Bahaya, Es Kutub Utara Diprediksi Hilang pada 2035

Dythia Novianty, Lintang Siltya Utami

Rabu, 12 Agustus 2020 | 15:23 WIB
Bahaya, Es Kutub Utara Diprediksi Hilang pada 2035
Global warming di Arktik, Kutub Utara. [Shutterstock]

Suara.com - Penelitian baru memprediksi es laut Arktik, wilayah di sekitar Kutub Utara, dapat menghilang atau mencair sepenuhnya pada 2035.

Akademisi menggunakan alat pemodelan iklim yang dibuat oleh Met Office untuk mengetahui bagaimana Arktik merespons selama periode pemanasan 127.000 tahun lalu.

Hasil ini kemudian digunakan untuk memprediksi masa depan dan mengungkapkan kemungkinan tidak akan ada es laut di Arktik dalam waktu 15 tahun.

Hal ini disebabkan oleh sinar Matahari musim semi yang kuat dan menciptakan genangan air yang dikenal sebagai "melt ponds", yang menyerap panas dari Matahari dan kemudian menyebabkan pemanasan.

Ilustrasi lapisan es mencair sebagai salah satu pemicu naiknya permukaan laut di Bumi (Shutterstock).
Ilustrasi lapisan es mencair sebagai salah satu pemicu naiknya permukaan laut di Bumi (Shutterstock).

Keberadaan es laut Arktik sangat penting dalam ekosistem dunia dan pencairannya tidak hanya akan menyebabkan naiknya permukaan laut, tetapi juga membuat banyak spesies kehilangan tempat tinggal.

Sebagai contoh, beruang kutub yang sangat bergantung pada es laut Arktik untuk kehidupannya karena hewan ini menggunakan es untuk mengintai dan berburu mangsa.

Sebuah penelitian baru-baru ini menemukan bahwa sebagian besar populasi beruang kutub berisiko punah pada tahun 2100 karena hilangnya es laut. Garis waktu ini kemungkinan akan dipercepat jika prediksi baru tahun 2035 terbukti akurat.

Ilmuwan dari Universitas Cambridge dan British Antarctic Survey bekerja sama dengan Met Office dalam studi terbaru. Para ahli menemukan bahwa selama periode interglasial hangat sekitar 127.000 tahun yang lalu, sinar Matahari musim semi yang intens menciptakan genangan air saat es mencair.

Kolam air yang mencair ini menyebabkan lebih banyak es mencair karena tidak memantulkan sinar Matahari sebanyak es utuh. Sebaliknya, lebih banyak sinar Matahari dan energi diserap oleh air, menghangatkan lebih banyak es, dan berkontribusi pada fenomena yang dikenal sebagai amplifikasi Arktik.

baca juga

Dilansir dari Daily Mail, Rabu (12/8/2020), ini dianggap sebagai faktor utama pencairan es laut lebih dari 100.000 tahun lalu dan jumlah genangan air lelehan yang serupa telah terlihat saat ini dalam citra satelit.

Catatan satelit menunjukkan bahwa es itu menyusut sekitar 15 persen setiap dekade, dengan sekitar setengah dari semua es laut Arktik menghilang sejak tahun 1980-an.

Sementara hampir semua ahli setuju bahwa es laut Arktik akan hilang pada 2050, prediksi sebelumnya terbukti sangat tidak akurat. Beberapa perkiraan secara keliru menyatakan bahwa es laut Arktik pasti sudah lenyap.

"Suhu tinggi di Arktik telah membingungkan para ilmuwan selama beberapa dekade. Mengungkap misteri ini secara teknis dan ilmiah memang menantang. Untuk pertama kalinya, kita bisa mulai melihat bagaimana Arktik menjadi lautan bebas es selama interglasial terakhir," kata Dr Maria Vittoria Guarino, penulis utama gabungan dan Earth System Modeller dari British Antarctic Survey (BAS).

Ilustrasi pemanasan global. [Shutterstock]
Ilustrasi pemanasan global. [Shutterstock]

Kemajuan yang dibuat dalam pemodelan iklim menunjukkan bahwa manusia dapat membuat simulasi lebih akurat dari iklim masa lalu Bumi. Pada akhirnya memberi gambaran lebih besar dalam memprediksi model iklim untuk masa depan.

"Kami tahu Arktik sedang mengalami perubahan signifikan saat Bumi kita menghangat. Dengan memahami apa yang terjadi selama periode hangat terakhir Bumi, kita sedang dalam posisi yang lebih baik untuk memahami apa yang akan terjadi di masa depan," ucap Dr Louise Sime, ketua kelompok Palaeoclimate dan penulis utama bersama di BAS.

