tiket Audisi Umum PB Djarum 2026 di Makassar

Curi Perhatian Owi/Butet, 16 Atlet Raih Super Tiket Audisi Umum PB Djarum 2026 di Makassar

Sport | Sabtu, 08 Agustus 2026 | 18:56 WIB

Urgen, Mengubah Keahlian Individual Manajemen Pengetahuan di Setjen DPR Jadi Kekuatan Institusional

Urgen, Mengubah Keahlian Individual Manajemen Pengetahuan di Setjen DPR Jadi Kekuatan Institusional

DPR | Sabtu, 08 Agustus 2026 | 18:54 WIB

1,3 Ton Obat Bius dalam Teh Cina Disita Bea Cukai - TNI dari Kapal Asing di Batam

1,3 Ton Obat Bius dalam Teh Cina Disita Bea Cukai - TNI dari Kapal Asing di Batam

News | Sabtu, 08 Agustus 2026 | 18:46 WIB

Feng Shui Rumah Menghadap ke Arah Selatan, Bawa Hoki dan Bikin Karier Melejit

Feng Shui Rumah Menghadap ke Arah Selatan, Bawa Hoki dan Bikin Karier Melejit

Lifestyle | Sabtu, 08 Agustus 2026 | 18:45 WIB

Harga Alat Medis Empat Kali Lipat, Bisakah Layanan Kesehatan Tetap Murah?

Harga Alat Medis Empat Kali Lipat, Bisakah Layanan Kesehatan Tetap Murah?

Your Say | Sabtu, 08 Agustus 2026 | 18:45 WIB

8 Cara Menghapus File Sampah dan Cache Tersembunyi di HP Android agar Penyimpanan Lega

8 Cara Menghapus File Sampah dan Cache Tersembunyi di HP Android agar Penyimpanan Lega

Tekno | Sabtu, 08 Agustus 2026 | 18:45 WIB

Film Dan Bandung Sapa Penonton Yogyakarta: Angkat Kisah Cinta, Persahabatan, dan Keluarga

Film Dan Bandung Sapa Penonton Yogyakarta: Angkat Kisah Cinta, Persahabatan, dan Keluarga

Jogja | Sabtu, 08 Agustus 2026 | 18:32 WIB

Kolaborasi Motul dan Von Dutch Rayakan Budaya Kustom Lewat Kampanye Lifestyle Otomotif

Kolaborasi Motul dan Von Dutch Rayakan Budaya Kustom Lewat Kampanye Lifestyle Otomotif

Otomotif | Sabtu, 08 Agustus 2026 | 18:25 WIB

×