Sime menambahkan bahwa prediksi hilangnya lautan es pada 2035, harus membuat semua orang berfokus untuk menciptakan Bumi yang rendah akan karbon secepat mungkin secara manusiawi. Penelitian ini telah dipublikasikan di jurnal ature Climate Change.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Kutub Utara Terancam Kobaran Api akibat Kebocoran Minyak

Kutub Utara Terancam Kobaran Api akibat Kebocoran Minyak

Tekno | Kamis, 04 Juni 2020 | 14:00 WIB

Lapisan Es di Greenland Menipis, Permukaan Air Laut Naik Hingga 40 Persen

Lapisan Es di Greenland Menipis, Permukaan Air Laut Naik Hingga 40 Persen

Lifestyle | Rabu, 20 Mei 2020 | 10:55 WIB

Kutub Utara Medan Magnet Bumi Alami Perpindahan, Apakah Berbahaya?

Kutub Utara Medan Magnet Bumi Alami Perpindahan, Apakah Berbahaya?

Tekno | Jum'at, 15 Mei 2020 | 14:08 WIB

Efek Pemanasan Global? Es Antartika dan Greenland Terus Meleleh

Efek Pemanasan Global? Es Antartika dan Greenland Terus Meleleh

Tekno | Sabtu, 09 Mei 2020 | 05:05 WIB

Lubang Ozon Baru nan Langka Menganga di atas Kutub Utara

Lubang Ozon Baru nan Langka Menganga di atas Kutub Utara

Tekno | Rabu, 08 April 2020 | 17:08 WIB

Waduh! NASA Laporkan Ada Lubang Ozon Baru di Kutub Utara

Waduh! NASA Laporkan Ada Lubang Ozon Baru di Kutub Utara

Tekno | Rabu, 01 April 2020 | 13:30 WIB

Terkini

Resmi Dibuka Plt Gubri, Pacu Jalur 2026 Kuansing Hadirkan Dwibahasa

Resmi Dibuka Plt Gubri, Pacu Jalur 2026 Kuansing Hadirkan Dwibahasa

Riau | Rabu, 19 Agustus 2026 | 13:09 WIB

Masa Kelam Hayden Panettiere, Kehilangan Bahagia di Masa Kecil Hingga Sisi Gelap Hollywood

Masa Kelam Hayden Panettiere, Kehilangan Bahagia di Masa Kecil Hingga Sisi Gelap Hollywood

Entertainment | Rabu, 19 Agustus 2026 | 13:08 WIB

IHSG Masih Tertekan di Sesi I, KIJA dan ISAT Meroket

IHSG Masih Tertekan di Sesi I, KIJA dan ISAT Meroket

Bisnis | Rabu, 19 Agustus 2026 | 13:03 WIB

5 Sabun Cuci Muka Pria di Bawah Rp50 Ribu, Cocok Dipakai Sehari-hari

5 Sabun Cuci Muka Pria di Bawah Rp50 Ribu, Cocok Dipakai Sehari-hari

Lifestyle | Rabu, 19 Agustus 2026 | 13:02 WIB

Makna Lagu Iqro': Pengingat bahwa Manusia Hanya Bagian Kecil dari Semesta

Makna Lagu Iqro': Pengingat bahwa Manusia Hanya Bagian Kecil dari Semesta

Your Say | Rabu, 19 Agustus 2026 | 13:00 WIB

Geger! Janjikan Haji Bersubsidi Rp100 Juta, Warga Solo Ditangkap Usai Korban Gagal Berangkat

Geger! Janjikan Haji Bersubsidi Rp100 Juta, Warga Solo Ditangkap Usai Korban Gagal Berangkat

Jawa Tengah | Rabu, 19 Agustus 2026 | 13:00 WIB

Ada Tangled Hingga Princess Diaries 3, Disney-Pixar Umumkan Proyek Terbaru!

Ada Tangled Hingga Princess Diaries 3, Disney-Pixar Umumkan Proyek Terbaru!

Your Say | Rabu, 19 Agustus 2026 | 12:58 WIB

Suka Minum Kopi? Ini yang Perlu Diperhatikan demi Kesehatan Ginjal

Suka Minum Kopi? Ini yang Perlu Diperhatikan demi Kesehatan Ginjal

Sumbar | Rabu, 19 Agustus 2026 | 12:58 WIB

Bantah Sewenang-wenang, Polri Beberkan Alasan Limpahkan Kasus Febrie Adriansyah ke Kejagung

Bantah Sewenang-wenang, Polri Beberkan Alasan Limpahkan Kasus Febrie Adriansyah ke Kejagung

News | Rabu, 19 Agustus 2026 | 12:57 WIB

4 Amalan Istimewa di Bulan Maulid Nabi untuk Lipatgandakan Pahala

4 Amalan Istimewa di Bulan Maulid Nabi untuk Lipatgandakan Pahala

Lifestyle | Rabu, 19 Agustus 2026 | 12:56 WIB

×